Tahfizhdulido.com – Ramadhan di lingkungan pesantren tidak pernah hadir sebagai rutinitas tahunan yang hampa makna. Ia selalu datang sebagai peristiwa batin, momentum perbaikan, sekaligus ruang evaluasi diri. Nuansa itulah yang terasa kuat dalam acara Ifthar Jama’i yang diselenggarakan di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido. Bertempat di Aula Drs. K.H. Ahmad Dimyati, kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB hingga selesai ini dihadiri oleh seluruh jajaran dewan guru dan seluruh santri, menghadirkan suasana hangat, reflektif, dan sarat pesan ruhani.
Pengajian ifthar diisi oleh Direktur pesantren, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, yang menyampaikan pengantar Ramadhan dengan pendekatan yang tidak hanya normatif, tetapi juga kontemplatif. Dalam pemaparannya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk meninjau kembali makna “marhaban ya Ramadhan”—ungkapan yang begitu akrab di telinga umat Islam, namun kerap kehilangan kedalaman maknanya karena terlalu sering diucapkan tanpa perenungan.
Mengutip penjelasan Muhammad Quraish Shihab, Abi Bay mengurai akar makna kata marhaban. Kata ini, menurut beliau, dapat ditelusuri setidaknya pada dua akar makna: rahba dan marhab. Rahba mengandung arti “tempat yang luas.” Namun, keluasan yang dimaksud bukanlah ruang fisik, melainkan kelapangan hati. Mengucapkan “marhaban ya Ramadhan” sejatinya berarti menyambut bulan suci dengan hati yang terbuka, lapang, dan penuh kegembiraan. Ramadhan bukan diterima sebagai beban, melainkan sebagai tamu agung yang dinanti.
Makna kedua, marhab, dimaknai secara simbolik sebagai “bengkel” atau “rest area.” Di sinilah Abi Bay menekankan sisi transformatif Ramadhan. Bengkel adalah tempat perbaikan; rest area adalah tempat mengambil jeda, mengisi ulang energi sebelum melanjutkan perjalanan. Dengan analogi ini, Ramadhan dipahami sebagai ruang perawatan spiritual: memperbaiki yang rusak, menambal yang kurang, dan menguatkan kembali komitmen yang melemah selama sebelas bulan sebelumnya.
Perspektif ini menempatkan Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi fase rekonstruksi diri. Jika selama setahun terdapat defisit dalam kualitas ibadah, keikhlasan, atau kedalaman mahabbah kepada Allah, maka Ramadhan adalah momentum untuk menutup defisit tersebut. Ia menjadi ruang rehabilitasi jiwa, bukan hanya peningkatan ritual.
Dalam kerangka itulah Abi Bay mengingatkan tiga hal fundamental yang perlu dipersiapkan oleh santri: ilmu, fisik, dan target. Pertama, persiapan ilmu. Ibadah, khususnya puasa, tidak cukup dijalani secara emosional atau tradisional. Ia membutuhkan pemahaman fikih yang benar agar ibadah tidak terjebak pada formalitas menahan lapar dan dahaga semata. Pengetahuan menjadi fondasi agar praktik ibadah memiliki validitas sekaligus kesadaran.
Kedua, persiapan fisik. Spiritualitas dalam Islam tidak menafikan dimensi jasmani. Kesehatan menjadi prasyarat penting bagi optimalisasi ibadah. Tilawah, tadarus, muraja’ah, qiyamullail, hingga tarawih menuntut stamina yang prima. Pesan ini menjadi pengingat bahwa menjaga tubuh juga bagian dari menjaga amanah ibadah.
Ketiga, persiapan target. Ramadhan, tegas Abi Bay, tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa capaian yang terukur. Target menjadikan ibadah lebih terarah dan progresif. Contoh-contoh konkret pun disampaikan: komitmen tidak meninggalkan tahajud, peningkatan jumlah rakaat qiyamullail, hingga target khataman Al-Qur’an. Dengan target, Ramadhan menjadi proyek pertumbuhan, bukan sekadar perayaan musiman.
Semangat ini selaras dengan berbagai program Ramadhan yang telah disiapkan pesantren. Ragam kegiatan seperti Tasmi’ Ramadhan, Ifthar Jama’i, festival desain bertema Ramadhan, orasi Islam inspiratif, hingga program tarawih satu juz per malam menunjukkan bahwa Ramadhan di pesantren bukan hanya tentang ibadah individual, tetapi juga pengalaman kolektif yang edukatif dan kreatif. Atmosfer keilmuan, seni, dan spiritualitas berpadu dalam satu ekosistem pembinaan.
Menariknya, Abi Bay juga menyinggung aspek motivasional melalui pendekatan apresiatif. Adanya penghargaan bagi capaian tertentu—baik bagi santri maupun guru—menunjukkan bahwa budaya kompetisi dalam kebaikan tetap dijaga. Apresiasi tidak semata tentang hadiah, tetapi tentang pengakuan atas kesungguhan dan disiplin dalam beribadah.
Momentum ifthar tersebut juga menjadi ajang perkenalan sosok guru baru, seorang kader pesantren yang baru kembali dari Damaskus, Suriah. Beliau bernama Ust. Mufarrih Yazid, Lc., Kehadiran beliau menambah dimensi global dalam pengalaman keilmuan santri. Dalam sambutannya yang sederhana dan penuh kehangatan, sang ustadz berbagi kesan tentang kehidupan dan suasana Ramadhan di negeri Syam.
Narasi tentang Damaskus menghadirkan perspektif yang berbeda. Ramadhan digambarkan bukan hanya sebagai praktik ibadah, tetapi juga pengalaman sosial yang kuat. Tradisi berbagi makanan, keramahan masyarakat, hingga atmosfer religius yang khas menunjukkan bahwa nilai-nilai Ramadhan hidup dalam budaya sehari-hari. Refleksi ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa keberkahan Ramadhan juga sangat ditentukan oleh ekosistem sosial yang mendukung.
Lebih dari sekadar cerita perjalanan, sambutan tersebut memancarkan pesan penting tentang syukur dan adaptasi. Perbedaan budaya, bahasa, hingga iklim menjadi pengingat bahwa perjuangan menuntut ilmu selalu disertai dinamika dan tantangan. Nilai ketekunan dan ketahanan mental menjadi pelajaran tersendiri bagi santri.
Ifthar Jama’i di Pesantren pada akhirnya bukan hanya kegiatan berbuka bersama. Ia menjelma menjadi ruang transmisi nilai, penguatan visi, dan penyegaran orientasi spiritual. Ramadhan tidak ditempatkan sebagai tradisi seremonial, melainkan sebagai laboratorium perbaikan diri.
Di tengah dunia yang kerap mengerdilkan makna ibadah menjadi rutinitas formal, pengingat-pengingat semacam ini menjadi sangat relevan. Marhaban ya Ramadhan bukan sekadar ucapan selamat datang. Ia adalah deklarasi kesiapan hati: untuk memperbaiki, mengisi, dan bertumbuh. Ramadhan adalah bengkel jiwa—dan setiap jiwa yang sadar, akan masuk ke dalamnya dengan kerendahan hati dan harapan besar.