Tahfizhdulido.com – Peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan tahunan yang ditandai dengan apel, perlombaan, dan pembagian hadiah. Lebih dari itu, Hari Santri menjadi momentum untuk mempertanyakan kembali arah perjalanan santri di tengah perubahan zaman: sejauh mana santri mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memperluas pengaruh hingga tingkat global, dan tetap menjaga nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi akar pembentuk jati dirinya?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam Irsyadat wa Taujihat yang disampaikan Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., pada malam penutupan dan pembagian hadiah lomba Hari Santri Nasional, Jumat (23/10/2026), di Aula KH. Ahmad Dimyati, Pesantren Tahfizh Modern Daarul ‘Uluum Lido.

Di hadapan para asatidz, beliau mengajak seluruh keluarga besar pesantren untuk memaknai kembali arti menjadi santri. Menurutnya, santri masa kini tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga perlu memahami perkembangan zaman, memanfaatkan teknologi, membangun komunikasi lintas bangsa, dan mengambil peran dalam percaturan dunia. Namun, seluruh pencapaian itu tidak boleh membuat santri melupakan guru, kiai, dan tradisi keilmuan yang telah membentuk dirinya.

Penghargaan Bukan Puncak Perjalanan, Melainkan Amanah

Dalam penyampaiannya, Dr. Tubagus Bay mengungkapkan rasa syukur atas penghargaan yang diberikan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, sebagai bentuk pengakuan terhadap perjuangan dalam menyebarkan ilmu agama, membina umat, dan memperjuangkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

Penghargaan tersebut, menurutnya, bukan semata-mata pengakuan atas pencapaian pribadi. Lebih jauh, penghargaan itu menjadi pengingat bahwa perjalanan dakwah dan pendidikan yang dijalankan hari ini tidak pernah berdiri sendiri. Ada jejak panjang para pendahulu, guru, dan kiai yang telah meletakkan fondasi perjuangan.

Ia menegaskan bahwa dirinya hanya melanjutkan apa yang telah dirintis oleh para pendiri pesantren, khususnya almarhum KH. Ahmad Dimyati dan almarhum KH. Elon Syuja’i. Tanpa perjuangan dan keberkahan mereka, pencapaian yang dirasakan sekarang tidak akan memiliki fondasi yang kuat.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di lingkungan pesantren tidak semestinya dipahami sebagai pencapaian individual. Seorang pemimpin bukanlah sosok yang memulai segala sesuatu dari nol, melainkan bagian dari mata rantai perjuangan yang diwariskan lintas generasi.

Dalam konteks ini, penghargaan bukanlah garis akhir. Ia justru menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga kepercayaan masyarakat, memperluas manfaat pendidikan, dan memastikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu tetap hidup dalam praktik nyata.

Rantai Keberkahan: Dari Guru Menuju Generasi Berikutnya

Salah satu bagian penting dalam irsyadat tersebut adalah pengakuan Dr. Tubagus Bay terhadap peran para guru dalam perjalanan hidupnya. Ia menceritakan pengalaman menimba ilmu di sejumlah pesantren, di antaranya Pesantren Al-Wasilah Jakarta, Pesantren Al-Fatah Serang, Pesantren Al-Qur’an Soleman Gunung di wilayah Serang, serta Pesantren Al-Qur’an Soleman Gunung di Tanjir, Bogor.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan seorang pendidik tidak berlangsung secara instan. Ia tumbuh melalui proses belajar, pengabdian, perjumpaan dengan banyak guru, dan kesediaan untuk terus menerima nasihat.

Ia juga menyinggung bagaimana pandangannya terhadap tradisi mencium tangan guru mengalami perubahan. Pada mulanya, ia merasa tidak layak menerima penghormatan tersebut. Namun, setelah merenungkan hubungan antara dirinya, para gurunya, guru dari para gurunya, hingga mata rantai keilmuan yang terhubung dengan generasi awal Islam, ia memahami tradisi itu sebagai simbol penghormatan terhadap ilmu dan para pewarisnya.

Dengan demikian, penghormatan kepada guru tidak berhenti pada gestur fisik. Nilai utamanya terletak pada kesediaan untuk menjaga ilmu, meneruskan kebaikan, dan menjadikan ajaran para guru sebagai pedoman dalam bertindak.

Ia berharap setiap kebaikan yang dapat dilakukannya menjadi amal jariah bagi para guru yang telah membimbingnya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Pesan ini relevan bagi santri di tengah kehidupan modern yang semakin menekankan pencapaian individual. Gelar akademik, jabatan, popularitas, dan keberhasilan profesional memang penting, tetapi semuanya kehilangan kedalaman makna apabila seseorang memutus hubungan dengan sumber ilmu dan nilai yang membentuk dirinya.

Santri boleh tumbuh menjadi akademisi, diplomat, pengusaha, pemimpin lembaga, maupun tokoh publik. Akan tetapi, semakin tinggi pencapaiannya, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga adab dan menghormati mata rantai keilmuan yang telah mengantarkannya sampai ke titik tersebut.

Dari Kitab Kuning Menuju Algoritma Digital

Memasuki pembahasan tentang tantangan zaman, Dr. Tubagus Bay mengingatkan bahwa medan dakwah telah mengalami perubahan yang signifikan. Jika dahulu santri dikenal melalui penguasaan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan mantiq, kini kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan keterampilan baru.

Mimbar tidak lagi menjadi satu-satunya ruang dakwah. Layar digital telah menjelma menjadi ruang perjumpaan yang menjangkau jutaan orang. Kitab tetap menjadi sumber pengetahuan, tetapi penyampaian gagasan juga memerlukan riset konten, penulisan naskah, teknik pengambilan gambar, penyuntingan video, hingga copywriting.

Perubahan ini bukan berarti tradisi keilmuan pesantren harus ditinggalkan. Sebaliknya, tradisi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam bentuk komunikasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.

Santri tidak boleh sekadar menjadi penonton perkembangan teknologi. Mereka harus mampu menjadi subjek yang menentukan arah pemanfaatannya. Jika ruang digital dipenuhi informasi tanpa kedalaman, santri perlu menghadirkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika media sosial dipenuhi narasi yang menyederhanakan persoalan agama, santri harus mampu menawarkan penjelasan yang jernih, kontekstual, dan berlandaskan keilmuan.

Karena itu, penguasaan teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi merupakan sarana untuk memperluas manfaat ilmu dan memperkenalkan wajah pesantren kepada masyarakat yang lebih luas.

Dr. Tubagus Bay juga menyinggung pemberitaan media nasional yang mengangkat aktivitas pesantren. Kehadiran santri dalam pemberitaan tersebut menjadi pengingat bahwa pesantren memiliki peluang untuk memperkenalkan kontribusinya melalui berbagai saluran komunikasi.

Namun, tantangan yang sesungguhnya bukan sekadar bagaimana pesantren mendapatkan sorotan media. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah pesantren mampu membangun narasinya sendiri secara bermutu, konsisten, dan bertanggung jawab.

Pesantren perlu memastikan bahwa masyarakat tidak hanya mengenalnya melalui pemberitaan pihak luar. Santri harus mampu menyampaikan pengalaman, gagasan, prestasi, dan kontribusi pesantren dengan bahasa yang dapat dipahami publik tanpa kehilangan kedalaman nilai-nilainya.

Dengan demikian, santri bukan hanya dituntut mampu membaca kitab, tetapi juga membaca zaman.

Diplomasi Santri: Dari Lingkungan Pesantren ke Panggung Global

Selain melalui media digital, Dr. Tubagus Bay menempatkan diplomasi sebagai salah satu jalur strategis bagi santri untuk memperluas pengaruhnya. Menurutnya, santri tidak seharusnya membatasi orientasi perjuangan hanya pada lingkungan lokal atau nasional. Mereka perlu mempersiapkan diri untuk berkomunikasi dan berkontribusi di tingkat internasional.

Kemampuan bahasa, keluasan wawasan, kecakapan berdialog, dan pemahaman terhadap persoalan global menjadi bekal penting untuk memasuki ruang-ruang tersebut. Santri yang hari ini belajar menyampaikan gagasan di lingkungan pesantren perlu membangun kepercayaan diri agar kelak mampu menyuarakan pemikirannya dalam forum akademik, diplomatik, maupun kemanusiaan internasional.

Gagasan ini memperluas cara pandang tentang masa depan santri. Santri dapat menjadi akademisi yang menghasilkan penelitian bermutu, diplomat yang menjembatani perbedaan, pemimpin perusahaan yang menjunjung etika, atau profesional yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam praktik pekerjaannya.

Akan tetapi, cita-cita global tersebut harus disertai kesiapan intelektual dan moral. Keinginan untuk dikenal dunia tidak cukup ditopang oleh semangat dan popularitas. Ia membutuhkan kompetensi, kedisiplinan, integritas, dan kesungguhan untuk terus belajar.

Menjadi warga global bukan berarti meninggalkan identitas sebagai santri. Justru identitas tersebut harus menjadi bekal untuk berkontribusi secara lebih luas, dengan membawa nilai keadilan, kejujuran, kemanusiaan, dan tanggung jawab ke dalam setiap ruang pengabdian.

Ketika Santri Mengejar Dunia, Siapa yang Menjaga Arah?

