Tahfizhdulido.com – Ujian bukan sekadar rangkaian kegiatan akademik yang diukur melalui soal, lembar jawaban, dan hasil penilaian. Di balik pelaksanaan ujian, terdapat tanggung jawab, kedisiplinan, ketelitian, serta ketulusan orang-orang yang memastikan seluruh proses berjalan dengan baik.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok yang disampaikan Ust. Asep Sugandi, S.Pd. saat mengisi Apel Ujian di Lapangan Putra, Senin (21/9/2026). Apel yang berlangsung pukul 07.00–07.15 WIB itu diikuti oleh Guru Pengabdian Zythera dan Guru Pengawas Senior sebagai bagian dari kesiapan pelaksanaan ujian di lingkungan pesantren.

Alih-alih hanya memberikan instruksi teknis kepada para pengawas, Ust. Asep membuka penyampaiannya dengan suasana ringan. Ia mengajak peserta apel mengingat kembali gambaran generasi masa lalu melalui kisah populer Siti Nurbaya. Dengan gaya humor, ia membandingkan pola pikir generasi terdahulu dengan generasi sekarang.

Menurutnya, generasi masa lalu sering digambarkan lebih patuh terhadap keputusan orang tua. Ketika orang tua memberikan sebuah keputusan, anak cenderung menerimanya tanpa banyak mempertanyakan. Sementara itu, generasi sekarang memiliki kecenderungan berbeda. Mereka lebih banyak bertanya, mempertimbangkan, dan menganalisis sebelum mengambil keputusan.

“Generasi sekarang harus kritis. Kalau ada perintah, pikirkan dulu,” ujarnya.

Namun, sikap kritis yang dimaksud bukanlah sikap membangkang terhadap aturan. Justru, menurut Ust. Asep, kemampuan berpikir kritis diperlukan agar seseorang mampu memahami alasan di balik sebuah perintah dan menjalankannya dengan kesadaran.

Ia kemudian menggunakan analogi teknologi komputer untuk menggambarkan perbedaan cara berpikir manusia. Dengan bahasa sederhana dan diselingi humor, ia mengibaratkan seseorang yang lambat berpikir seperti komputer dengan prosesor lama yang membutuhkan waktu untuk melakukan loading. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa berpikir dan menganalisis dapat merespons sesuatu dengan lebih cepat dan tepat.

Pesan tersebut menjadi relevan dalam pelaksanaan ujian. Para pengawas tidak cukup hanya hadir secara fisik dan menjalankan rutinitas. Mereka dituntut memiliki kesadaran terhadap tugas, memahami tanggung jawab, serta mampu mengambil sikap yang tepat selama menjalankan amanah.

Ujian Juga Membutuhkan “Seni”

Dalam penyampaiannya, Ust. Asep juga mengangkat konsep seni dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, berkembangnya metode dan gaya dalam berbagai aktivitas, termasuk membaca Al-Qur’an, menunjukkan bahwa manusia membutuhkan cara yang membuat sebuah aktivitas dapat dijalankan dengan nyaman, baik, dan penuh penghayatan.

“Kalau manusia tidak punya seni, hatinya akan gersang,” tuturnya.

Bagi para pengawas, seni dalam menjalankan tugas dapat diwujudkan melalui cara berinteraksi, ketelitian, ketegasan, sekaligus kemampuan menciptakan suasana ujian yang tertib tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.

Pelaksanaan ujian di pesantren sendiri telah dilengkapi dengan berbagai perangkat pendukung, seperti denah tempat duduk, penggunaan kartu identitas, serta pembagian tugas pengawas. Menurut Ust. Asep, berbagai perangkat tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya membangun sistem ujian yang tertib dan profesional.

Namun, di balik semua perangkat teknis itu, terdapat satu hal yang tidak kalah penting: niat.

Menguji Diri Sebelum Mengawasi Orang Lain

Memasuki bagian utama tausiyahnya, Ust. Asep mengajak para pengawas untuk melakukan muhasabah atau evaluasi terhadap diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa setiap orang perlu bertanya kepada dirinya: untuk apa ia menjalankan tugas tersebut?

Ia mengutip prinsip introspeksi diri sebelum seseorang mempertanggungjawabkan amalnya. Dalam konteks tugas sebagai pengawas, pertanyaan tersebut dapat diarahkan pada hal sederhana tetapi mendasar: apakah tugas yang dilakukan hanya sebatas rutinitas, kewajiban administratif, atau benar-benar diniatkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah?

Menurutnya, seseorang dapat saja datang tepat waktu karena takut dicatat. Seseorang juga dapat menjalankan tugas karena takut mendapatkan teguran. Namun, ada tingkatan yang lebih tinggi ketika seseorang melaksanakan amanah bukan karena pengawasan manusia, melainkan karena kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan.

“Kalau bisa, setiap napas kita niatnya lillahi ta‘ala,” pesannya.

Niat, lanjutnya, menjadi fondasi yang menentukan nilai sebuah pekerjaan. Tugas yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda tergantung pada motivasi yang melandasinya. Datang ke tempat tugas karena kewajiban tentu berbeda dengan datang dengan kesadaran bahwa pekerjaan tersebut merupakan bagian dari perjuangan dan pengabdian.

Dari Rutinitas Menjadi Pengabdian

Ust. Asep kemudian mengisahkan pengalaman dan nasihat yang pernah ia terima dari almarhum Kiai Ahmad Dimyati. Salah satu pesan yang menurutnya terus melekat adalah pentingnya melandasi perjuangan dengan niat lillahi ta‘ala.

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Ada kalanya seseorang menghadapi keterbatasan, kesulitan, bahkan situasi yang tidak sesuai dengan harapan. Dalam keadaan seperti itu, niat menjadi salah satu kekuatan yang membuat seseorang tetap bertahan.

Karena itu, tugas sebagai pengawas ujian tidak semestinya berhenti pada aktivitas hadir, mengawasi peserta, mencatat pelanggaran, atau menyelesaikan administrasi. Lebih jauh, tugas tersebut dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter dan pengabdian kepada pesantren.

Ketika niat telah diluruskan, menurut Ust. Asep, berbagai konsekuensi positif akan mengikuti. Seseorang akan lebih bertanggung jawab, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan tidak bergantung sepenuhnya pada pengawasan manusia.

“Kalau niatnya lillahi ta‘ala, tidak dikontrol pun akan berjalan dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.

Menutup amanatnya, Ust. Asep mengajak seluruh pengawas untuk menjadikan pelaksanaan ujian sebagai momentum memperbaiki kualitas diri. Ia menekankan bahwa perjuangan membutuhkan niat yang benar sekaligus usaha yang sungguh-sungguh.

Ujian, dengan demikian, bukan hanya menjadi ruang untuk mengukur kemampuan peserta didik. Ia juga menjadi ruang bagi para pendidik dan pengawas untuk menguji kembali integritas diri: apakah amanah dijalankan karena sekadar kewajiban, karena pengawasan manusia, atau karena kesadaran untuk mengabdi kepada Allah.

Di situlah ujian menemukan makna yang lebih luas. Sebab, sebelum mengawasi peserta didik, setiap pengawas pada hakikatnya sedang diajak untuk mengawasi dirinya sendiri..