Tahfizhdulido.com – Suasana Lapangan Utama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido tampak khidmat pada Senin, 14 September 2026. Sejak pukul 07.10 WIB, seluruh santriwan, santriwati, dan dewan guru berkumpul mengikuti apel internal dalam rangka pembukaan Ujian Tengah Semester (UTS) Ganjil Tahun Pelajaran 2026/2027.

Apel yang diikuti seluruh unsur pesantren tersebut menjadi momentum untuk mempersiapkan para santri, bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara mental dan spiritual sebelum memasuki rangkaian ujian yang akan berlangsung selama sembilan hari, hingga 23 September 2026.

Dalam amanatnya, Ust. Affan Afifi, S.H.I., mengingatkan bahwa ujian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia mengajak seluruh santri untuk memandang ujian bukan sekadar sebagai rutinitas akademik atau sarana memperoleh nilai, melainkan sebagai proses untuk mengukur kualitas diri.

“Al-imtihanu sunnatul hayah,” ujar Ust. Affan, mengutip ungkapan yang bermakna bahwa ujian merupakan sunnah atau ketetapan dalam kehidupan.

Menurutnya, tidak ada seorang pun yang dapat terbebas dari ujian. Setiap manusia akan menghadapi bentuk ujian yang berbeda sesuai dengan kapasitas dan kehidupannya. Bahkan para nabi dan rasul sebagai manusia pilihan Allah SWT pun mendapatkan ujian dengan tingkat dan bentuk yang tidak ringan.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Mulk ayat 2, bahwa kehidupan dan kematian diciptakan untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.

“Ujian adalah untuk menentukan kualitas,” tegasnya di hadapan para santri.

Ujian sebagai Tolok Ukur Kualitas Diri

Ust. Affan menjelaskan, ujian memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengetahui siapa yang memperoleh nilai tinggi dan siapa yang memperoleh nilai rendah. Ujian merupakan sarana untuk melihat sejauh mana seseorang mampu mempertahankan dan meningkatkan kualitas dirinya ketika menghadapi tantangan.

Ia juga mengingatkan bahwa ujian dapat memperlihatkan siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh dan siapa yang belum mampu menunjukkan keteguhan dalam menghadapi tantangan.

Karena itu, UTS yang diselenggarakan pesantren diharapkan menjadi bagian dari proses pembentukan santri yang memiliki kualitas intelektual sekaligus karakter yang kuat.

“Jangan sampai kita mengira akan dibiarkan begitu saja hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji,” tuturnya, mengutip kandungan QS. Al-Ankabut ayat 2–3.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa hasil ujian tidak hanya tercermin melalui angka yang tertera di lembar jawaban. Lebih dari itu, proses menghadapi ujian merupakan kesempatan untuk membuktikan kesungguhan, kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Tiga Hal yang Diuji di Pesantren

Dalam amanatnya, Ust. Affan menegaskan bahwa ujian di lingkungan pesantren setidaknya mencakup tiga aspek penting, yakni pemahaman, hafalan, dan sikap.

Aspek pertama adalah pemahaman. Para santri diharapkan mampu memahami materi yang telah disampaikan oleh para guru selama proses pembelajaran di kelas. Ujian menjadi sarana untuk melihat sejauh mana materi tersebut benar-benar dipahami, bukan sekadar diingat sesaat.

Aspek kedua adalah hafalan. Sejumlah mata pelajaran di pesantren memang menuntut kemampuan menghafal, seperti Hadis, Tafsir, Mahfuzat, dan Nahwu. Menurut Ust. Affan, materi-materi tersebut tidak dapat dikuasai dengan cara instan.

Kuncinya adalah takrir, atau mengulang-ulang materi secara konsisten.

“Jangan pernah bosan untuk mengulang,” pesannya.

Ia mengibaratkan proses hafalan dengan ibadah salat yang dilakukan berulang-ulang setiap hari. Pengulangan yang konsisten pada akhirnya membuat seseorang terbiasa dan mampu menguasai sesuatu dengan lebih kuat.

Karena itu, para santri didorong untuk memanfaatkan waktu luang selama masa ujian dengan membaca kembali buku pelajaran, melakukan mutalaah, serta bermuzakarah bersama teman.

Namun, dari ketiga aspek tersebut, Ust. Affan memberikan penekanan khusus pada aspek ketiga: sikap.

Kejujuran Adalah Ujian yang Sesungguhnya

Menurut Ust. Affan, seorang santri bisa saja memperoleh hasil baik dalam ujian pemahaman dan hafalan. Namun, keberhasilan tersebut belum lengkap apabila tidak dibarengi sikap yang baik.

Salah satu bentuk ujian sikap yang paling nyata adalah kejujuran.

Ia menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap tindakan menyontek selama ujian. Menurutnya, memperoleh nilai tinggi dengan cara tidak jujur justru menunjukkan kegagalan dalam ujian karakter.

“Kalau nanti ada yang menyontek, ini para pengawas, langsung sobek saja lembar jawabannya. Zero tolerance,” tegasnya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa integritas merupakan bagian penting dari pendidikan pesantren. Ujian tidak boleh menjadi alasan bagi santri untuk menghalalkan segala cara demi memperoleh nilai.

Justru melalui ujian, santri dilatih untuk mampu bertanggung jawab terhadap proses dan hasil yang diperolehnya sendiri.

Ust. Affan juga mengingatkan bahwa tujuan belajar tidak boleh berhenti pada persiapan menghadapi ujian. Sebaliknya, ujian harus menjadi bagian dari proses belajar yang lebih luas.

“Al-imtihanu lit-ta’allumi, wa laisa ta’allumu lil-imtihani,” ungkapnya, yang berarti bahwa ujian adalah bagian dari proses pembelajaran, bukan belajar semata-mata untuk menghadapi ujian.

Belajar dengan Metode yang Sesuai

Menghadapi UTS, para santri juga diminta mengenali metode belajar yang paling sesuai dengan dirinya masing-masing.

Menurut Ust. Affan, setiap santri memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah memahami materi ketika belajar sendiri, ada yang lebih efektif ketika berdiskusi bersama teman, dan ada pula yang lebih mudah menghafal dengan membaca atau mengucapkan materi secara lantang.

Karena itu, santri tidak perlu membandingkan metode belajarnya dengan orang lain.

“Ketahui potensi yang ada dalam diri kalian. Setiap orang pasti berbeda,” pesannya.

Yang terpenting, lanjutnya, adalah kesungguhan dan konsistensi. Kesulitan dalam memahami atau menghafal materi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai ketidakmampuan. Sering kali, persoalan sebenarnya terletak pada kurangnya kemauan untuk mengulang dan berlatih.

Ia mendorong para santri untuk mengurangi aktivitas yang tidak berkaitan dengan pembelajaran selama masa ujian dan mulai meningkatkan intensitas belajar.

“Sekarang waktunya untuk belajar. Kurangi bercandanya,” pesannya kepada para santri.

Disiplin Ujian Bagian dari Pendidikan Karakter

Selain pemahaman dan hafalan, kedisiplinan selama ujian juga menjadi bagian dari penilaian sikap. Ust. Affan meminta seluruh santri memahami dan menaati tata tertib ujian yang telah disampaikan oleh panitia.

Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan bukan sekadar persoalan administratif, tetapi merupakan bagian dari proses pendidikan karakter.

Mulai dari ketepatan mengikuti ketentuan ujian hingga menjaga perlengkapan dan penampilan, seluruhnya menjadi bagian dari latihan kedisiplinan.

Ia juga mengingatkan para santri mengenai penggunaan peci selama kegiatan ujian sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan pesantren. Hal tersebut diharapkan tidak berhenti pada sekadar membawa atau mengenakan atribut, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran untuk menaati aturan dengan baik.

Pada akhirnya, seluruh aturan yang diterapkan selama ujian memiliki tujuan yang sama: membentuk santri agar mampu bertanggung jawab, disiplin, dan memiliki integritas.

Sembilan Hari Menempuh Ujian

Rangkaian Ujian Tengah Semester Ganjil di Pesantren Modern Daarul Uluum Lido dijadwalkan berlangsung selama sembilan hari, mulai 14 hingga 23 September 2026.

Ust. Affan mengajak seluruh santri untuk menjadikan sembilan hari tersebut sebagai kesempatan untuk memberikan kemampuan terbaik. Ia berharap para santri tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga membawa pulang pelajaran tentang kedisiplinan, manajemen waktu, pengendalian emosi, kesabaran, dan kejujuran.

Sebab, menurutnya, manfaat dari proses pendidikan yang dijalani hari ini mungkin baru benar-benar terasa beberapa tahun mendatang.

“Lima tahun, sepuluh tahun ke depan, akan terasa,” ujarnya.

Di akhir amanat, Ust. Affan menyampaikan doa dan harapan agar seluruh santri diberikan kemudahan dalam menjalani ujian serta mampu memperoleh hasil terbaik.

Ia juga mengingatkan bahwa rangkaian ujian ini bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan salah satu bagian dari perjalanan panjang pembentukan karakter dan intelektualitas santri.

Setelah seluruh rangkaian ujian selesai, pesantren dijadwalkan menutup kegiatan tersebut pada 23 September 2026. Selanjutnya, pada 24 September 2026, keluarga besar Pesantren Modern Daarul Uluum Lido akan menyambut kehadiran guru yang disebut dalam amanat apel, Maulana Syaikh Mustafa Na’imah.

Apel pagi itu pun ditutup dengan ajakan untuk bersama-sama membuka dan mengawali UTS dengan membaca Ummul Kitab serta memanjatkan niat dan doa.

Bagi para santri Daarul Uluum Lido, ujian selama sembilan hari ke depan bukan hanya tentang lembar soal, jawaban, dan angka di atas kertas. Lebih dari itu, UTS menjadi ruang untuk membuktikan tiga hal penting: seberapa dalam memahami ilmu, seberapa kuat menguasai hafalan, dan seberapa teguh menjaga sikap.

Sebab, nilai akademik dapat menunjukkan hasil belajar, tetapi kejujuran, kedisiplinan, dan keteguhan sikaplah yang menunjukkan kualitas seorang santri.