Pengajian kitab al-Syaraf al-A‘lā fī Isrā’i Man Danā Fa Tadallā berlangsung dengan penuh kekhidmatan di Masjid Al-Hadi, Pesantren Modern Daarul Uluum Lido, pada Selasa, 20 Januari 2026. Bersama Khādim al-Ma‘had, para jamaah diajak menyelami satu pelajaran mendasar: bahwa peristiwa agung Isrā’ dan Mi‘rāj tidak cukup dipahami sebagai kisah sejarah semata, melainkan perlu diselami hingga ke kedalaman makna dan rahasianya.
Dalam pandangan para ulama ma‘ānī dan kaum sufi, Isrā’ dan Mi‘rāj menyimpan mutiara-mutiara hikmah yang tak akan tersingkap jika hanya didekati melalui perspektif tarikh dan kronologi. Ia adalah peristiwa ruhani yang melampaui batas ruang, waktu, dan nalar material.
Secara historis, Isrā’ dan Mi‘rāj terjadi setelah fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, yang dikenal sebagai ‘Ām al-Ḥuzn (Tahun Kesedihan). Pada masa itu, Nabi kehilangan dua sosok pelindung terpenting dalam hidupnya: pamannya, Abu Ṭālib, yang selama ini menjadi benteng dari gangguan kaum Quraisy, dan istrinya tercinta, Khadījah ra., tempat beliau mencurahkan keluh kesah sekaligus penguat jiwa. Duka ini kian mendalam setelah penolakan penduduk Ṭā’if, yang bukan hanya menolak dakwah, tetapi juga melukai Nabi dengan lemparan batu.
Dalam kacamata sejarah, Isrā’ dan Mi‘rāj kerap dipahami sebagai bentuk hiburan ilahi bagi Nabi yang tengah berduka. Namun Syekh al-Sa‘ād—sebagaimana dijelaskan dalam pengajian ini—tidak berhenti pada lapisan permukaan tersebut. Ia justru mengajak pembaca menyelami sirr (rahasia) Isrā’ dan Mi‘rāj dengan pendekatan ruhani, bukan sekadar kronologis.
Menurut pandangan Ahl al-Ma‘ānī dan Ahl al-Qulūb, Isrā’ dan Mi‘rāj adalah peristiwa kosmik yang melibatkan tidak hanya bumi, tetapi juga langit. Sebagaimana bumi dimuliakan dengan kehadiran Nabi Muhammad ﷺ, penduduk langit—para malaikat—juga merindukan pancaran rahmat beliau. Inilah makna mendalam dari firman Allah: “Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil ‘ālamīn.” Rahmat Nabi tidak terbatas pada alam manusia, melainkan meliputi seluruh lapisan wujud: alam materi dan nonmateri, alam dunia dan alam malakut, bahkan alam jabarut.
Salah satu hikmah utama Isrā’ dan Mi‘rāj adalah sebagai ujian keimanan. Bagi kaum Quraisy yang ingkar, peristiwa ini dianggap mustahil secara logika. Abu Jahal dengan sinis mempertanyakan bagaimana mungkin Nabi pergi ke Masjid al-Aqsha dan kembali ke Makkah hanya dalam satu malam. Namun bagi orang-orang beriman, peristiwa ini justru menjadi medan pembuktian iman yang sejati.
Sikap Abu Bakar as-Ṣiddīq ra. menjadi teladan abadi dalam hal ini. Ketika ditanya apakah ia mempercayai apa yang disampaikan Nabi, jawabannya sederhana namun sangat dalam: “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya.” Tanpa ragu, tanpa syarat. Inilah iman yang melampaui perhitungan rasio. Sebab bagi Allah, hukum sebab-akibat bukanlah batasan. Sebagaimana api yang membakar Nabi Ibrahim namun tidak melukainya, demikian pula perjalanan Nabi Muhammad ﷺ menembus ruang dan waktu bukanlah perkara sulit bagi Allah.
Pengajian ini juga menyoroti bahwa setiap nabi memiliki “mi‘rāj”-nya masing-masing. Nabi Adam ‘alaihissalām dimi‘rājkan dengan kehidupannya di surga. Nabi Nuh ‘alaihissalām diselamatkan melalui bahtera dari banjir dahsyat. Nabi Ibrahim ‘alaihissalām diperlihatkan alam malakut dan tabir-tabir gaib. Nabi Musa ‘alaihissalām berdialog langsung dengan Allah di Bukit Thur. Namun Mi‘rāj Nabi Muhammad ﷺ melampaui semuanya. Beliau tidak berhenti pada malakut atau jabarut, tetapi mencapai Sidratul Muntaha, pada jarak yang digambarkan sebagai qāba qawsayn aw adnà.
Hal ini menegaskan kemuliaan maqam Rasulullah ﷺ sebagai Sayyid al-Mursalīn, pemimpin seluruh nabi dan rasul. Tidak mengherankan bila dalam peristiwa Isrā’, Nabi Muhammad ﷺ menjadi imam shalat bagi seluruh nabi di Baitul Maqdis—sebuah simbol bahwa kepemimpinan spiritual umat manusia berpuncak pada diri beliau.
Lebih jauh, Isrā’ dan Mi‘rāj juga mengajarkan hakikat kebersamaan ilahi. Allah senantiasa membersamai para nabi-Nya: bersama Nabi di Gua Tsur, bersama Yusuf di dalam sumur, bersama Yunus di perut ikan. Kebersamaan Allah ini tidak terikat ruang dan arah, karena Allah Mahasuci dari batasan tempat dan waktu. Ia tidak “bertempat” sebagaimana makhluk, sebab kebutuhan akan tempat adalah sifat makhluk, bukan sifat Sang Pencipta.
Dalam perspektif sufistik, rahasia Mi‘rāj bukan semata karena kesedihan Nabi, melainkan juga karena kerinduan penduduk langit—para malaikat—untuk berjumpa dengan kekasih Allah. Kerinduan menuntut kehadiran, sebab cinta sejati selalu ingin berjumpa, bukan sekadar diucapkan. Maka Nabi dihadirkan ke alam-alam langit untuk memenuhi kerinduan kosmik tersebut.
Pengajian ini juga mengajak kita merenungkan makna “wujud”. Tidak semua yang ada harus bersifat material. Ada wujud yang kasatmata dan dapat disentuh, namun ada pula wujud maknawi yang hanya dapat dipahami melalui isyarat dan wahyu. Bahkan realitas akhirat—surga dan neraka—adalah wujud sejati yang kelak akan dibukakan tabirnya. Pemahaman ini penting agar manusia tidak terjebak dalam cara pandang materialistik yang menolak sesuatu hanya karena tidak terlihat oleh mata.
Pada akhirnya, Isrā’ dan Mi‘rāj bukan sekadar peristiwa masa lalu. Ia adalah cermin keimanan, undangan untuk melampaui batas logika menuju keyakinan, serta pengingat bahwa cinta dan rindu sejati selalu berujung pada perjumpaan. Sebuah pelajaran abadi bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah dengan hati, bukan semata dengan nalar.