Di balik dorongan untuk menguasai teknologi dan memperluas jangkauan dakwah, Dr. Tubagus Bay menyampaikan kritik yang patut direnungkan. Menurutnya, santri masa kini menghadapi risiko kehilangan orientasi ketika terlalu sibuk mengejar pengakuan publik.

Ia menggambarkan keadaan ketika sebagian orang lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan arah, lebih khawatir kehilangan pengikut daripada kehilangan kesadaran, dan lebih sibuk membangun citra di hadapan dunia daripada memahami siapa dirinya sendiri.

Kritik tersebut tidak dimaksudkan untuk menolak kemajuan. Santri tetap perlu mengembangkan kompetensi, membangun jejaring, dan memanfaatkan teknologi. Namun, kemajuan menjadi persoalan ketika kecepatan mengalahkan kebijaksanaan, popularitas menggantikan kualitas, dan pencapaian pribadi mengikis kesadaran akan tanggung jawab.

Dalam konteks kehidupan pesantren, refleksi ini juga berkaitan dengan cara santri memandang aturan dan kedisiplinan. Ketika menghadapi ketidaknyamanan, seseorang mungkin mudah menyalahkan peraturan, pengurus, atau ustadz yang menegakkannya. Padahal, aturan tersebut merupakan bagian dari sistem pendidikan yang dirancang untuk membentuk karakter dan menjaga kehidupan bersama.

Tentu, kritik terhadap aturan tetap diperlukan apabila disampaikan secara beradab dan bertanggung jawab. Kepatuhan tidak berarti meniadakan ruang evaluasi. Sebaliknya, kedewasaan santri justru terlihat dari kemampuannya membedakan kritik yang membangun dengan penolakan yang hanya berangkat dari ketidaksukaan terhadap batasan.

Yang perlu dijaga adalah kesadaran bahwa kehidupan pesantren tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang cakap, tetapi juga manusia yang mampu mengendalikan diri, menghormati orang lain, dan memahami tanggung jawab di balik setiap kebebasan.

Dr. Tubagus Bay turut mengingatkan bahwa sosok kiai kerap menghadapi penilaian publik yang tidak selalu proporsional. Kesalahan sebagian individu dapat berkembang menjadi generalisasi terhadap seluruh komunitas. Karena itu, santri perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, menilai persoalan secara adil, dan tidak mudah terjebak dalam penghakiman yang mengabaikan konteks.

Penghormatan kepada kiai bukan berarti menganggap manusia bebas dari kesalahan. Penghormatan tersebut harus berjalan bersama sikap adil, keterbukaan terhadap perbaikan, dan tanggung jawab menjaga martabat lembaga pendidikan.

Hari Santri dan Tanggung Jawab Menjaga Warisan

Dalam refleksinya, Dr. Tubagus Bay mengajak para santri melihat kembali hubungan antara peringatan Hari Santri dan peran para kiai. Menurutnya, peran kiai dalam membangun tradisi keilmuan, membina umat, dan membentuk karakter santri merupakan bagian penting dari sejarah pesantren yang perlu terus diingat.

Peringatan Hari Santri tidak boleh berhenti pada kemeriahan acara. Nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata: belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga adab, mengembangkan ilmu, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menutup irsyadatnya, ia mengajak seluruh hadirin untuk mengirimkan doa dan membaca Surah Al-Fatihah bagi para guru, kiai, dan pendahulu, khususnya mereka yang telah berjasa bagi perkembangan pesantren, termasuk Ustadz Yayat Hidayatullah, Ustadzah Linda, Ustadz Hindun, Ustadz Su’aidi, dan Ustadz Hasbi.

Doa tersebut menjadi penegasan bahwa perjalanan pesantren tidak hanya dibangun melalui program, fasilitas, dan pencapaian yang terlihat. Ia juga bertumpu pada ketulusan pengabdian, hubungan antargenerasi, dan harapan agar ilmu yang diwariskan terus menghasilkan kebaikan.

Pada akhirnya, menjadi santri di era digital menuntut kemampuan untuk berjalan di antara dua tanggung jawab: melangkah maju mengikuti perubahan zaman dan tetap berpijak pada nilai-nilai yang membentuk jati diri. Santri harus berani memasuki ruang digital, membangun diplomasi, mengembangkan kompetensi profesional, dan berkontribusi bagi dunia. Namun, semua itu harus disertai kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk mencapai kedudukan, melainkan amanah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Sebab, santri yang hebat bukan hanya mereka yang dikenal luas, melainkan mereka yang mampu menjaga nilai ketika memperoleh kekuasaan, mempertahankan adab ketika mendapatkan penghormatan, dan tetap mengingat gurunya ketika telah berdiri di panggung dunia.

Selamat Hari Santri Nasional. Dari pesantren untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia—dengan ilmu sebagai bekal, adab sebagai pijakan, dan kebermanfaatan sebagai tujuan.