Tahfizhdulido.com – Lapangan Utama Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido dipenuhi semangat para santri pada Rabu malam (12/8/2026). Suasana tersebut menandai dimulainya rangkaian T-Games X, ajang olahraga dan permainan edukatif yang kembali digelar sebagai bagian dari pembinaan santri di lingkungan pesantren.
Pembukaan T-Games X berlangsung mulai pukul 20.00 WIB dan dihadiri oleh jajaran Dewan Guru, pimpinan pesantren, panitia, serta santriwan dan santriwati. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., menyampaikan amanat pembukaan sekaligus mengingatkan bahwa olahraga di pesantren tidak semata-mata berbicara tentang kemenangan, tetapi juga tentang pembentukan karakter.
Mengusung tema “United in Sport, Stronger for Nation”, T-Games X diarahkan menjadi ruang bagi santri untuk membangun sportivitas, solidaritas, integritas, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama. Semangat tersebut juga sejalan dengan moto kegiatan yang menekankan pentingnya prestasi, solidaritas, integritas, dan sportivitas.
Dalam amanatnya, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim menegaskan bahwa kehidupan santri sehari-hari memang lekat dengan aktivitas keilmuan dan spiritual. Para santri menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu agama, serta mengembangkan kemampuan intelektual. Namun, pembinaan santri tidak berhenti pada aspek tersebut.
“Sehari-hari kita menghabiskan waktu berjuang dengan Al-Qur’an, menuntut ilmu agama, melatih kecerdasan akal serta kebersihan hati. Ini semua adalah aktivitas intelektual dan spiritual yang sangat mulia,” ujarnya.
Menurutnya, Islam juga memberikan perhatian terhadap kekuatan fisik. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang keutamaan mukmin yang kuat serta pepatah Arab yang menyebutkan bahwa akal yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat.
Atas dasar itu, T-Games X hadir sebagai sarana untuk menciptakan keseimbangan antara aktivitas intelektual, spiritual, dan jasmani. Olahraga tidak diposisikan sebagai kegiatan tambahan yang sekadar mengisi waktu luang, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan karakter santri.
“Ini bukan sekadar ajang hura-hura, melainkan perlombaan olahraga dan permainan edukatif yang dikemas secara sehat, seru, dan mendidik,” tegasnya.
Belajar Menang dengan Terhormat, Kalah dengan Lapang
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa arena pertandingan merupakan ruang belajar yang konkret bagi santri. Di dalamnya, santri tidak hanya dituntut menunjukkan kemampuan terbaik, tetapi juga belajar menghadapi kemenangan dan kekalahan.
T-Games X diharapkan mampu membentuk mental santri agar memiliki semangat sportivitas yang tinggi, mampu bekerja sama dalam tim, serta memiliki kedisiplinan. Kemenangan tidak boleh diraih dengan mengorbankan nilai-nilai kejujuran, sementara kekalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan semangat persaudaraan.
“Kalian akan belajar bagaimana meraih kemenangan dengan terhormat dan menerima kekalahan dengan dada yang lapang,” katanya kepada para peserta.
Pesan tersebut juga ditujukan kepada para wasit dan seluruh perangkat pertandingan. Mereka diminta menjaga keadilan dan menjunjung tinggi sportivitas dalam setiap pertandingan.
Bagi peserta, persaingan keras di lapangan merupakan hal yang wajar. Namun, persaingan tersebut tidak boleh terbawa menjadi konflik di luar arena. Justru sebaliknya, pertandingan diharapkan semakin mempererat hubungan antarsantri.
“Boleh saja kita bersaing keras di lapangan demi menjunjung tinggi sebuah prestasi. Namun, di luar lapangan, solidaritas sebagai sesama santri harus semakin erat. Kalian juga harus mampu menjaga integritas. Kalian tidak boleh berbuat curang,” pesannya.
Dari Lapangan Olahraga untuk Persatuan Bangsa
Tema “United in Sport, Stronger for Nation” menjadi salah satu pesan utama dalam penyelenggaraan T-Games X. Persatuan melalui olahraga dipandang memiliki relevansi yang lebih luas dengan kehidupan santri sebagai generasi penerus bangsa.
Dr. Tubagus Bay Amri Hakim menilai santri merupakan salah satu aset penting masa depan Indonesia. Karena itu, kekuatan fisik dan mental perlu berjalan beriringan dengan kemampuan intelektual serta kedalaman spiritual.
“Jika santrinya bersatu, fisiknya kuat, dan mentalnya tangguh, insyaallah bangsa kita juga akan menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat,” tuturnya.
Dengan demikian, T-Games X tidak hanya menjadi kompetisi internal pesantren. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses panjang pembentukan generasi yang mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan karakter yang kuat.
Dari Kemandirian Pesantren hingga Perhatian Internasional
Dalam amanatnya, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim juga menyinggung perkembangan Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido yang dinilainya semakin dikenal dan diperhitungkan oleh berbagai pihak.
Meski masih tergolong muda, pesantren tersebut dalam beberapa waktu terakhir menerima kunjungan dari berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Menurutnya, perhatian tersebut menunjukkan bahwa kiprah pesantren mulai mendapatkan pengakuan yang lebih luas.
Ia menyebut adanya kunjungan dari sejumlah pihak yang datang untuk bersilaturahmi, menjajaki kolaborasi, hingga mempelajari berbagai program yang dikembangkan pesantren. Salah satu yang menjadi perhatian adalah konsep ekopesantren, termasuk upaya mengintegrasikan pendidikan dengan pengelolaan pertanian, peternakan, dan perikanan.
Kunjungan dari Malaysia menjadi salah satu contoh. Perwakilan dari Yayasan Diraja Sultan Mizan, Kerajaan Terengganu, disebut datang untuk mempelajari berbagai praktik yang dikembangkan pesantren di Indonesia, khususnya terkait kemandirian dan integrasi program pendidikan dengan lingkungan.
Selain Malaysia, perhatian terhadap Daarul ‘Uluum Lido juga datang dari berbagai negara lainnya. Menurutnya, sejumlah pihak dari Australia, Amerika, hingga mahasiswa dari Turki menunjukkan ketertarikan untuk melakukan penelitian dan menjalin hubungan dengan pesantren.
“Pesantren kita mungkin tidak besar. Pesantren kita masih seumur jagung, bahkan dengan jumlah yang sangat sedikit. Tetapi teriakan kita, karya kita, dan apa yang kita perbuat sudah terdengar di belahan bumi luar sana,” ungkapnya.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak terlepas dari kerja sama dan dedikasi seluruh unsur pesantren, terutama para guru yang terus memberikan pengabdian dengan loyalitas dan integritas.
T-Games Tidak Menggeser Hafalan Al-Qur’an
Di tengah semarak perlombaan, satu pesan penting turut disampaikan: kegiatan T-Games tidak boleh menggeser kewajiban utama santri sebagai penghafal Al-Qur’an.
Rangkaian perlombaan dirancang sedemikian rupa agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Sebagian besar pertandingan dilaksanakan pada sore hari sehingga aktivitas akademik tetap berjalan.
Bahkan, para santri tetap diarahkan untuk melaksanakan setoran hafalan meskipun dengan target yang disesuaikan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kegiatan perlombaan dan tanggung jawab utama santri.
“Kalau kalian tetap mengadakan perlombaan, tetapi kalian juga tetap setoran, ini luar biasa,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa pola tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Para santri harus membagi energi antara mengikuti pertandingan, menjaga kesehatan, belajar, dan tetap menjalankan kewajiban hafalan. Hal yang sama juga dirasakan para guru yang pada siang hari tetap menjalankan tugas mengajar dan pada sore hari turut terlibat sebagai juri maupun pengawas pertandingan.
Namun, ia mengajak seluruh warga pesantren memandang kesibukan tersebut sebagai bagian dari proses meningkatkan kualitas diri.
“Kalau semuanya kita lakukan dengan sukacita, tentu tidak ada yang berat. Semuanya terasa ringan dan menyenangkan,” katanya.
Karena itu, ia meminta para santri tetap menjaga semangat dalam belajar, menyetorkan hafalan, sekaligus mengikuti seluruh rangkaian perlombaan dengan penuh antusias.
Sportif di Lapangan, Berakhlak di Setiap Keadaan
Menutup amanatnya, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim kembali mengingatkan para santri agar menjaga kesehatan selama kegiatan berlangsung. Ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan T-Games tahun ini memiliki sejumlah penyesuaian, salah satunya dengan tidak berlebihan dalam pelaksanaan yel-yel.
Fokus utama kegiatan diarahkan pada pertandingan dan pembentukan karakter peserta. Semangat tidak harus selalu ditunjukkan melalui suara yang keras, tetapi melalui kesungguhan dalam bertanding, kepatuhan terhadap aturan, serta sikap sportif.
Dengan demikian, T-Games X diharapkan menjadi lebih dari sekadar kompetisi olahraga. Ia menjadi laboratorium kecil bagi para santri untuk belajar tentang kehidupan: bagaimana bekerja dalam tim, menghargai lawan, menerima keputusan, menjaga kejujuran, menghadapi kemenangan tanpa kesombongan, serta menerima kekalahan tanpa kehilangan persaudaraan.
Pembukaan T-Games X pun menjadi penanda dimulainya rangkaian kompetisi yang diharapkan berlangsung sehat, tertib, dan penuh semangat. Di balik setiap pertandingan, terdapat misi pendidikan yang lebih besar: membentuk santri yang tidak hanya kuat dalam hafalan dan ilmu, tetapi juga tangguh secara fisik, matang secara mental, serta kokoh dalam akhlak.
United in Sport, Stronger for Nation bukan sekadar slogan. Di lapangan, para santri sedang belajar bahwa persatuan bukan berarti tanpa persaingan. Persatuan justru tumbuh ketika persaingan dijalankan dengan integritas, sportivitas, dan rasa persaudaraan.


