Tahfizhdulido.com – Banyak orang mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi tidak semuanya benar-benar hidup bersama Al-Qur’an. Sebagian lulus ujian dengan nilai tinggi, lancar menyetorkan hafalan di hadapan penguji, bahkan mampu menamatkan puluhan juz. Namun ketika malam tiba, ayat-ayat itu justru tidak pernah hadir dalam sujud dan qiyamul lail mereka. Al-Qur’an akhirnya hanya berpindah dari lisan ke lembar penilaian, bukan masuk ke dalam kehidupan.
Kegelisahan itulah yang terasa kuat dalam Apel Pembukaan Ujian Tahfizhi Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 di lapangan pesantren pada Senin, 18 Mei 2026. Seluruh santri dan dewan asatidz berkumpul bukan hanya untuk membuka rangkaian ujian tahfizhi, tetapi untuk diingatkan kembali tentang satu pertanyaan besar yang sering terlupakan di dunia pendidikan Al-Qur’an hari ini: apakah Al-Qur’an sedang benar-benar dijaga, atau hanya sedang dikejar target hafalannya?
Di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk dengan angka, capaian, dan formalitas akademik, pesan yang disampaikan dalam apel ini terasa begitu tajam. Bahwa seorang penghafal Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada target “lulus ujian”. Hafalan bukan sekadar lembar penilaian, bukan pula hanya setoran di hadapan musrif dan musrifah. Lebih dari itu, Al-Qur’an harus hidup dalam diri para santri, terutama dalam kesunyian malam ketika tidak ada manusia yang melihat.
Pengisi apel, Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., mengingatkan bahwa perjalanan para santri selama hampir satu tahun terakhir bukanlah perjalanan yang ringan. Ada yang masih berjuang melawan rasa tidak betah, ada yang berkali-kali ingin menyerah, ada pula yang diam-diam menyimpan kegelisahan karena tekanan hafalan dan rutinitas pesantren. Namun satu hal yang patut disyukuri: mereka masih bertahan hingga titik ini.
Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Bertahan di jalan Al-Qur’an pada zaman sekarang bukan perkara mudah. Di tengah dunia yang menawarkan hiburan tanpa batas, menjaga fokus untuk murojaah justru menjadi jihad tersendiri. Karena itu, keberadaan para santri hingga akhir tahun ajaran merupakan bentuk perjuangan yang layak dihargai.
Dalam amanatnya, beliau menekankan bahwa target tertinggi seorang hamilul Qur’an bukanlah piagam atau predikat terbaik, melainkan kemampuan membawa hafalan itu ke dalam mihrab shalat, khususnya dalam qiyamul lail. Di sinilah ukuran sejati hafalan diuji. Sebab hafalan yang hanya aktif saat ujian sering kali cepat hilang, sedangkan hafalan yang hidup dalam shalat malam akan menetap kuat dalam hati.
Pesan ini menjadi kritik halus terhadap fenomena pendidikan tahfizh hari ini. Tidak sedikit lembaga yang terlalu sibuk mengejar kuantitas hafalan tetapi kurang menanamkan ruh Al-Qur’an itu sendiri. Akibatnya, sebagian santri mampu menyetor banyak halaman, tetapi kesulitan menghadirkan ayat-ayat itu dalam ibadahnya. Hafalan akhirnya berubah menjadi target administratif, bukan cahaya kehidupan.
Dalam apel tersebut juga disampaikan hadis Rasulullah SAW tentang tiga tingkatan pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an dalam shalat malam. Tingkatan pertama adalah golongan yang terbebas dari kelalaian. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang membaca sepuluh ayat dalam shalat malamnya, maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.
Pesan ini sebenarnya sangat relevan untuk generasi hari ini. Banyak orang menghabiskan malam dengan gawai, media sosial, atau hiburan yang melelahkan jiwa. Padahal hanya dengan beberapa ayat Al-Qur’an saja, manusia bisa menyelamatkan dirinya dari daftar orang-orang lalai di sisi Allah. Bahkan sepuluh ayat yang dibaca dengan khusyuk jauh lebih berharga dibanding berjam-jam tenggelam dalam hal yang tidak bermanfaat.
Tingkatan kedua adalah golongan orang-orang taat. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka yang membaca seratus ayat dalam shalat malam akan dicatat sebagai hamba yang taat. Pada level ini, hubungan seorang hamba dengan Al-Qur’an mulai terlihat nyata. Ia tidak hanya menghafal, tetapi menjadikan ayat-ayat Allah sebagai teman dalam kesendirian.
Sedangkan tingkatan tertinggi adalah al-muqanthirin, yaitu mereka yang memperoleh pahala berlimpah. Mereka membaca hingga seribu ayat dalam shalat malamnya. Ini adalah level para pecinta Al-Qur’an yang benar-benar menjadikan kitabullah sebagai sumber kehidupan. Mereka bukan sekadar menghafal juz demi juz, tetapi menikmati setiap ayat sebagai cahaya yang menghidupkan hati.
Dari sini terlihat bahwa ujian tahfizhi sesungguhnya bukan hanya tentang siapa yang paling lancar atau siapa yang paling banyak hafalannya. Ujian yang sebenarnya adalah: apakah Al-Qur’an sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari? Apakah hafalan itu mampu menjaga lisan, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah?
Karena itu, beberapa pesan penting disampaikan kepada seluruh santri menjelang rangkaian ujian tahfizhi, syafahi, hingga tahriri. Pertama, meluruskan niat. Jangan belajar karena takut kepada ustadz, jangan murojaah karena malu kepada teman. Semua perjuangan ini harus diarahkan untuk mencari ridha Allah.
Kedua, memanfaatkan waktu emas. Masa-masa ujian sering kali justru dipenuhi obrolan yang tidak perlu, candaan berlebihan, dan kelalaian kecil yang menghabiskan waktu. Padahal setiap jeda sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat hafalan.
Ketiga, menjaga hati dan adab. Hafalan Al-Qur’an adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah tidak akan menetap dalam hati yang dipenuhi maksiat dan keburukan lisan. Menghormati guru, menyayangi teman, dan menjaga ucapan menjadi bagian penting dalam keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an.
Apel pembukaan ujian tahfizhi ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan pesantren. Ia adalah pengingat bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan. Bahwa keberhasilan seorang santri tidak semata diukur dari nilai ujian, melainkan dari sejauh mana ayat-ayat Allah mampu membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya.
Di tengah dunia yang semakin bising, para penjaga Al-Qur’an memiliki tugas besar: menghadirkan kembali ketenangan melalui kalamullah. Dan mungkin, perjuangan terbesar seorang penghafal Al-Qur’an bukanlah saat menyetorkan hafalan di hadapan guru, tetapi ketika menjaga ayat-ayat itu tetap hidup di dalam hati hingga akhir hayatnya.
