Tahfizhdulido.com – Pada tanggal 8 Februari 2026, Masjid Al-Maktoum menjadi saksi sebuah majelis yang bukan sekadar ritual rutin keagamaan. Hadroh dan pembacaan Nailul Khoirot yang dipimpin langsung oleh Khodimul Ma’had, Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., menghadirkan suasana batin yang khusyuk, sekaligus membuka ruang refleksi yang jauh lebih dalam tentang makna spiritualitas, sanad keilmuan, dan arah keberpihakan umat Islam hari ini.

Majelis yang dilaksanakan ba’da Maghrib ini mengundang seluruh Dewan Guru untuk hadir dan membersamai. Namun, lebih dari sekadar undangan formal, acara ini menjadi pengingat penting: bahwa tradisi, wirid, dan hadroh bukanlah aktivitas kosong tanpa makna sosial, melainkan pintu untuk merawat hati dan meneguhkan orientasi hidup seorang muslim.

Mengikat Hati dengan Wajah Guru

Dalam salah satu petuahnya, Kiai Yazid menyinggung sebuah praktik sederhana namun sarat makna: membayangkan wajah para guru saat berwirid dan berdzikir. Bahkan, beliau menyimpan foto-foto guru dan ulama di gawai pribadinya, agar setiap kali membuka ponsel, yang pertama kali dilihat bukan hiruk-pikuk dunia, melainkan wajah-wajah yang menuntun ruhani.

Cara ini bukan romantisme berlebihan, melainkan strategi menjaga keterhubungan batin. Dalam tradisi tasawuf, keterikatan hati kepada guru (rabithah) bukanlah kultus, tetapi sarana mendisiplinkan jiwa agar tetap rendah hati, terarah, dan tidak mudah liar oleh nafsu dan ego. Hati yang terikat kepada para ulama adalah hati yang tahu ke mana harus pulang.

Sosok Sheikh Alauddin dan Cahaya Persatuan

Dalam lanjutan mau’izhahnya, Kiai Yazid mengisahkan satu figur penting dalam dunia tasawuf kontemporer: Sheikh Alauddin Abu Al-Azaim, satu-satunya garis keturunan yang tersisa dari Sheikh Muhammad Mahdi Abu Razak. Di usia 85 tahun, Sheikh Alamuddin justru menampilkan keteguhan fisik dan spiritual yang mengagumkan—sebuah gambaran tentang keberkahan umur yang lahir dari kesucian hidup.

Namun, keistimewaan Sheikh Alamuddin bukan hanya pada usia dan silsilahnya, melainkan pada perannya yang monumental: berhasil menyatukan seluruh tarekat di Mesir. Sebuah prestasi yang tidak mudah, mengingat dinamika tarekat di Mesir jauh lebih kompleks dibandingkan Indonesia yang memiliki wadah seperti JATMAN (Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah).

Di Mesir, masing-masing tarekat berdiri dengan otoritas dan ego spiritualnya sendiri. Penyakit klasik para Kiai atau Ustadz—iri, dengki, dan perebutan pengaruh—kerap menjadi penghalang persatuan. Namun, dengan cahaya keikhlasan dan kebeningan hati, Sheikh Alamuddin mampu menghadirkan satu majelis bersama, satu rasa persaudaraan, dan satu visi kebersamaan. Sejak saat itu, beliau diakui lintas tarekat sebagai tokoh sufi pemersatu.

Tasawuf yang Tidak Netral

Menariknya, tasawuf yang diajarkan Sheikh Alauddin bukan tasawuf yang apolitis atau menjauh dari realitas. Justru sebaliknya. Beliau dikenal tegas menolak sikap netral terhadap penjajahan dan penindasan. Dalam pandangannya, membeli dan mendukung produk yang secara nyata menopang kezaliman terhadap umat Islam adalah persoalan moral dan spiritual.

Sikap ini menegaskan bahwa tasawuf bukan sekadar urusan zikir dan khalwat, tetapi juga keberpihakan. Sejarah mencatat bagaimana tokoh-tokoh sufi seperti Shaikh Muhammad Madhi Abu al Azaim di Sudan memimpin perlawanan terhadap penjajahan Inggris, bahkan rela dipenjara demi membela martabat umat.

Spiritualitas, dalam kacamata para sufi sejati, adalah energi pembebasan—bukan pelarian dari tanggung jawab sosial.

Meluruskan Arah Kebencian

Namun, di titik inilah Kiai Yazid memberikan penekanan yang sangat penting dan relevan. Dalam semangat melawan penjajahan dan permusuhan terhadap Islam, umat sering kali salah arah dalam menentukan objek kebencian.

Beliau menegaskan: kebencian kita kepada pihak yang memerangi dan menghancurkan Islam tidak boleh dikalahkan oleh kebencian kepada sesama muslim yang berbeda paham. Perbedaan amaliyah—seperti soal madad ya Rasulullah—tidak boleh melahirkan permusuhan yang lebih keras daripada sikap kita terhadap penjajah dan penindas umat.

Kelompok yang mengkafirkan amaliyah tertentu bukanlah musuh yang harus diperangi, melainkan saudara yang perlu dipahamkan. Mereka tetap satu iman, satu kiblat, satu Al-Qur’an, dan satu tauhid. Maka respons yang lahir bukan kebencian berlipat, melainkan kedewasaan beragama.

Di sinilah letak kebijaksanaan para ulama dan sufi: tegas terhadap penjajahan, lembut terhadap sesama muslim.

Penutup: Spirit Majelis yang Perlu Dirawat

Majelis hadroh dan Nailul Khoirot malam itu bukan hanya agenda keagamaan, tetapi ruang penyadaran. Ia mengajarkan bahwa spiritualitas sejati menuntut tiga hal sekaligus: keterikatan hati kepada guru, keberanian bersikap terhadap ketidakadilan, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Di tengah umat yang mudah terpecah oleh ego, simbol, dan perbedaan furu’iyyah, pesan ini terasa semakin relevan. Bahwa merawat hati adalah jalan awal untuk merawat persatuan. Dan dari persatuan itulah, martabat umat bisa kembali ditegakkan.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag