Tahfizhdulido.com – Evaluasi sering kali terdengar menegangkan. Ia kerap diidentikkan dengan laporan, angka, target, dan capaian. Namun di Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, evaluasi bulanan Ziyadah dan Khatim justru dihadirkan sebagai ruang refleksi—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menata ulang niat dan arah perjalanan para penjaga Al-Qur’an.
Pada Senin malam, 9 Februari 2026, Masjid Al-Maktoum menjadi saksi berkumpulnya para musyrif dan musyrifah bersama seluruh santri putra dan putri dalam agenda Evaluasi Bulanan Ziyadah dan Khatim. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Direktur Pesantren, Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., yang akrab disapa Abi. Sebuah pertemuan yang rutin secara waktu, namun selalu istimewa dalam pesan.
Abi membuka refleksi dengan sebuah kesadaran sederhana: setiap orang datang ke majelis ini dengan perasaan yang berbeda. Ada yang hadir dengan senyum ringan karena target tercapai, setoran lancar, dan satu halaman per hari terjaga. Ada pula yang datang dengan hati berat—lelah, tertinggal, atau merasa hafalannya berjalan di tempat. Semua rasa itu sah. Semua itu manusiawi.
Namun Abi mengingatkan satu hal penting: Al-Qur’an tidak pernah datang untuk menyiksa. Ia bukan beban yang diturunkan untuk memberatkan pundak para penghafalnya. Justru melalui target harian yang tampak sederhana—satu halaman per hari—Al-Qur’an sedang mendidik jiwa agar terbiasa istiqamah. Bukan semata mengejar jumlah, tetapi melatih konsistensi.
Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meski sedikit? Maka satu halaman yang dijaga setiap hari, betapapun kecil terlihatnya, adalah kemuliaan besar di sisi Allah.
Abi juga menyentuh luka yang sering tak terucap di kalangan santri: perasaan tertinggal. Ada yang menangis dalam diam, merasa hafalannya paling lambat dibanding teman-temannya. Ada pula yang merasa otaknya “tidak seperti yang lain”, harus mengulang puluhan bahkan ratusan kali untuk satu halaman yang sama.
Di sinilah sering kali kita keliru menilai. Santri yang mengulang lebih banyak bukan sedang kalah; ia justru sedang memperpanjang kebersamaannya dengan Al-Qur’an. Lidahnya lebih lama dibasahi zikir, telinganya lebih sering mendengar ayat, dan hatinya lebih lama ditempa kesabaran. Allah tidak menghitung berapa juz yang disetor, melainkan setiap tetes keringat dan setiap detik kesabaran dalam membersamai Kalam-Nya.
Abi kemudian mengajak para santri mengingat wajah orang tua mereka. Di sela kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, ada doa yang tak pernah putus: agar anak-anak mereka kelak memakaikan mahkota cahaya di akhirat. Satu halaman yang diperjuangkan hari ini—di tengah lelah, kantuk, dan padatnya agenda pesantren—adalah satu permata untuk mahkota itu. Maka jangan biarkan bisikan menyerah menghentikan perjuangan yang mulia ini.
Ketika hafalan terasa berat, Abi menekankan pentingnya membersihkan hati. Al-Qur’an adalah tamu yang agung dan suci; ia hanya betah di hati yang dijaga. Meluruskan niat setiap hari bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kesadaran: apakah hafalan ini benar-benar untuk Allah, atau sekadar untuk penilaian dan formalitas evaluasi?
Kisah Syekh Sa‘id Al-Jumuhi menjadi penegas pesan tersebut. Seorang ulama tunanetra yang menghafal Al-Qur’an satu halaman per hari bukan dengan mata, melainkan dengan telinga. Setiap kali lelah, ia berkata, “Al-Qur’an adalah tamu mulia. Jika aku menyambutnya dengan malas, ia akan pergi ke rumah yang lebih layak.” Kalimat sederhana, namun menampar kesadaran tentang kelayakan hati.
Pesan serupa juga ditegaskan oleh Imam Syafi‘i: ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak diberikan kepada hati yang dipenuhi maksiat. Maksiat bukan hanya perbuatan besar, tetapi juga hal-hal yang sering diremehkan—bergosip, merendahkan teman, memelihara rasa tidak betah, atau membiarkan kebencian tumbuh. Semua itu mengeraskan hati dan membuat hafalan terasa berat.
Evaluasi ini, tegas Abi, bukan ruang penghakiman. Para musyrif dan musyrifah tidak hadir untuk mempermalukan atau menjatuhkan mental santri. Evaluasi adalah proses mengulang harapan agar kesalahan yang sama tidak terulang. Ia adalah sarana belajar bersama, bukan intimidasi berjamaah.
Dalam aspek teknis, Abi mengingatkan pentingnya manajemen waktu. Setiap santri, tanpa kecuali, memiliki jatah yang sama: 24 jam. Berdasarkan riset, santri di bawah usia 25 tahun rata-rata membutuhkan sekitar 30 menit fokus untuk menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan pengulangan sekitar 20 kali. Waktu itu sejatinya tidak besar, namun sering kali habis untuk hal-hal yang kurang bermakna. Masalahnya bukan pada sempitnya waktu, melainkan pada kehadiran kesungguhan.
Abi juga menekankan pentingnya berdamai dengan diri sendiri. Banyak kegagalan dalam hafalan bukan karena kurang cerdas, melainkan karena hati yang belum selesai dengan masalahnya. Selama luka batin belum diselesaikan, belajar, ibadah, dan aktivitas apa pun akan terasa berat. Maka berdamailah terlebih dahulu, agar Al-Qur’an memiliki ruang untuk tumbuh.
Pada akhirnya, Abi menutup dengan pesan yang tenang namun dalam: yang perlu dikritisi bukan selalu peristiwa, melainkan respons kita terhadapnya. Kita tidak selalu bisa memilih sebab, tetapi kita selalu bisa memilih sikap. Dan satu halaman per hari—jika dijaga dengan sabar—bisa menjadi jalan panjang menuju kedewasaan iman. Karena di pesantren ini, yang sedang dibangun bukan hanya hafalan, tetapi juga ketahanan hati untuk terus berjalan bersama Al-Qur’an, apa pun keadaan yang menyertai.

