Tahfizhdulido.com – Pada malam tanggal 1 Oktober 2025, suasana Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido dipenuhi semangat baru. Santri putra dan putri berkumpul bersama para guru, jajaran civitas akademik untuk menghadiri pembukaan Musyawarah Besar Organisasi Santri Tahfizh Al-Qur’an. Tema yang diusung kali ini sangat visioner: “Sailing with Integrity: Navigating Waves of Challenges Toward Strong and Characteristic Leadership.”

Acara pembukaan turut dihadiri oleh Khadim al-Ma’had Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., serta Direktur Tahfizh Dulido, Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed. Kehadiran mereka memberikan nuansa khidmat sekaligus motivasi mendalam bagi seluruh peserta. Tidak hanya sekadar seremonial, momen ini menandai titik awal transisi penting dalam roda organisasi santri, di mana kepemimpinan lama menyerahkan tongkat estafet kepada generasi penerus.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسۚ

(Masa itu Kami pergilirkan di antara manusia, agar mereka mendapat pelajaran).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa pergantian kepemimpinan adalah sunnatullah, bagian dari pendidikan, dan peluang untuk terus belajar.

Suasana Pembukaan: Doa, Harapan, dan Motivasi

Acara dimulai dengan doa bersama, memohon keteguhan dalam belajar, bekerja, dan mengabdi kepada pesantren. Sambutan demi sambutan menekankan pentingnya kepemimpinan sebagai bentuk ibadah, di mana pemimpin bukan sekadar posisi, melainkan amanah. Para santri diajak untuk memahami bahwa berbuat salah itu mudah, sementara mempertahankan kebaikan penuh rintangan. Karena itu, doa yang konsisten adalah bekal utama agar tetap teguh dalam ketaatan. Pesan motivasi juga diarahkan kepada para penghafal Al-Qur’an. Menghafal bukan sekadar prestasi intelektual, melainkan tanda keberkahan ilahi yang harus dijaga dengan ketekunan. Disiplin dan konsistensi yang dibangun dalam menghafal Al-Qur’an seyogyanya tercermin pula dalam kepemimpinan dan kehidupan organisasi sehari-hari.

Kepemimpinan sebagai Ibadah

Kepemimpinan dalam organisasi santri dipandang bukan sebagai kehormatan yang harus dibanggakan, melainkan ladang ibadah penuh tanggung jawab. Estafet kepemimpinan menandai perubahan peran: ada yang selesai mengabdi, ada yang memulai masa baktinya. Harapannya, transisi ini membawa bimbingan dan kesuksesan di masa khidmat baru. Musyawarah besar ini juga menjadi momentum untuk mengingatkan kembali Khadim mengutip dari Gurunya yaitu Alm. Kiai Musthafa Ali Ya’kub pimpinan pesatren Daarus Sunnah yaitu, tiga pilar utama pendidikan pesantren: pengajaran (ta’lim), organisasi (tandzim), dan rekreasi (tasriyah). Organisasi santri tidak berdiri sendiri, melainkan bagian integral dari pendidikan holistik yang membentuk kepemimpinan berbasis pelayanan.

Seperti layar kapal yang menantang ombak, organisasi santri juga menghadapi tantangan. Risiko pertama adalah munculnya rasa puas diri atau kelelahan dalam mengabdi. Hal ini dapat melemahkan semangat melayani. Kedua, transisi kepemimpinan seringkali menimbulkan gesekan atau penolakan. Ketiga, kesalahpahaman mengenai peran pengurus yang justru dianggap sebagai posisi untuk mencari status atau dilayani. Semua risiko ini perlu ditindak lanjuti. Doa, bimbingan guru, serta komitmen untuk menjaga budaya melayani menjadi kunci. Upacara dan seremoni memang penting, tetapi jangan sampai menutupi substansi: pelayanan, tanggung jawab, dan keteladanan.

Musyawarah besar kali ini juga menegaskan kembali bahwa organisasi adalah ruang belajar yang tak kalah penting dibanding ruang kelas. Santri belajar tentang manajemen dapur, distribusi air, keamanan malam, hingga pengadaan kebutuhan sehari-hari. Semua pengalaman itu membentuk karakter kemandirian, tanggung jawab, dan keterampilan praktis yang kelak sangat berguna ketika mereka terjun ke masyarakat. Namun, pesantren juga menyadari adanya keterbatasan. Tidak semua praktik lama bisa dijalankan secara penuh karena kondisi berbeda. Misalnya, pengadaan kebutuhan tidak lagi sepenuhnya dikelola santri. Meski demikian, prinsip pelayanan tetap harus dijaga, dan organisasi harus tetap menjadi ruang pendidikan kepemimpinan yang realistis.

Filosofi Kepemimpinan: Siap Memimpin, Siap Dipimpin

Nilai utama yang ditekankan adalah filosofi “siap memimpin sekaligus siap dipimpin.” Tidak ada pemimpin yang selamanya berada di atas. Setiap pemimpin harus siap suatu saat kembali menjadi bagian dari barisan, belajar untuk taat, dan memberi kesempatan bagi yang lain. Proses ini mengajarkan kerendahan hati. Rotasi kepemimpinan bukan sekadar formalitas, melainkan latihan nyata dalam membangun karakter. Pemimpin yang baik bukan hanya yang tegas, tetapi juga adil, empatik, dan berintegritas. Santri juga diajak untuk melakukan refleksi pribadi. Dendam atau kekecewaan masa lalu tidak boleh terbawa dalam kepemimpinan baru. Jika ada pengalaman pahit, harus diselesaikan melalui rekonsiliasi agar tidak menjadi sumber penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam konteks ini, organisasi santri (Ostada) dipandang sebagai wadah kepemimpinan. Identitas bersama sebagai pelajar Al-Qur’an menjadi dasar, sehingga tidak boleh ada faksi atau kelompok eksklusif. Semua anggota organisasi memiliki tujuan yang sama: mengabdi kepada pesantren, mendidik diri, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masyarakat. Keterlibatan dalam organisasi tidak hanya melatih keterampilan manajemen, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa kepemimpinan adalah bentuk tanggung jawab sosial. Acara pembukaan musyawarah besar ini pada akhirnya bukan hanya tentang pergantian struktur organisasi, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif: kepemimpinan adalah amanah, ibadah, sekaligus proses pendidikan karakter. Dari pesantren, santri belajar untuk berdisiplin, melayani, dan memimpin dengan hati. Ketika kelak mereka kembali ke masyarakat, nilai-nilai itu akan menjadi bekal untuk memimpin dengan integritas, menghadapi tantangan, dan tetap berakar pada tradisi Qur’ani. Musyawarah besar bukan sekadar acara rutin, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen: sailing with integrity, menavigasi gelombang tantangan dengan arah yang jelas menuju kepemimpinan santri yang kuat, berkarakter, dan berdaya guna bagi umat.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag