Tahfizhdulido.com – Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido menggelar acara The Outstanding Student Award for Tahfizh Program atau Penganugerahan Bintang Pelajar (Takriimul Mutafawwiqin) pada hari Jumat (27/06/2025) di Masjid Al-Maktoem. Penganugerahan ini merupakan bentuk apresiasi pesantren terhadap santri yang berprestasi khususnya selama satu semester atau setelah menyelesaikan Penilaian Akhir Semester Genap 2024/2025.

Acara yang begitu khidmah, Ust. Khoirul Ibad, Lc., M.Ag selaku Kepala Bagian Pengajaran dan Pengembangan Kurikulum (BPPK) membakan daftar santri berprestasi. Beberapa diantaranya dimulai dari Juara Kelas, Juara Paralel, Juara Umum, Bintang Pelajar, Bintang Pelajar dalam kategori Tahfizhy, dan Tasyji’ Quran. dan disamping pembacaan kriteria tersebut, Direktur Pesantren Tahfizh Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed. juga ikut membacakan kategorisasi Juara Kelas.

Bersamaan dengan terselenggaranya penganugerahan Bintang Pelajar ini, Pimpinan Pesantren Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I. Lc memberikan taujihat wal irsyadat. Acara penganugerahan Bintang pelajar juga dihadiri oleh civitas dewan guru baik wali kelas maupun guru mata pelajaran.

“Kenikmatan itu bukan dilihat dari penghargaanya, melainkan dari istoqmahnya antum berada di Pesantren ini. beliau juga mengingatkan bahwa rasa syukur yang harus dipegang dalam pembelajran dipesantren adalah bukti bahwa kita bukan termasuk orang yang rugi, justru di umur saat ini (para santri) adalah waktu yang pas untuk memupuk untuk meraih masa depan yang cerah. Jangan pernah merasa bahwa hidup dipesantren tidak senyaman dengan mereka yang bersekolah diluar, “kesengsaraan” kita yang selama ini kita rasakan adalah bentuk kasih sayang Allah menjaga kita dari godaan yang membuat kita semakin terlena.” Tutur Kiai Yazid Dimyati, STh.I.Lc.

Kehidupan diluar sudah banyak tercampur dengan pergeseran makna belajar. Pimpinan Pesantren juga mengingatkan bahwa kesabaran dan rasa syukur yang kita pupuk saat ini jangan pernah kita terpengaruh oleh mereka yang sudah mendahului merasakan kenikmatan yang kita inginkan. Sebelum mengakhiri irsyadat-nya beliau memberikan refleksi berupa pertanyaan untuk menyadarkan agar tidak terlalu cepat merasa paling bahagia. Beliau memberikan pertanyaan, Siapa seorang yang diberikan Mumtaz itu? Siapa sosok santri itu? Siapa yang menyandang alumni itu? Bahkan siapa yang pantas menyandang gelar Hafizh AL-Quran itu?. Lantas beliau menjawab dengan lantang bahwa sosok yang disebutkan tersebut adalah mereka (Santri) yang hatinya selalu terpaut dengan Al-Quran, Pesantren, juga Kiainya.

Maka siapapun yang hatinya belum ada rasa keterpautan dengan kriteria tersebut maka selayaknya terdapat sifat kemunafikan, kebohongan, bahkan ketidakjujuran. Anjuran yang beliau sampaikan seraya mengajak kepada kita untuk selalu memohon agar ditautkan hati kita kepada Allah. Sehingga proses hati kita wa bil khusus ketika sudah menjadi bagian keluarga Alumni selalu tesambung dengan Pesantren.