Tahfizhdulido.com – Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya pesantren yang peduli terhadap lingkungan melalui penyelenggaraan Edukasi Pangan Lokal Indonesia, Pengenalan dan Praktik Penggunaan Aplikasi Nusantara Food Biodiversity, serta Nonton Bersama Film KEHATI pada Kamis (30/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan pesantren ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan KEHATI, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido sebagai bagian dari penguatan program Ekopesantren. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200–250 santri tingkat SMP dan SMA, beserta para guru dan tenaga kependidikan.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara dari kalangan santri, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan Hymne Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Selanjutnya, Khadim Al-Ma’had Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Dalam sambutannya, Kiai M. Yazid Dimyati mengucapkan selamat datang dan apresiasi kepada Yayasan KEHATI beserta seluruh mitra yang kembali hadir di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Menurut beliau, kolaborasi yang telah terjalin selama ini merupakan bentuk sinergi yang sangat berarti dalam mendukung pengembangan pendidikan lingkungan hidup di lingkungan pesantren.

Beliau mengungkapkan bahwa berbagai program yang telah dilaksanakan bersama Yayasan KEHATI memberikan dampak nyata bagi pesantren. Salah satunya adalah keberadaan apotek herbal pesantren yang dibangun melalui dukungan Yayasan KEHATI dan hingga kini masih berfungsi dengan baik sebagai sarana pembelajaran sekaligus praktik bagi para santri. Hal tersebut menjadi bukti bahwa setiap bentuk kerja sama tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi pesantren.

Kiai M. Yazid juga mengajak seluruh santri untuk mengikuti setiap rangkaian seminar dengan penuh kesungguhan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan yang sama pentingnya dengan pembelajaran di kelas karena menghadirkan para praktisi yang memiliki pengalaman langsung dalam bidang lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan.

“Siapkan buku catatan, siapkan pena, tetapi yang lebih penting adalah siapkan fokus pikiran dan hati. Hari ini kalian akan belajar langsung dari para praktisi. Manfaatkan kesempatan ini untuk menambah ilmu, wawasan, dan keterampilan,” pesannya kepada para santri.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido terus mengembangkan berbagai program Ekopesantren sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis lingkungan. Berbagai upaya tersebut diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian santri terhadap kelestarian alam sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya ketahanan dan kedaulatan pangan. Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembelajaran yang tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Beliau berharap sinergi antara Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Yayasan KEHATI, dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dapat terus berlanjut melalui berbagai program yang memberikan manfaat bagi pesantren maupun masyarakat luas. Menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan pangan lokal kepada generasi muda, menurut beliau, merupakan investasi jangka panjang dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri dan berkelanjutan.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI, Rika Anggraini, yang menegaskan pentingnya membangun kolaborasi dengan pesantren sebagai pusat pendidikan karakter sekaligus agen perubahan dalam pelestarian lingkungan. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cendera mata dan sesi foto bersama sebagai simbol penguatan kerja sama antarlembaga.

Pada sesi utama, peserta memperoleh wawasan mengenai keragaman pangan lokal Indonesia, potensi sumber daya hayati, serta pentingnya menjaga keberagaman pangan sebagai bagian dari identitas bangsa. Melalui penyampaian yang interaktif, para santri diajak mengenali berbagai jenis pangan lokal dari berbagai daerah di Indonesia sekaligus memahami bahwa banyak makanan yang dikonsumsi sehari-hari masih bergantung pada bahan baku impor, seperti gandum yang menjadi bahan utama tepung terigu.

Pembahasan kemudian berkembang pada pentingnya memahami konsep pangan secara menyeluruh. Pangan tidak hanya dimaknai sebagai makanan siap konsumsi, tetapi mencakup seluruh sumber bahan pangan yang berasal dari pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga sumber daya pesisir. Melalui pemahaman tersebut, para santri didorong untuk semakin menghargai kekayaan pangan lokal yang dimiliki Indonesia.

Materi berikutnya mengangkat tema keanekaragaman hayati sebagai fondasi kehidupan. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Kekayaan flora, fauna, ekosistem, serta keragaman budaya di berbagai daerah menjadi modal besar dalam mewujudkan sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Selain menyediakan sumber pangan, keanekaragaman hayati juga berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menyediakan obat-obatan alami, hingga mendukung pengembangan ekowisata.

Dalam kesempatan tersebut, para santri juga diperkenalkan dengan beragam sumber pangan lokal Indonesia yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat, seperti sagu, sorgum, berbagai jenis ubi, jagung, serta ratusan jenis sayuran lokal. Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan sumber pangan yang mencerminkan kondisi alam sekaligus budaya masyarakat setempat. Kekayaan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kemandirian dan kedaulatan pangan nasional apabila terus dilestarikan dan dimanfaatkan secara bijaksana.

Selain membahas potensi, peserta juga diajak memahami tantangan yang dihadapi sektor pangan nasional, mulai dari perubahan pola konsumsi masyarakat, berkurangnya pemanfaatan tanaman lokal, hingga konversi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dan pembangunan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian keanekaragaman hayati memerlukan partisipasi seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda di lingkungan pesantren.

Sebagai bentuk inovasi dalam pelestarian pangan lokal, kegiatan ini juga memperkenalkan Aplikasi Nusantara Food Biodiversity, sebuah platform digital yang memungkinkan masyarakat mendokumentasikan berbagai jenis pangan lokal Indonesia. Melalui sesi praktik, para santri memperoleh pengalaman langsung menggunakan aplikasi tersebut sebagai media pengumpulan data sekaligus sarana berbagi pengetahuan mengenai keragaman pangan Nusantara.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film edukasi dari Yayasan KEHATI yang mengangkat pentingnya menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati. Setelah melaksanakan istirahat, salat, dan makan siang (ISHOMA), peserta mengikuti dua kegiatan secara paralel, yaitu Pesantren Tour yang memperkenalkan berbagai program lingkungan di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido serta praktik penggunaan Aplikasi Nusantara Food Biodiversity.

Melalui kegiatan ini, Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido berharap para santri tidak hanya memahami pentingnya pangan lokal dari sisi ketahanan pangan, tetapi juga mampu menjadi generasi yang berperan aktif dalam mendokumentasikan, mempromosikan, serta melestarikan kekayaan hayati Indonesia. Kolaborasi bersama Yayasan KEHATI dan KRKP diharapkan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pesantren yang berwawasan lingkungan, berketahanan pangan, serta berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.