Tahfizhdulido.com – Di tengah kepungan gempuran pembangunan megaproyek pariwisata komersial dan alih fungsi lahan yang makin marak di kawasan Bogor Selatan, sebuah benteng hijau nan asri berdiri kokoh mempertahankan ritme alamnya. Pesantren Modern Daarul Uluum Lido (DULIDO) tidak hanya sibuk menggembleng ribuan santrinya dengan hafalan kitab suci dan keilmuan klasik, tetapi juga dengan seperangkat cangkul, media tanam, budidaya maggot, hingga pengelolaan ekosistem hutan mini.

Komitmen ekologis yang konsisten ini kembali mendapatkan sorotan internasional. Dalam sebuah pertemuan strategis, Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido menerima kunjungan kehormatan dari delegasi Yayasan Diradja Sultan Mizan (YDSM) Malaysia bersama tim akademisi Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Pertemuan yang berlangsung di Aula Siti Hajar ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan sebuah pertukaran gagasan kritis dan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (MoA & IA) untuk memperkuat gerakan Eco-Pesantren berbasis pengamalan Al-Qur’an.

Kepemimpinan Islam dan Misi Kehalifahan di Muka Bumi

Acara dibuka dengan hangat oleh Pengasuh dan Pimpinan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc. Dalam pandangan beliau, krisis ekologi global saat ini terjadi karena manusia sering kali melupakan esensi penciptaannya. Islam tidak hanya membebankan tugas ibadah ritual (mahdhah), melainkan juga amanah tata kelola lingkungan (khalifah fil ard).

Kiai Yazid menegaskan bahwa pergerakan pelestarian lingkungan di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido bukan tren mendadak, melainkan hasil ikhtiar panjang yang telah dirintis sejak tahun 2006. Kala itu, kepemimpinan pesantren bersama Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian UNAS, Dr. Fahruddin Mangunjaya, M.Si., mulai menginisiasi konsep kawasan konservasi berbasis nilai-nilai Islam.

Salah satu bukti konkrit keberhasilan sinergi ini adalah keberadaan kawasan Harimzon seluas kurang lebih satu hektare yang difungsikan sebagai hutan mini di jantung pesantren. Konsep harim—sebuah zona terlarang untuk dieksploitasi dalam fikih lingkungan Islam—diimplementasikan secara nyata. Hasil penelusuran ilmiah oleh para peneliti UNAS mengejutkan banyak pihak: area hutan mini yang awalnya dianggap sebagai lahan perkebunan biasa ternyata menjadi ruang perlindungan bagi berbagai keanekaragaman hayati, termasuk spesies burung langka dan tanaman obat endemik yang kian sulit ditemukan di kawasan perkotaan.

Langkah ini menjadi benteng pertahanan ekologis yang sangat penting. Mengingat lokasi pesantren yang berada di kawasan strategis Lido—yang kini diapit oleh perluasan kawasan industri rekreasi berbiaya besar—kehadiran Harimzon dan kawasan Eco-Tahfizh menjadi bukti kritis bahwa lembaga pendidikan Islam mampu menawarkan alternatif pembangunan yang berkelanjutan, beretika, dan berwawasan lingkungan.

Respon Internasional: Belajar ESG dari Model Pesantren

Kesadaran ekologis yang ditunjukkan oleh Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido memikat perhatian delegasi YDSM Malaysia. Ahli Lembaga Pemegang Amanah YDSM, YBhg Dato’ Haji Mohd Fadli Bin Yusuf, secara terbuka menyampaikan rasa kagumnya atas daya tahan dan kemandirian ekosistem yang dibangun oleh pesantren ini.

Dato’ Mohd Fadli menyoroti pentingnya integrasi nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam lembaga pendidikan Islam. Di Malaysia, YDSM menginisiasi kompetisi Eco Ceria (ECPIT) yang diikuti ratusan Institusi Pendidikan Islam (IPI) di Negeri Terengganu untuk mendorong efisiensi energi, kebersihan, dan tata kelola berbasis kelestarian. Namun, melihat praktik di DULIDO, beliau menilai bahwa pesantren di Indonesia memiliki keunggulan berupa ikatan alamiah antara doktrin keagamaan dan aksi nyata di lapangan.

Kehadiran delegasi Malaysia ini bukan semata untuk memberikan arahan, melainkan untuk benchmarking—belajar bagaimana sebuah lembaga pendidikan tradisional-modern mampu mengolah sampah dapur menjadi pakan ternak, menghasilkan bahan pangan mandiri, serta mendidik ribuan santri agar memiliki life skill ekologis sejak dini. Sinergi lintas negara ini membuktikan bahwa isu lingkungan hidup adalah bahasa universal yang mampu menyatukan peradaban Islam di kawasan Melayu.

Transformasi Eco-Tahfizh: Membumikan Ayat di Lahan Hijau

Penyampaian materi dilanjutkan oleh Direktur Pesantren Tahfizh, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C. Beliau memaparkan paradigma Eco-Tahfizh yang diterapkan di kampus kedua DULIDO. Bagi pesantren ini, menghafal Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada batas tenggorokan atau sekadar memorisasi teks (ayat qawliyyah). Para santri diajak untuk membaca, memahami, dan merawat alam semesta sebagai wahyu Allah yang terhampar (ayat kawniyyah).

Sejak dirintis pada tahun 2015 dan diperkuat oleh Tim Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) pada tahun 2017, DULIDO telah meretas berbagai program inovatif. Fokus utama gerakan ini adalah mewujudkan sistem sirkular ekonomi atau zero waste. Sampah sisa dapur santri tidak lagi terbuang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan dipilah secara sistematis.

Limbah organik dimanfaatkan sebagai media tumbuh budidaya maggot (larva lalat Black Soldier Fly). Maggot kaya protein ini kemudian dijadikan pakan alami bagi ternak bebek dan ikan di kolam pesantren. Telur bebek yang dihasilkan kembali masuk ke dapur santri untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian, sementara cangkang telurnya diolah menjadi pupuk organik bersama dedaunan runtuh dari pohon-pohon di area pesantren. Ekosistem tanpa sisa (zero waste) ini terbukti menekan biaya operasional sekaligus mengajarkan kemandirian pangan.

Selain pengelolaan limbah, pesantren ini membanggakan koleksi lebih dari 40 jenis tanaman obat keluarga (TOGA) serta pengembangan sistem pertanian modern seperti hidroponik dan hidroganik. Tak berhenti di dalam tembok pesantren, DULIDO juga menerapkan sistem plasma dengan masyarakat sekitar melalui budidaya jahe merah. Santri memproduksi benih dan planter bag, membagikannya kepada warga lokal untuk dirawat di pekarangan rumah, lalu hasil panennya dibeli kembali oleh pihak pesantren. Pola pemberdayaan ini menjadi jawaban konkrit atas kritik bahwa pesantren sering kali terisolasi dari dinamika sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya.

 

Eksplorasi Lapangan: Menelusuri 7 Pos Edukasi Lingkungan

Usai sesi pemaparan dan penandatanganan dokumen kerja sama di aula, rangkaian acara dilanjutkan dengan observasi lapangan langsung. Menggunakan armada mobil wara-wiri, para rombongan delegasi YDSM Malaysia dan pimpinan UNAS diajak menyusuri lanskap kontur tanah DULIDO yang dinamis menuju kawasan Agro Tahfizh DU Lido (DUTALIDO).

Observasi lapangan ini dikemas secara interaktif melalui tujuh pos edukasi yang dipandu langsung oleh para ustaz dan santri pelaksana program.

  • Pos Pangan Lokal: Perjalanan diawali di area Mini Garden di mana para santri memamerkan hasil budidaya tanaman pangan lokal, seperti cabai dan jahe merah. Santri menjelaskan teknik perawatan tanaman pangan di tengah tantangan iklim lokal tanpa mengandalkan pestisida kimia sintetis.
  • Pos Pupuk Organik: Memasuki rindangnya Area Jati, rombongan disuguhkan demonstrasi pemuatan kompos. Para santri secara lugas mempraktikkan formulasi pencampuran daun jati kering yang melimpah dengan cangkang telur yang telah dihaluskan. Inovasi sederhana ini menghasilkan pupuk tinggi kalsium dan hara makro yang efisien untuk menyuburkan tanah.
  • Pos Pembibitan & Penghijauan: Di area Tim Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) Putra, para tamu melihat dari dekat aktivitas pembibitan vegetasi hijau. Para santri memperagakan proses penyemaian benih jahe merah, terong, dan cabai, sekaligus memaparkan pentingnya regenerasi tanaman secara berkala.
  • Pos Pengolahan Sampah & Maggot: Suasana edukasi berlanjut ke kandang maggot. Di pos ini, delegasi menyaksikan secara langsung bagaimana sisa limbah organik dari dapur pesantren diurai oleh ribuan larva. Proses ini tidak hanya menuntaskan masalah sampah secara biologis tetapi juga menghasilkan pakan alternatif berprotein tinggi.
  • Pos Perikanan & Peternakan: Bergerak ke area kolam dan kandang bebek, rombongan diajak melihat integrasi perikanan dan peternakan petelur. Hasil dari pengolahan sampah dan maggot dialokasikan secara langsung untuk konsumsi bebek petelur dan ikan, menciptakan rantai makanan buatan yang sangat efektif.
  • Pos Greenhouse Hidroponik: Langkah kaki para delegasi kemudian berlanjut ke instalasi Greenhouse Hidroponik. Di dalam ruangan yang terpelihara bersih ini, para santri mempresentasikan teknologi pembibitan, teknik pemeliharaan air nutrisi, hingga proses panen sayuran pakcoy. Momen ini diakhiri dengan aksi panen bersama para delegasi Malaysia di dalam greenhouse.
  • Pos Greenhouse Herbal: Penelusuran berakhir di Greenhouse Herbal. Di sini, para santri mengenalkan puluhan jenis tanaman herbal beserta khasiat medisnya. Rombongan diajak memanen jahe merah segar yang siap diolah menjadi minuman kesehatan ekologis.

Refleksi dan Harapan Masa Depan

Rangkaian kunjungan ditutup dengan sesi diskusi dan evaluasi yang berlangsung hangat di bawah keteduhan tenda area pohon jati. Penyerahan cenderamata antara Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, YDSM Malaysia, dan UNAS menjadi simbol dimulainya babak baru kolaborasi ekologis lintas negara.

Keberhasilan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido dalam memadukan kurikulum keagamaan, hafalan Al-Qur’an, dan aksi nyata perlindungan lingkungan hidup memberikan pesan kritis bagi dunia pendidikan Islam. Pesantren tidak lagi hanya menjadi tempat melestarikan tradisi keagamaan, tetapi juga harus berdiri di garda terdepan sebagai pusat solusi krisis lingkungan.

Melalui jaringan kerja sama ini, DULIDO membuktikan bahwa dakwah Islam yang paling efektif di era modern adalah dakwah yang memberi dampak nyata: menyegarkan jiwa dengan ayat-ayat Allah, sekaligus merawat bumi sebagai tempat tinggal bersama. Langkah nyata yang telah dimulai di pesisir Lido ini diharapkan mampu menginspirasi ratusan pesantren lain di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara untuk berani berhijrah menuju gerakan ekologis yang berkelanjutan.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag