Aula Dimyati Pesantren Tahfizh Daarul Uluum Lido pada Kamis sore, 23 Oktober 2025, terasa hangat oleh semangat para santri dan jajaran asatidzah. Mereka berkumpul dalam rangkaian acara peringatan Hari Santri Nasional 2025, disertai dengan pemberian hadiah lomba dan buka puasa bersama. Tampil sebagai pembicara, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed, memberikan orasi yang tidak hanya menggetarkan ruang, tetapi juga menggugah kesadaran. Suaranya yang tenang tapi penuh makna mengajak para santri untuk menafakuri ulang: apa arti menjadi santri di zaman yang terus berubah?
Dalam sambutannya, Dr. Bay Amri menyampaikan kabar bahagia: beberapa alumni Pesantren Tahfizh Daarul Uluum Lido kembali menorehkan prestasi internasional. Salah satunya adalah Ustadzah Fani Madaniyah Putri, yang berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari Al-Bukhari International University, Malaysia, sekaligus dukungan dana dari BAZNAS.
“Total beasiswa mereka mencapai lebih dari 400 juta rupiah, mencakup biaya kuliah, asrama, dan kebutuhan hidup,” ujar Dr. Bay disambut tepuk tangan meriah para santri. Tak hanya itu, dua alumni lainnya juga berhasil diterima di universitas yang sama, menjadikan Daarul Uluum satu-satunya pesantren di Indonesia yang mengirim tiga santri sekaligus ke kampus tersebut tahun ini.
Pihak universitas, lanjutnya, bahkan berharap agar tahun depan jumlah alumni yang diterima bisa meningkat hingga 10–15 orang. “Dari ratusan pendaftar, hanya alumni kita yang paling siap secara bahasa, performa, dan hafalan Qur’an,” ujarnya dengan bangga.
Berita lain yang membahagiakan datang dari Korean Youth Summit 2025, di mana empat santri Daarul Uluum berhasil lolos ke tahap berikutnya. “InsyaAllah ini menjadi bukti bahwa santri tidak kalah di panggung dunia,” tambahnya.
Namun di balik kabar gembira itu, Dr. Bay Amri mengajak hadirin untuk merenung lebih dalam tentang makna Hari Santri yang setiap tahun dirayakan dengan euforia. “Kita sering lupa,” katanya lembut, “bahwa sejarah Hari Santri lahir bukan dari panggung seremonial, melainkan dari seruan jihad para kiai yang dipimpin oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy‘ari.”
Beliau lalu mengajukan pertanyaan yang menancap dalam benak para santri:
“Mengapa kita merayakan Hari Santri, bukan Hari Kiai?”
Pertanyaan itu membuka refleksi yang hening. “Karena kiai tidak pernah mencari pengakuan,” lanjutnya, “ilmunya seluas lautan, ibadahnya sedalam samudera, dan perjuangannya seteguh badai. Tapi kiai tidak butuh hari khusus untuk dihormati—justru kiai ingin santrinya yang menjadi cermin perjuangan itu.”
Dr. Bay kemudian menyoroti perubahan zaman yang melanda generasi muda, termasuk santri.
“Santri sekarang hidup di era di mana mereka lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan arah,” ujarnya, disambut tawa lirih yang mengandung renungan. “Banyak di antara kita yang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan kesadaran. Kita sibuk tampil di mata dunia, tapi lupa menjadi diri sendiri.”
Kalimat itu menghantam ruang seperti gema kesadaran. Ia menggambarkan dunia yang semakin cepat: teknologi melesat, informasi membanjiri pikiran, tapi hati manusia semakin sunyi. “Bumi memanas,” katanya, “tapi jiwa kita membeku. Kita mengejar kesuksesan tanpa tahu apa itu makna bahagia.”
Dr. Bay mengajak para santri untuk berhenti sejenak, menata ulang kesadaran diri. “Hari ini, banyak orang tampak sukses di luar, tapi kosong di dalam. Banyak yang ingin masuk surga, tapi takut mati. Banyak pula yang menganggap kehinaan kiai sebagai bagian dari kemajuan zaman. Inilah krisis kesadaran yang harus kita lawan,” ujarnya tegas. Ia kemudian menyinggung perubahan besar yang terjadi di dunia modern. Dengan gaya khasnya yang memadukan sains dan spiritualitas, Dr. Bay menggambarkan bahwa bumi kini tengah “meningkatkan frekuensinya.”
“Dari tahun 2025 hingga 2030,” jelasnya, “bumi tidak hanya berubah secara fisik, tapi juga energi dan kesadarannya meningkat. Medan elektromagnetik bumi bergetar lebih cepat, dan semua makhluk di atasnya dipaksa menyesuaikan.” Manusia yang masih hidup dalam ketakutan dan kemarahan akan merasa semakin lelah dan stres. Namun mereka yang hidup dengan kesadaran akan justru merasa lebih ringan, lebih cepat pulih, dan lebih menikmati hidupnya. “Karena dunia ini sedang naik tingkat,” katanya, “dan hanya mereka yang sadar yang bisa mengikuti iramanya.”
Kalimat itu terasa seperti pesan futuristik yang menembus hati para santri. Bahwa menjadi santri di era digital bukan sekadar bisa menghafal Qur’an atau fasih berbahasa Arab dan Inggris. Lebih dari itu, santri harus menjaga kesadaran, agar tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus modernitas.
Menutup ceramahnya, Dr. Bay Amri memberikan pesan yang meneguhkan identitas santri:
“Kalian boleh melangkah sejauh mana pun, menuntut ilmu ke negeri mana pun. Tapi jangan lupa, kalian tetap santri di mana pun kalian berada. Kalian membawa misi kiai—misi keikhlasan, kesederhanaan, dan ketulusan.” Ia menatap para santri dengan senyum penuh harap.
“Persiapkan bukan hanya kesuksesan, tapi juga kesadaran. Karena menjadi santri berarti membawa amanah kiai, menjaga martabat pesantren, dan terus hidup dengan hati yang terhubung kepada Allah.”
Suasana Aula Dimyati pun dipenuhi tepuk tangan haru. Sorot mata para santri menunjukkan semangat baru: semangat untuk menjadi santri yang sadar, rendah hati, dan berdaya di tengah dunia yang berlari cepat. Sebelum azan magrib berkumandang, acara ditutup dengan doa bersama dan buka puasa sebuah simbol kesyukuran bahwa Hari Santri bukan sekadar peringatan, tetapi panggilan kesadaran.
Hari Santri Nasional bukan hanya tentang nostalgia sejarah, tetapi tentang menemukan kembali makna menjadi santri di masa kini. Santri masa depan bukan hanya penjaga kitab, tetapi penjaga kesadaranmereka yang tetap berpijak pada nilai, di tengah dunia yang bergerak dalam kecepatan dan kebisingan.
Sebagaimana pesan Dr. Tubagus Bay Amri Hakim,
“Tetaplah rendah hati, tetaplah menjaga martabat kiai, dan tetaplah sadar siapa dirimu.”