Tahfizhdulido.com – Di tengah dinamika pendidikan modern yang semakin menekankan capaian akademik dan angka-angka keberhasilan, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: ruh pendidikan itu sendiri. Pesan penting inilah yang mengemuka dalam Apel Internal Pembukaan Ujian Tahriri Guru TMI dan MTA yang digelar pada Senin, 8 Juni 2026 di Aula Siti Hajar.

Dalam kesempatan tersebut, Khadimul Ma’had, Kyai Muhammad Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., menyampaikan sebuah pesan yang sederhana namun mendasar: mengawas ujian bukan sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan bagian integral dari proses mendidik.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat penting di tengah kecenderungan sebagian orang yang memandang pengawasan ujian hanya sebagai kewajiban teknis. Padahal dalam perspektif pendidikan pesantren, pengawasan merupakan manifestasi nyata dari kepedulian seorang guru terhadap pembentukan karakter santri.

“Tidak mengawasi berarti tidak peduli. Tidak mengawasi berarti membiarkan,” demikian kira-kira pesan yang ingin ditegaskan.

Karena itu, seorang pengawas bukan sekadar penjaga ruang ujian. Ia adalah pendidik yang sedang mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas melalui keteladanannya. Cara seorang guru duduk, berbicara, bersikap, hingga keseriusannya dalam menjalankan amanah pengawasan akan menjadi pelajaran tersendiri bagi para santri.

Mengukur Tiga Dimensi Pendidikan

Dalam pemaparannya, Kyai Yazid menjelaskan bahwa proses pendidikan sejatinya mengukur tiga aspek penting dalam diri peserta didik.

Pertama adalah syafawiyah, yakni kemampuan lisan. Kemampuan berbicara, berdialog, menjawab pertanyaan, menyampaikan gagasan, hingga berargumentasi menjadi indikator penting dalam dunia akademik. Oleh sebab itu, ujian syafawi yang telah dilaksanakan sebelumnya menjadi sarana untuk mengukur kemampuan tersebut.

Kedua adalah amaliyah, yaitu kemampuan menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata. Sebab ilmu tidak cukup hanya dipahami dan dihafal, tetapi juga harus diwujudkan dalam perilaku dan tindakan sehari-hari.

Ketiga adalah tahririyah, yakni kemampuan menulis. Inilah aspek yang sedang diuji melalui pelaksanaan ujian tahriri.

Namun menariknya, ujian tahriri tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menuliskan jawaban di atas kertas. Lebih jauh dari itu, ujian ini sebenarnya mengukur sejauh mana santri memiliki budaya membaca.

Tulisan tidak akan lahir tanpa bacaan. Kemampuan menulis yang baik selalu berangkat dari kebiasaan membaca yang kuat. Karena itu, ketika seorang santri mampu menjawab soal secara tertulis dengan baik, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya keterampilan menulisnya, tetapi juga kedalaman pemahamannya terhadap materi yang telah dipelajari.

Di sinilah ujian tahriri menemukan makna yang lebih substansial: mengukur kualitas interaksi santri dengan ilmu pengetahuan.

Krisis Membaca di Tengah Budaya Instan

Salah satu kritik menarik yang disampaikan dalam apel tersebut adalah mengenai budaya membaca yang semakin melemah.

Kyai Yazid mengisahkan pengalamannya mendengar cerita tentang sistem pendidikan di universitas-universitas kelas dunia. Di sana, mahasiswa tidak dimanjakan dengan ceramah panjang dari dosen. Sebaliknya, mereka dituntut membaca puluhan buku dalam waktu singkat.

Proses belajar bukan berpusat pada apa yang disampaikan guru, melainkan pada apa yang dibaca dan dieksplorasi oleh peserta didik.

Tradisi ini sejatinya juga diwariskan oleh para ulama dan guru pesantren terdahulu. Seorang guru tidak selalu memberikan penjelasan panjang. Terkadang ia hanya memberikan arahan sederhana: baca buku ini, pahami, lalu datang kembali untuk berdiskusi.

Budaya membaca menjadi fondasi utama pendidikan.

Karena itulah, ujian tahriri sesungguhnya adalah upaya untuk memaksa santri kembali akrab dengan buku. Sebab dunia pendidikan pada hakikatnya adalah dunia membaca. Ketika budaya membaca melemah, maka kemampuan berpikir kritis, menulis, dan memahami ilmu pun ikut menurun

Guru yang Disukai Belum Tentu Guru yang Mendidik

Dalam suasana yang penuh refleksi, Kyai Yazid juga menyampaikan kritik terhadap cara pandang yang sering keliru dalam memaknai sosok guru.

Menurutnya, guru terbaik bukanlah guru yang paling ditakuti. Namun guru terbaik juga bukan yang paling disukai oleh santri.

Guru terbaik adalah guru yang dikenang karena kualitas pengajarannya, kedisiplinannya, dan kesungguhannya dalam mendidik.

Hari ini, tidak sedikit guru yang lebih khawatir kehilangan popularitas dibanding kehilangan wibawa pendidikan. Akibatnya, proses pembelajaran terkadang lebih banyak diisi cerita, candaan, atau hiburan daripada transfer ilmu yang serius.

Padahal pendidikan tidak selalu harus terasa nyaman. Ada saatnya santri perlu ditegur, dikoreksi, bahkan didisiplinkan. Selama dilakukan dengan niat mendidik, ketegasan bukanlah bentuk kekerasan, melainkan wujud kasih sayang yang bertanggung jawab.

Kesalahan santri harus diperbaiki. Kelemahan mereka harus diluruskan. Sebab tujuan pendidikan bukan membuat anak merasa nyaman setiap saat, tetapi membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Jangan Kehilangan Jati Diri Pesantren

Bagian paling kritis dari sambutan tersebut adalah refleksi tentang arah pendidikan pesantren di era modern.

Saat ini banyak lembaga pendidikan berlomba menawarkan berbagai janji. Ada yang menjanjikan kampus ternama, pekerjaan bergengsi, hingga masa depan yang serba terjamin.

Tidak ada yang salah dengan itu. Namun persoalannya muncul ketika seluruh orientasi pendidikan hanya berpusat pada transaksi duniawi semata.

Pesantren memiliki identitas yang berbeda. Sejak awal, pesantren tidak dibangun hanya untuk mencetak lulusan yang siap bekerja, tetapi juga melahirkan manusia yang siap berjuang, berdakwah, dan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Karena itu, pesantren tidak boleh kehilangan jati dirinya hanya karena mengikuti tren pemasaran pendidikan.

Branding memang penting. Prestasi akademik juga penting. Namun yang lebih penting adalah menjaga ruh dan karakter dasar pendidikan pesantren itu sendiri.

Pesantren harus tetap melahirkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu, kekuatan moral, semangat dakwah, dan keberanian memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.

Mengawasi Ujian, Menjaga Peradaban

Pada akhirnya, apel pembukaan ujian ini mengajarkan satu hal yang sering dianggap sepele.

Mengawasi ujian bukan sekadar menjaga agar santri tidak menyontek. Mengawasi ujian adalah menjaga proses pendidikan. Menjaga kejujuran. Menjaga disiplin. Menjaga keteladanan.

Di balik lembar soal dan ruang ujian yang tampak sederhana, sesungguhnya sedang berlangsung proses pembentukan karakter yang sangat menentukan masa depan santri.

Karena itu, setiap guru yang hadir di ruang ujian sejatinya tidak hanya sedang mengawasi peserta didik. Ia sedang menjaga ruh pendidikan itu sendiri.

Dan ketika ruh itu tetap hidup, maka pesantren akan terus melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas dalam menjawab soal, tetapi juga tangguh dalam menghadapi kehidupan.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag