Tahfizhdulido.com – Rangkaian kegiatan T-Games X dan Pesta Rakyat Tahun 2026 resmi berakhir pada Jumat (21/8/2026) malam. Bertempat di Lapangan Utama Putri Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, kegiatan penutupan berlangsung meriah sekaligus sarat pesan pendidikan bagi seluruh santri.

Penutupan yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan pesantren, dewan guru, musyrif dan musyrifah, panitia, serta seluruh santri putra dan putri. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., menyampaikan irsyadat sekaligus sambutan penutupan T-Games X.

Di hadapan para santri, ia menegaskan bahwa T-Games bukan sekadar ajang perlombaan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, seluruh rangkaian kegiatan merupakan ruang pembelajaran untuk membentuk karakter, memperkuat persahabatan, menumbuhkan kedisiplinan, serta melatih kemampuan santri untuk bekerja sama dan memberikan yang terbaik.

“Semua ini merupakan bagian dari perjuangan dan juga kebersamaan,” ujarnya dalam sambutan.

Semangat Kompetisi Tidak Berhenti di Lapangan

T-Games X tahun ini mengusung semangat “United We Stand, Stronger Foundation”. Tema tersebut menjadi pijakan untuk membangun kesadaran bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya lahir dari kemampuan individu, tetapi juga dari persatuan, solidaritas, dan kemampuan untuk saling menguatkan.

Menurut Dr. Tubagus, semangat yang ditunjukkan para santri selama pertandingan seharusnya tidak berhenti ketika kompetisi berakhir. Energi, kedisiplinan, keberanian, dan kerja keras yang terlihat di arena perlombaan perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari di pesantren.

“Kalau semangat itu tetap kalian jaga setelah kegiatan ini berakhir, bukan hanya di lapangan, tetapi juga di kelas, di firqah atau halaqah, di pojok-pojok tempat kalian menghafal dan tadarus Al-Qur’an, tentunya akan sangat luar biasa,” pesannya.

Ia mengajak para santri untuk melihat T-Games sebagai bagian dari proses pendidikan yang lebih luas. Bersaing secara sehat di lapangan harus dilanjutkan dengan kesungguhan dalam belajar, meningkatkan hafalan, memperbanyak tadarus, serta memperbaiki kualitas ibadah dan kedisiplinan.

Dengan demikian, kemenangan dalam T-Games tidak berhenti pada perolehan medali atau penghargaan. Nilai terpenting justru terletak pada karakter yang terbentuk selama proses mengikuti kegiatan.

Menang Bukan Satu-Satunya Ukuran Keberhasilan

Pada kesempatan tersebut, Dr. Tubagus turut menyampaikan ucapan selamat kepada para santri yang berhasil meraih juara dalam berbagai cabang perlombaan. Namun, ia juga memberikan pesan khusus kepada mereka yang belum mendapatkan gelar juara agar tidak berkecil hati.

Menurutnya, seseorang tetap dapat disebut sebagai pemenang ketika berani tampil, berjuang, dan memberikan kemampuan terbaiknya.

“Kemenangan bukan sekadar keberhasilan melampiaskan ego kalian. Kemenangan juga berarti menumbuhkan kedisiplinan, melatih kerja sama, dan berani tampil memberikan yang terbaik,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa proses perlombaan tidak selalu berjalan mudah. Ada peserta yang mengalami kelelahan, cedera, sakit, bahkan harus menghadapi berbagai keterbatasan selama mengikuti pertandingan. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari pendidikan.

Sebab, seseorang tidak akan memahami arti ketangguhan tanpa pernah merasakan kegagalan, kelelahan, maupun rasa sakit. Dari pengalaman tersebut, santri belajar mengevaluasi diri, bangkit, dan mencoba kembali.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas. Lapangan, organisasi, perlombaan, halaqah, hingga berbagai aktivitas keseharian merupakan ruang belajar yang membentuk kepribadian santri.

Pesantren Dibangun oleh Integritas Guru dan Santri

Dalam sambutannya, Dr. Tubagus juga mengajak para santri memahami bahwa kemajuan pesantren tidak lahir dari kerja satu pihak. Pesantren menjadi besar karena adanya sinergi antara pimpinan, guru, musyrif, musyrifah, dan santri.

Ia menekankan pentingnya integritas dan dedikasi seluruh unsur pesantren dalam menjalankan amanah pendidikan.

Menurutnya, menjadi seorang pendidik berarti siap mengambil tanggung jawab. Ketika santri berhasil, keberhasilan tersebut menjadi kebahagiaan bersama. Namun, ketika terjadi persoalan, guru dan pengasuh juga harus siap mengambil tanggung jawab dan mencari solusi.

“Kenapa harus seperti itu? Itulah menjadi pemimpin. Kita harus sadar bahwa ketika sesuatu yang kita lakukan benar, itu bukan semata-mata karena hebatnya kita. Tetapi ketika salah, berarti kita harus berani mengakui bahwa kita salah dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi penting dalam penutupan T-Games X. Kegiatan yang semula tampak sebagai kompetisi antarkelompok pada akhirnya diarahkan menjadi proses pembelajaran kepemimpinan dan tanggung jawab.

Apresiasi untuk Panitia dan Seluruh Unsur Pesantren

Dr. Tubagus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja di balik suksesnya pelaksanaan T-Games X. Ia mengucapkan terima kasih kepada jajaran pengurus, musyrif dan musyrifah, bagian pengasuhan, serta seluruh panitia yang telah mempersiapkan dan menjalankan kegiatan.

Menurutnya, keberhasilan sebuah kegiatan besar tidak hanya terlihat dari kemeriahan acara, tetapi juga dari kemampuan seluruh unsur untuk bekerja sama dan beradaptasi dengan berbagai kondisi di lapangan.

Ia menilai kekompakan tersebut menjadi modal penting bagi pesantren dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan besar di masa mendatang.

“Sekali lagi, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah terlibat. Semoga semuanya menjadi amal ibadah,” ungkapnya.

Dari T-Games Menuju Pesantren yang Mandiri

Bagian lain yang menjadi sorotan dalam sambutan tersebut adalah visi jangka panjang Pesantren Daarul ‘Uluum Lido. Dr. Tubagus mendorong para santri agar tidak hanya bercita-cita menjadi individu yang sukses, tetapi juga menjadi generasi yang mampu membangun dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia mengungkapkan pentingnya membangun pesantren yang memiliki kemandirian, baik dalam bidang pangan maupun ekonomi. Visi tersebut, menurutnya, harus dipersiapkan melalui proses pendidikan yang berlangsung sejak santri berada di pesantren.

Pendidikan pesantren tidak cukup hanya membentuk kemampuan akademik dan hafalan Al-Qur’an. Santri juga perlu memiliki keterampilan hidup, kemampuan berpikir, kemandirian, serta keberanian untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

Ia mencontohkan berbagai keterampilan sederhana yang sebenarnya memiliki nilai pendidikan besar, seperti kemampuan mengurus diri sendiri, menjaga kebersihan, mengatur kebutuhan pribadi, hingga belajar memahami kehidupan secara mandiri.

“Santri tidak hanya menghafal Al-Qur’an. Di sini kalian tetap sekolah, belajar matematika, ekonomi, sosiologi, geografi, fisika, kimia, dan juga belajar life skill,” jelasnya.

Menurutnya, perpaduan antara pendidikan keagamaan, akademik, karakter, dan keterampilan hidup merupakan kekuatan penting pesantren dalam mempersiapkan generasi masa depan.

Santri Hari Ini, Penggerak Pesantren di Masa Depan

Menjelang akhir sambutan, Dr. Tubagus mengajak para santri membayangkan peran mereka setelah menyelesaikan pendidikan di Daarul ‘Uluum Lido.

Ia berharap para alumni kelak bukan hanya menjadi individu yang berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi orang-orang yang mampu membawa nama baik pesantren dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

“Bisa jadi mereka akhirnya melihat pesantren ini karena kalian. Kalianlah orang-orang besar itu, kalianlah orang-orang hebat itu yang akan mewujudkan semua cita-cita kita,” katanya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan pada akhirnya dapat dilihat dari kualitas para alumninya. Apa yang dipelajari, dialami, dan dibiasakan selama berada di pesantren diharapkan menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih luas.

Karena itu, seluruh pengalaman selama T-Games X juga perlu dibaca sebagai bagian dari perjalanan panjang tersebut. Semangat bertanding, menerima kekalahan, menghargai lawan, bekerja sama dengan tim, mematuhi aturan, dan bangkit setelah mengalami kegagalan merupakan nilai-nilai yang akan terus dibutuhkan dalam kehidupan.

Menutup T-Games dengan Semangat yang Tidak Boleh Padam

Di penghujung sambutannya, Dr. Tubagus kembali mengingatkan para santri agar menjaga semangat yang telah tumbuh selama T-Games X.

Ia menekankan bahwa santri yang tangguh bukan hanya mereka yang kuat secara fisik, tetapi juga memiliki ketahanan mental, keluasan intelektual, kedisiplinan, serta semangat juang yang tinggi.

Semangat tersebut diharapkan terus hidup di berbagai ruang kehidupan pesantren—di lapangan, kelas, halaqah, firqah, asrama, maupun ketika berinteraksi dengan sesama.

Dengan ditutupnya T-Games X dan Pesta Rakyat Tahun 2026, berakhir pula satu rangkaian kompetisi yang telah mempertemukan santri dalam suasana penuh semangat, kebersamaan, dan kegembiraan.

Namun, pesan yang dibawa dari lapangan diharapkan tidak ikut berakhir bersama penutupan. Justru setelah perlombaan selesai, tantangan yang sesungguhnya dimulai: menjaga kedisiplinan, memperkuat hafalan, meningkatkan prestasi akademik, membangun kemandirian, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat lebih luas.

Dengan mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, T-Games X bersama rangkaian kegiatan Tahun 2026 resmi ditutup. Semangat kompetisi boleh berakhir, tetapi semangat untuk belajar, berjuang, bersatu, dan bertumbuh harus terus menyala dalam diri setiap santri Daarul ‘Uluum Lido.