Tahfizhdulido.com – Majelis ilmu di Aula Multazam Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido terasa sangat hidup dan sarat akan nuansa keilmuan Al-Azhar, Kairo. Pada Kamis, 24 September 2026, pesantren ini menyelenggarakan Kajian Tafsir Bersama Ulama Al-Azhar Mesir, Maulana Syaikh ‘Alaa Muhammad Mushthafa Na’imah Al-Azhari. Acara yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.30 WIB ini dihadiri oleh jajaran asatidz serta santri kelas 6 (nihai).

Kajian ilmiah berskala internasional ini disajikan secara interaktif dan mendalam dengan translasi langsung oleh Khodimul Ma’had, Kyai Mohammad Yazid Syagof Dimyati, S.Th.I, Lc.. Pertemuan ilmiah ini tidak hanya mengulas makna lahiriah dari ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga mengupas keindahan tata bahasa, stilistika, serta rahasia balaghah yang terkandung di dalam Surah Ad-Dhuha dan Surah Al-Ikhlas hingga Al-Mu’awwidzatain.

Sanad Keilmuan dan Metodologi Bertingkat

Mengawali majelis, dijelaskan pentingnya mata rantai transmisi keilmuan (sanad) dalam tradisi keislaman. Pembacaan dan pembahasan tafsir dalam kajian ini menyambung hingga ke para ulama besar, di antaranya Al-‘Allamah Muhaddits Sayyid Muhammad Ibrahim Al-Ghurba’i Al-Husaini Al-Qahtani, serta bermuara pada karya monumental Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi (penyusun Tafsir Al-Jalalain).

Syaikh ‘Alaa menekankan bahwa pembelajaran tafsir hendaknya dilakukan secara bertahap dan sistematis. Dalam metodologinya, pembelajaran dibagi menjadi tiga tingkatan (mubtadi’, mutawassith, dan muntahi/mutaqaddim). Pada kesempatan di Daarul ‘Uluum Lido kali ini, materi difokuskan pada penguatan pemahaman tingkat mubtadi’ yang menekankan dua pilar utama, yaitu pemahaman mufrodat (kosa kata) dan ijmali (makna secara keseluruhan).

Beliau juga membagikan kisah mengenai rahasia keagungan Tafsir Al-Jalalain. Tafsir ringkas ini amat dicintai oleh para awliya (kekasih Allah) dan masyarakat Indonesia karena menyimpan nur (cahaya) serta keberkahan keilmuan yang sangat luas. Dalam mengkaji kerumitan Hasyiyah (catatan pinggir) seperti karya Imam As-Sawi, para penuntut ilmu diajarkan untuk memahami simbol-simbol akademis (rumuz) agar tidak salah dalam menyerap kaidah hukum dan tata bahasa.

Membedah Estetika Balaghah dalam Surah Ad-Dhuha

Masuk ke inti pembahasan tafsir, Syaikh ‘Alaa mengjak para santri dan asatidz untuk meneliti struktur bahasa Al-Qur’an dalam Surah Ad-Dhuha. Beliau membedah mengapa terdapat perubahan tata bahasa yang sangat unik pada ayat kedua dan ketiga:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.”

Secara susunan tata bahasa Arab (uslub araby), apabila ayat diawali dengan objek kata ganti orang kedua (mukhatab) ka (seperti pada wadda’aka), maka secara matematis tata bahasa ayat berikutnya idealnya berbunyi wa ma qalaaka. Namun, Al-Qur’an secara sengaja membuang objek (hadzful maf’ul bihi) pada kata qala.

Syaikh ‘Alaa memaparkan rahasia di balik pembuangan objek (maf’ul bihi) ini melalui dua kaidah utama Balaghah:

  1. Prinsip Keumuman (Al-‘Umum): Jika Al-Qur’an menyebutkan wa ma qalaaka, artinya Allah hanya tidak membenci Nabi Muhammad SAW secara khusus. Namun ketika kata ka dibuang menjadi wa ma qala, maknanya meluas secara mutlak: Allah Subhanu wa Ta’ala pada hakikatnya tidak memiliki sifat kebencian (karahah) terhadap hamba-hamba-Nya, karena benci bukanlah sifat Rububiyyah.
  2. Kaidah Sebab-Akibat (Al-Iltifat/Al-Sababiyyah): Hal serupa ditemukan pada ayat Alam yajidka yatiman fa-awa…. Dihilangkannya objek pada kata fa-awa, fa-hada, dan fa-aghna menunjukkan bahwa perlindungan (i’wa), petunjuk (hidayah), dan kecukupan (ghina) yang Allah berikan berlimpah kepada seluruh umat Islam, dan Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai sabab (perantara utama) tercurahnya rahmat tersebut bagi alam semesta.

Konsep Perwakilan (Wakalah) dan Kedudukan Istighfar Nabi

Dalam sesi dialog interaktif, muncul pertanyaan kritis mengenai bagaimana posisi Nabi Muhammad SAW dalam memohonkan ampunan bagi umatnya. Syaikh ‘Alaa menjelaskan konsep Wakalah dalam syariat dan bahasa. Beliau mengutip surah An-Nisa ayat 64:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Syaikh menyoroti adanya Iltifat (perubahan kata ganti) dari ja’uka (datang kepadamu – bentuk kedua) menjadi wastaghfara lahumur-rasul (dan Rasul memohonkan ampunan untuk mereka – bentuk ketiga).

Penggunaan nama Ar-Rasul alih-alih kata ganti anta (engkau) mengandung pesan bahwa kedatangan umat kepada Nabi tidak terbatas secara fisik ketika beliau masih hidup di dunia saja. Kedatangan tersebut dihubungkan dengan substansi Ar-Risalah (kenabian) yang bersifat abadi hingga hari kiamat. Dengan demikian, Rasulullah SAW bertindak sebagai wakil yang memohonkan pengampunan bagi umatnya, dan syafaat serta istighfar beliau senantiasa terbuka.

Guna memperjelas pemahaman, beliau juga meluruskan ayat dalam Surah At-Taubah (Istaghfir lahum aw la tastaghfir lahum…) yang seolah-olah menyebut istighfar Nabi tidak berguna. Beliau menegaskan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap orang-orang munafik dan kafir yang enggan dan sombong untuk bertaubat, bukan ditujukan kepada orang-orang beriman.

Rahasia Makna Dhallan dan Penggunaan Kata Ahad

Kajian berlanjut pada pembedahan kata Dhallan dalam firman Allah Wa wajadaka dhallan fa hada. Syaikh ‘Alaa menolak penafsiran dangkal yang mengartikan dhallan sebagai “sesat” dalam makna konvensional bagi seorang Nabi yang ma’shum.

Mengutip pemanfaatan bahasa Arab klasik sebagaimana terdapat pula dalam Surah Yusuf (Innaka lafi dhalalikal qadim), kata dhalal di sini bermakna mahabba atau hubb (kerinduan dan cinta yang mendalam). Sehingga makna ayat tersebut adalah: “Allah mendapatinya (Muhammad) dalam keadaan tenggelam dalam cinta kepada Allah, lalu Allah memberinya petunjuk menuju maqam risalah.” Selain itu, kata tersebut juga bisa bermakna nasiyan (lupa dalam konteks tidak pernah terbesit untuk berbuat maksiat).

Pada sesi penutup kajian yang mengulas Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain, ulama Azhar tersebut memaparkan perbedaan mendasar antara kata Ahad dan Wahid:

  • Wahid (Maha Tunggal): Menunjukkan Esa dari segi bilangan.
  • Ahad (Maha Esa Mutlak): Menunjukkan keesaan yang tidak terbagi-bagi (Ahadayyah), baik dalam Zat, Sifat, maupun Af’al (Perbuatan). Allah tidak tersusun dari bagian-bagian tubuh sebagaimana makhluk-Nya.

Penutup: Menggembleng Generasi Santri yang Berwawasan Luas

Kajian tafsir interaktif selama tiga jam ini ditutup dengan tafa’ul (harapan optimisme) dari penafsiran Surah Al-Falaq dan An-Nas. Syaikh ‘Alaa mengingatkan para santri bahwa Al-Qur’an diawali dengan pengenalan tiga karakter manusia di Surah Al-Baqarah (Mukmin, Kafir, Munafik) dan ditutup dengan perlindungan dari godaan pembisik kejahatan (Waswasal Khannas) yang bisa menjangkiti manusia dari ketiga golongan tersebut.

Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga besar Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Melalui kajian ilmiah berskala internasional ini, para santri kelas 6 tidak hanya diajarkan cara membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga dibekali pisau analisis sastra Arab (Balaghah) yang kritis, lugas, dan mendalam. Hal ini menjadi modal berharga bagi mereka dalam melanjutkan estafet dakwah Islamiyyah yang ramah, moderat, dan berbasis keilmuan yang kukuh.