Tahfizhdulido.com – Musyawarah Besar (MUBES) kembali menjadi bagian penting dalam dinamika kehidupan organisasi santri di Pesantren Tahfizh Daarul ‘Uluum Lido. Pembukaan MUBES pada Kamis (1/10/2026) malam di Lapangan Pesantren tidak sekadar menandai dimulainya rangkaian pergantian kepengurusan Organisasi Santri Daarul ‘Uluum (OSTADA), tetapi juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa kepemimpinan di pesantren bukan tentang jabatan, melainkan tentang kesiapan untuk memimpin sekaligus dipimpin.
Dalam irsyadat wa taujihat, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., mengingatkan bahwa MUBES merupakan ruang pendidikan kepemimpinan yang harus dipahami oleh seluruh santri. Menurutnya, setiap santri pada waktunya akan berhadapan dengan tanggung jawab organisasi. Karena itu, proses MUBES perlu dipandang sebagai bagian dari pembelajaran, bukan sekadar agenda tahunan.
“Musyawarah besar ini adalah satu ajang untuk santri belajar memimpin, dan tentunya harus siap juga dipimpin,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan MUBES tahun ini diawali dengan sejumlah tahapan, mulai dari KMD, TLM, laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, hingga proses pemilihan dan serah terima jabatan. Rangkaian tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada calon pengurus dalam memahami tanggung jawab organisasi.
Bagi Dr. Tubagus Bay, kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari struktur dan tata kelola. Ketika seorang ketua OSTADA telah ditetapkan, seluruh pengurus harus mampu bekerja dalam satu komando. Demikian pula seluruh santri berkewajiban mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Di sisi lain, ketua dan pengurus juga tetap berada dalam garis koordinasi pengasuhan dan pimpinan pesantren.
Hierarki tersebut, menurutnya, bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki kewenangan lebih tinggi, tetapi merupakan latihan agar santri memahami bagaimana sebuah organisasi berjalan secara tertib.
Dari “Better Day” hingga Budaya Disiplin
Salah satu pesan yang ditekankan dalam tausiah tersebut adalah pentingnya membangun kebiasaan positif melalui prinsip “Better Day”. Gagasan ini diperoleh Dr. Tubagus Bay dari pengalamannya ketika berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor.
Ia menceritakan perjalanan bersama keluarga menuju Gontor yang ditempuh menggunakan bus selama sekitar 14–15 jam. Selama berada di sana, ia mengamati secara langsung kehidupan santri, mengikuti sejumlah kegiatan, serta menyimak tausiah pimpinan pesantren.
Dari pengamatan tersebut, ia menemukan satu pesan yang terus diulang: kehidupan santri harus bergerak menuju hari yang lebih baik.
“Setiap hari harus menjadi better day. Hari ini lebih baik, besok lebih baik, minggu depan lebih baik, sampai akhirnya menjadi lebih baik,” jelasnya.
Namun, “Better Day” yang disampaikan bukan sekadar slogan. Ia kemudian merumuskannya dalam empat nilai utama: bersih, tertib, teratur, dan disiplin.
Bersih berarti menjaga kebersihan diri, kamar, kelas, masjid, kamar mandi, serta lingkungan pesantren. Tertib berarti mengikuti aturan dan jadwal yang telah ditetapkan. Teratur berarti mampu menata barang, mengikuti antrean, dan menjaga keteraturan dalam aktivitas sehari-hari. Sementara disiplin berarti mampu menghargai waktu dan menaati aturan yang telah disepakati.
Pesan tersebut menjadi penting karena persoalan kedisiplinan di pesantren sering kali bukan disebabkan oleh ketidaktahuan, melainkan karena kebiasaan yang belum terbentuk. Karena itu, nasihat yang sama harus terus diulang sampai menjadi karakter.
BSU: Membentuk Versi Terbaik Diri Santri
Selain “Better Day”, Dr. Tubagus Bay memperkenalkan gagasan BSU—Best Self of You, sebagai ajakan agar pesantren menjadi ruang bagi santri untuk menemukan dan membentuk versi terbaik dari dirinya.
BSU dirumuskan melalui lima karakter: Berani, Estetis, Sinergi, Konsisten, dan Ulet.
