Tahfizhdulido.com – Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido menggelar apel pembukaan Simulasi Hifzhu Suwar pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 06.30 WIB di lapangan depan mading. Kegiatan ini diikuti oleh santri kelas akhir (Nihaie kelas 6), guru pengabdian Zythera, serta guru pengabdian tahun kedua hingga keempat. Apel dipimpin oleh Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., yang menegaskan bahwa simulasi bukan sekadar kegiatan seremonial menjelang ujian, melainkan bagian penting dari sistem pendidikan pesantren untuk membentuk kedisiplinan, pola pikir sistematis, dan tanggung jawab santri terhadap hafalan Al-Qur’an.

Dalam arahannya, Dr. Tubagus Bay mengingatkan bahwa Hifzhu Suwar merupakan salah satu program khas yang telah dirintis sejak masa almarhum pendiri pesantren. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada kemampuan santri menghafal sejumlah surah pilihan, tetapi juga dirancang untuk membekali mereka dengan kompetensi keagamaan yang dapat diterapkan ketika melanjutkan pendidikan maupun terjun ke tengah masyarakat.

Hifzhu Suwar dan Bekal Santri di Tengah Masyarakat

Hifzhu Suwar memiliki posisi tersendiri dalam pendidikan Al-Qur’an di Daarul ‘Uluum Lido. Program ini menjadi salah satu identitas pendidikan pesantren yang diwariskan dan terus dikembangkan dari generasi ke generasi.

Dr. Tubagus Bay menjelaskan bahwa program tersebut memiliki tujuan yang melampaui pencapaian hafalan semata. Salah satunya ialah membuka peluang bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, yang dalam konteks tertentu mensyaratkan kemampuan menghafal Al-Qur’an dalam jumlah tertentu. Selain itu, hafalan surah-surah pilihan juga dipersiapkan sebagai bekal praktis bagi santri ketika kembali ke masyarakat.

Kemampuan menghafal Surah Yasin, Ar-Rahman, Al-Waqi‘ah, dan surah-surah pilihan lainnya dapat membantu alumni mengambil peran dalam berbagai kegiatan keagamaan. Ketika diminta memimpin doa, tahlil, atau membaca surah yang lazim diamalkan masyarakat, mereka diharapkan tidak lagi merasa asing dengan bacaan tersebut.

Dengan demikian, keberhasilan Hifzhu Suwar tidak semestinya hanya diukur melalui kelancaran santri ketika menjalani ujian. Program ini juga perlu dilihat dari sejauh mana hafalan tersebut melekat dalam diri santri dan menjadi bagian dari praktik keberagamaan mereka setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Pandangan ini menempatkan hafalan Al-Qur’an bukan semata-mata sebagai target akademik, melainkan sebagai bekal yang menghubungkan proses pendidikan di pesantren dengan kebutuhan kehidupan nyata.

Simulasi Bukan Formalitas, tetapi Bagian dari Sistem

Salah satu pesan utama dalam apel pembukaan tersebut adalah pentingnya memahami simulasi sebagai bagian dari rangkaian pendidikan yang terencana. Menurut Dr. Tubagus Bay, berbagai kegiatan di pesantren pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Setiap kegiatan memiliki tahapan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang saling berkaitan.

Ia mencontohkan pelaksanaan ujian semester yang didahului ujian tengah semester dan ujian harian. Demikian pula Tasmi Akbar yang memerlukan tahapan persiapan, termasuk evaluasi hafalan dan simulasi sebelum pelaksanaan utama.

Rangkaian tersebut dirancang untuk membangun pola pikir sistematis. Santri dilatih memahami bahwa keberhasilan tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses yang bertahap, terukur, dan berkelanjutan.

Pola pikir ini dinilai penting karena kehidupan setelah pesantren akan menghadirkan persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Santri perlu belajar mengidentifikasi masalah, memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, menentukan langkah penyelesaian, dan mengevaluasi hasilnya.

Dalam konteks tersebut, simulasi Hifzhu Suwar menjadi ruang latihan untuk membiasakan santri menghadapi tuntutan secara terstruktur. Mereka tidak hanya dituntut menguasai materi hafalan, tetapi juga belajar mengelola waktu, mempersiapkan diri, menerima evaluasi, dan memperbaiki kekurangan sebelum menghadapi ujian sesungguhnya.

Karena itu, anggapan bahwa simulasi tidak perlu dipersiapkan secara serius justru bertentangan dengan tujuan kegiatan itu sendiri. Simulasi merupakan kesempatan untuk mengenali kelemahan dan memperbaikinya sedini mungkin.

Mendengar Nasihat Tidak Cukup Tanpa Praktik

Selain membahas sistem pendidikan, Dr. Tubagus Bay menyoroti pentingnya mengubah nasihat menjadi tindakan nyata. Ia mengingatkan bahwa santri dan guru pengabdian setiap hari menerima berbagai arahan dari para guru. Namun, banyaknya nasihat tidak otomatis menjamin terbentuknya karakter apabila semuanya hanya berhenti sebagai pengetahuan.

Ia mengangkat mahfuzat man jadda wajada—siapa yang bersungguh-sungguh akan memperoleh hasil—sebagai contoh sederhana. Menurutnya, satu nasihat yang benar-benar direnungkan dan diterapkan dapat memberikan dampak lebih besar daripada puluhan nasihat yang hanya didengar tanpa diamalkan.

Pesan tersebut relevan dengan pelaksanaan Hifzhu Suwar. Santri tidak cukup memahami pentingnya menjaga hafalan, mengetahui keutamaan Al-Qur’an, atau mendengar arahan musyrif dan guru. Semua itu perlu diwujudkan melalui kebiasaan mengulang hafalan, menyetorkan bacaan, memperbaiki kesalahan, dan menjaga konsistensi.

Hal serupa berlaku bagi guru pengabdian. Pengalaman mengikuti apel, menerima arahan, serta menjalankan berbagai tugas pendidikan semestinya membentuk sikap profesional dan kesiapan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Pendidikan karakter, dengan demikian, tidak hanya dibangun melalui penyampaian materi atau nasihat, tetapi melalui pengulangan tindakan yang secara bertahap menjadi kebiasaan. Nilai kedisiplinan akan sulit tertanam apabila hanya dibicarakan, tanpa diterapkan dalam keseharian.

Ketuntasan Hafalan Menuntut Kesungguhan dan Pendampingan

Dalam arahannya, Dr. Tubagus Bay juga menekankan bahwa Hifzhu Suwar memiliki konsekuensi akademik yang perlu dipahami oleh seluruh santri. Ketuntasan program ini berkaitan dengan persyaratan kelulusan dan pengambilan ijazah sesuai ketentuan pesantren.

Ia mengingatkan agar santri tidak menunda penyelesaian hafalan hingga mendekati akhir masa pendidikan. Bagi santri yang masih memiliki tanggungan, waktu yang tersedia harus dimanfaatkan secara optimal. Guru dan musyrif juga diharapkan mengambil peran aktif dalam mendampingi proses penyelesaian tersebut.

Dr. Tubagus Bay bahkan membuka ruang pelaporan apabila santri mengalami kesulitan mendapatkan pendampingan dari musyrif. Ia menyampaikan kesediaannya untuk membantu proses setoran apabila diperlukan, sehingga kendala pendampingan tidak menjadi alasan bagi santri untuk berhenti berusaha.

Arahan tersebut memperlihatkan bahwa ketuntasan hafalan membutuhkan dua unsur yang berjalan beriringan: kesungguhan santri dan dukungan sistem pendampingan. Santri harus memiliki inisiatif, sedangkan guru dan musyrif perlu memastikan bahwa proses bimbingan berlangsung secara nyata.

Ia mendorong santri yang belum menyelesaikan hafalan agar menargetkan ketuntasan dalam waktu sekitar satu bulan. Untuk mencapainya, santri dianjurkan memanfaatkan kesempatan setoran pada pagi, siang, sore, maupun malam hari sesuai ketersediaan waktu dan pendampingan.

Strategi tersebut menuntut perubahan kebiasaan. Santri tidak seharusnya selalu menunggu jadwal setoran berikutnya apabila telah memiliki hafalan baru yang siap disetorkan. Setiap kesempatan perlu dimanfaatkan agar kemajuan berlangsung lebih cepat dan terukur.

Disiplin Dibangun Melalui Kebiasaan yang Konsisten

Dr. Tubagus Bay turut menyinggung pengalaman pendidikan di lingkungan pesantren lain untuk menggambarkan bagaimana kedisiplinan dibentuk melalui rangkaian kegiatan yang padat dan konsisten. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui aturan tertulis, tetapi memerlukan pembiasaan dalam menjalankan tanggung jawab.

Dalam kehidupan pesantren, kegiatan pendidikan, organisasi, evaluasi, dan pembelajaran berlangsung dalam rangkaian yang saling berhubungan. Santri dan guru pengabdian dituntut belajar mengelola waktu serta menyesuaikan diri dengan tanggung jawab yang telah ditetapkan.

Namun, kedisiplinan yang diharapkan bukan sekadar kepatuhan terhadap jadwal. Lebih jauh, kedisiplinan perlu tumbuh menjadi kesadaran untuk menuntaskan pekerjaan dengan baik, menjaga komitmen, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Prinsip tersebut berlaku pula dalam hafalan Al-Qur’an. Kelancaran tidak dibangun dalam satu malam, melainkan melalui latihan berulang, ketekunan, dan evaluasi yang berkelanjutan. Simulasi menjadi salah satu sarana untuk menguji apakah kebiasaan tersebut telah terbentuk atau masih perlu diperbaiki.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi perubahan sikap dan kemampuan yang tumbuh melalui kegiatan tersebut.

Menyiapkan Hafalan Menuju Tasmi Akbar

Menjelang akhir arahannya, Dr. Tubagus Bay mengingatkan bahwa simulasi Hifzhu Suwar merupakan bagian dari persiapan menuju agenda hafalan berikutnya, termasuk Tasmi Akbar. Ia meminta seluruh peserta tetap menjaga keseriusan dalam menyetorkan hafalan, memperhatikan ketepatan bacaan, dan menerapkan kaidah membaca Al-Qur’an dengan baik.

Ia juga menegaskan bahwa proses hafalan tidak boleh direduksi menjadi sekadar kemampuan melafalkan teks. Ketepatan bacaan, tartil, dan kualitas setoran tetap menjadi perhatian penting dalam evaluasi.

Para santri yang belum menyelesaikan hafalan diharapkan segera menuntaskan tanggungannya, sementara guru pengabdian dan musyrif perlu terus memberikan pendampingan. Dengan persiapan yang lebih terarah, simulasi diharapkan menjadi bekal untuk menghadapi evaluasi berikutnya dengan lebih matang.

Apel pembukaan Simulasi Hifzhu Suwar pada akhirnya membawa pesan bahwa keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak ditentukan oleh satu ujian atau satu kegiatan. Keberhasilan lahir dari sistem yang dijalankan secara konsisten, nasihat yang diterjemahkan menjadi tindakan, serta kesungguhan seluruh pihak dalam menjalankan perannya.

Bagi santri kelas akhir, simulasi ini bukan sekadar tahapan menuju kelulusan. Ia merupakan kesempatan untuk membuktikan bahwa hafalan, disiplin, dan tanggung jawab yang dipelajari selama di pesantren benar-benar siap dibawa ke kehidupan berikutnya. Sebab, hafalan yang baik tidak hanya perlu diselesaikan, tetapi juga dijaga, diamalkan, dan menjadi bekal pengabdian di tengah masyarakat.