Berani berarti berani berada di jalan kebenaran, termasuk berani berkata jujur dan mengakui kesalahan. Estetis berarti menjaga kerapian penampilan, kamar, dan ruang belajar. Sinergi berarti mampu bekerja sama dengan teman, tim, pengurus, maupun unsur lain di lingkungan pesantren.
Sementara konsisten berkaitan dengan kesungguhan dalam menjalankan proses, terutama dalam menghafal Al-Qur’an, murajaah, tadarus, dan ibadah. Adapun ulet berarti tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan akademik maupun dinamika kehidupan pesantren.
Kelima nilai tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan pesantren tidak cukup diukur dari capaian akademik. Karakter, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi kesulitan juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Persoalan Kecil yang Menentukan Karakter Besar
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Tubagus Bay juga menyinggung sejumlah persoalan keseharian santri, mulai dari kebersihan ompreng, keterlambatan mencuci peralatan makan, persoalan lauk, hingga barang-barang yang sering “hilang”.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua barang yang dianggap hilang benar-benar dicuri. Sebagian persoalan justru muncul karena kelalaian dan kemalasan. Barang yang jatuh tidak segera diambil, pakaian tidak segera diamankan, atau barang pribadi tidak ditempatkan dengan baik.
Karena itu, ia meminta agar santri belajar bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri sekaligus menghargai hak milik orang lain.
“Jangan sampai barang yang hilang membuat semangat kalian juga hilang,” pesannya.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter justru sering kali diuji melalui hal-hal sederhana. Menjaga kebersihan kamar, mencuci ompreng tepat waktu, mengambil handuk yang jatuh, mengikuti antrean, dan mengembalikan barang pada tempatnya merupakan latihan tanggung jawab yang kelak terbawa ketika santri berada di tengah masyarakat.
Aturan Bukan untuk Mempersulit
Persoalan perizinan juga menjadi perhatian. Dr. Tubagus Bay menegaskan bahwa pesantren tidak bermaksud mempersulit santri yang memiliki kebutuhan jelas, terutama ketika berkaitan dengan kondisi kesehatan.
Menurutnya, yang perlu dibangun adalah pemahaman bahwa pesantren memiliki aturan yang harus dihormati. Perizinan bukan dibuat untuk menghambat, melainkan untuk menjaga keteraturan dan memastikan setiap aktivitas santri dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, persoalannya bukan apakah aturan terasa mudah atau sulit, tetapi apakah aturan yang telah disepakati dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
MUBES dan Estafet Kepemimpinan
Menutup arahannya, Dr. Tubagus Bay berharap seluruh rangkaian MUBES dapat berlangsung dengan baik. Kepengurusan OSTADA masa khidmat 2025–2026 diharapkan mampu mengakhiri masa tugasnya dengan pertanggungjawaban yang baik, sementara calon pengurus masa khidmat 2026–2027 dipersiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.
MUBES dengan demikian bukan sekadar forum memilih siapa yang akan menjadi ketua. Di dalamnya terdapat proses belajar mempertanggungjawabkan amanah, memahami struktur organisasi, bekerja dalam tim, menaati aturan, dan menerima keputusan bersama.
Lebih jauh, MUBES mengajarkan satu prinsip sederhana tetapi mendasar: setiap orang yang ingin menjadi pemimpin harus terlebih dahulu belajar menjadi pribadi yang mampu dipimpin.
Karena itu, seluruh santri diajak untuk mengikuti rangkaian MUBES dengan sungguh-sungguh. Sebab, mereka yang hari ini menjadi anggota organisasi, esok hari bisa menjadi pengurus. Mereka yang hari ini belajar mengikuti aturan, suatu saat akan menjadi pihak yang bertugas menegakkan aturan.
Pada akhirnya, keberhasilan MUBES tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih menjadi pengurus. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana proses tersebut mampu melahirkan santri yang lebih bersih, tertib, teratur, disiplin, berani, mampu bekerja sama, konsisten, dan ulet.
Sebab, pemimpin yang baik tidak lahir hanya dari sebuah pemilihan. Ia dibentuk melalui proses panjang: belajar, menerima tanggung jawab, menghadapi kesalahan, memperbaiki diri, dan terus bergerak menuju versi terbaik dirinya.


