Tahfizhdulido.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido tidak berhenti pada lantunan shalawat dan seremonial tahunan. Momentum kelahiran Rasulullah ﷺ justru dijadikan ruang untuk kembali membaca, memahami, dan menghidupkan perjalanan hidup Sang Kekasih Allah melalui kajian kitab.

Mengusung semangat “Mengetuk Pintu Mahabbah, Menghidupkan Kembali Kisah Kelahiran Sang Kekasih ﷺ”, Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido menggelar kajian kitab Al-Kanzu Al-Tsamin fi Miladi Sayyidi al-Mursalin ﷺ bersama Khodimul Ma’had, Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc.

Kajian berlangsung pada 22–24 Agustus 2026, setiap pukul 20.00 WIB, bertempat di Aula Multazam. Kegiatan ini diikuti oleh para santri dan menjadi bagian dari rangkaian penguatan tradisi keilmuan pesantren dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad ﷺ.

Lebih dari sekadar mengenang tanggal kelahiran Rasulullah ﷺ, kajian tersebut mengajak para santri menyelami bagaimana Allah SWT mendidik, menjaga, dan mempersiapkan Rasulullah ﷺ sejak masa kanak-kanak hingga akhirnya tampil sebagai pembawa risalah bagi seluruh umat manusia.

Pesan utama yang terus ditekankan adalah bahwa mahabbah kepada Nabi tidak cukup berhenti pada ungkapan cinta, tetapi harus menjelma menjadi pilihan hidup, keteladanan, dan kesediaan mengikuti sunnahnya.

Menuntaskan Kitab, Menajamkan Konsentrasi

Pada pembukaan kajian, Kiai M. Yazid mengingatkan para santri agar mengikuti pembacaan kitab dengan konsentrasi penuh. Menurutnya, proses belajar tidak akan menghasilkan pemahaman yang kuat apabila perhatian terpecah.

Para santri bahkan diarahkan untuk mengikuti bacaan dengan gerakan bibir, baik ketika membaca secara jahr maupun sirr. Hal sederhana tersebut, menurut beliau, menjadi salah satu cara menjaga fokus antara apa yang didengar, dibaca, dan dipahami.

“Tidak ada dua frekuensi ilmu yang bisa masuk secara bersamaan,” menjadi salah satu penekanan dalam kajian tersebut.

Pesan itu sederhana, tetapi relevan dengan tantangan belajar generasi hari ini: perhatian yang mudah terpecah oleh banyak hal. Karena itu, mengaji tidak hanya membutuhkan kehadiran fisik, tetapi juga kehadiran pikiran dan hati.

Kajian Al-Kanzu Al-Tsamin sendiri bukan kali pertama dilaksanakan di lingkungan pesantren. Kajian tersebut telah dimulai pada tahun sebelumnya dan dirancang untuk terus dikaji secara berkesinambungan.

Pada rangkaian kajian kali ini, pembacaan dilanjutkan dari halaman 18 hingga halaman 28. Targetnya bukan sekadar menamatkan halaman demi halaman, tetapi membangun tradisi keilmuan yang terus hidup dari tahun ke tahun.

Kitab yang dikaji merupakan karya Sayyid Ahmad Sa’ad Al-Aqfad, yang dalam kajian diperkenalkan sebagai murid dari Sidi Muhammad Madi Abu Al-Azaaim. Karena itu, para santri juga diajak mengenal sosok penulis, latar belakang keilmuan, serta sumber-sumber yang menjadi bagian dari khazanah kisah kehidupan Rasulullah ﷺ.

Kelahiran Nabi dan Cahaya yang Mengubah Dunia

Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam kajian adalah kisah kelahiran Rasulullah ﷺ.

Kelahiran Nabi tidak diposisikan hanya sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi sebagai titik penting dalam perjalanan manusia menuju rahmat Allah SWT. Dalam uraian kitab, kelahiran Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai hadirnya cahaya yang membawa perubahan besar.

Kajian kemudian menguraikan bagaimana kelahiran Rasulullah ﷺ menjadi sebab kegelisahan bangsa jin dan setan. Narasi tersebut dijelaskan sebagai gambaran bahwa kehadiran Rasulullah ﷺ membawa misi besar: menghapus jalan kesesatan dan membuka pintu ampunan bagi manusia yang kembali kepada Allah.

Karena itu, kecintaan kepada Nabi tidak boleh dilepaskan dari semangat meninggalkan dosa, memperbanyak taubat, memperkuat shalawat, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Kelahiran Rasulullah ﷺ adalah kabar gembira bagi umat, tetapi sekaligus menjadi tantangan: apakah umat yang mengaku mencintainya benar-benar bersedia mengikuti jalan yang telah beliau tunjukkan?

Pendidikan Nabi Dimulai Sejak Masa Kanak-Kanak

Kajian kemudian bergerak pada pembahasan yang lebih luas: bagaimana Rasulullah ﷺ dibentuk melalui rangkaian pendidikan sejak usia dini.

Nabi Muhammad ﷺ lahir dalam keadaan yatim. Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum beliau lahir. Kemudian pendidikan dan pengasuhan beliau berlangsung melalui beberapa fase penting.

Pada masa kecil, Rasulullah ﷺ diasuh oleh Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad. Lingkungan Bani Sa’ad dikenal memiliki kefasihan bahasa Arab. Dari sini, pendidikan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam pembentukan karakter, bahasa, dan kepribadian seorang anak.

Dalam kajian juga ditekankan bahwa pendidikan Nabi tidak hanya berupa teori. Rasulullah ﷺ dikenalkan dengan keluarga, lingkungan sosial, keterampilan fisik, hingga kehidupan yang dekat dengan alam.

Setelah ibunda beliau, Aminah, wafat ketika Rasulullah ﷺ berusia enam tahun, pengasuhan dilanjutkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib, kemudian oleh pamannya, Abu Thalib.

Dari Abu Thalib, Rasulullah ﷺ belajar menggembala. Sebuah pengalaman yang tampak sederhana, tetapi memiliki makna pendidikan yang dalam.

Sebelum memimpin manusia, Nabi terlebih dahulu belajar memimpin hewan.

Menggembala mengajarkan kesabaran, tanggung jawab, perhatian, ketekunan, dan kemampuan mengarahkan. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari karakter kepemimpinan Rasulullah ﷺ ketika beliau memimpin umat.

Dari sini, kajian membawa pesan penting bagi pendidikan pesantren: anak-anak tidak cukup dijejali teori. Mereka juga harus diberi ruang untuk belajar bertanggung jawab, memimpin, bekerja sama, bersosialisasi, dan menghadapi kehidupan nyata.

Dari Keterampilan Berdagang hingga Gelar Al-Amin

Perjalanan pendidikan Rasulullah ﷺ berlanjut pada dunia perdagangan.

Pada usia muda, Rasulullah ﷺ ikut melakukan perjalanan dagang menuju Syam bersama pamannya. Dari pengalaman tersebut, beliau belajar tentang perdagangan, perjalanan, interaksi sosial, tanggung jawab, dan kejujuran.

Pengalaman berdagang bersama Khadijah juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Rasulullah ﷺ. Kepribadian, akhlak, kejujuran, dan integritas beliau menjadi modal utama yang membuat masyarakat Makkah memberikan gelar Al-Amin—orang yang terpercaya.

Gelar itu bukan hasil kampanye. Bukan pula hasil pencitraan.

Al-Amin lahir dari rekam jejak.

Inilah salah satu pesan penting yang ditekankan dalam kajian. Kepemimpinan tidak dibangun hanya melalui jabatan, tetapi melalui kepercayaan yang tumbuh dari perilaku dan integritas.

Ketika masyarakat Quraisy berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya dalam pembangunan Ka’bah, hampir terjadi pertikaian besar. Rasulullah ﷺ hadir sebagai penengah.

Beliau membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, kemudian meminta para pemimpin kabilah memegang setiap ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai di tempatnya, Rasulullah ﷺ sendiri meletakkan Hajar Aswad.

Perselisihan selesai tanpa perang.

Peristiwa tersebut memperlihatkan kecerdasan sosial, kebijaksanaan, dan kemampuan menyelesaikan konflik. Rasulullah ﷺ dipercaya bukan karena memiliki jabatan formal, melainkan karena masyarakat telah mengenal integritasnya.

Mahabbah yang Harus Menjadi Pilihan Hidup

Pada bagian akhir kajian, pembahasan bergeser dari sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ menuju makna cinta kepada beliau.

Kiai M.Yazid menegaskan bahwa cinta kepada Nabi bukan sekadar emosi sesaat. Mahabbah bukan hanya hadir ketika Maulid tiba, lalu hilang setelah acara selesai.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus menjadi pilihan hidup.

Ia harus terlihat dalam cara berbicara, cara berpakaian, cara menghormati orang lain, cara menjaga kehormatan, cara memimpin, cara belajar, dan cara memperlakukan sesama.

Dalam kajian juga dipaparkan berbagai sifat dan karakter Rasulullah ﷺ: rendah hati, lembut dalam berkomunikasi, dermawan, tidak berlebihan terhadap dunia, menjaga pandangan, memiliki pemikiran yang mendalam, serta selalu berusaha menyenangkan dan memuliakan orang lain.

Bahkan ketika berbicara dengan seseorang, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian penuh. Beliau tidak sekadar menoleh, tetapi menghadapkan tubuhnya kepada orang yang sedang berbicara dengannya.

Sebuah teladan sederhana, tetapi semakin penting di tengah kehidupan modern yang membuat manusia sering hadir secara fisik namun tidak benar-benar hadir secara mental.

Dari Ahli Zikir Menuju Ahli Fikir

Rangkaian kajian Maulid di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido akhirnya membawa satu pesan besar: mencintai Nabi berarti bersedia belajar tentang Nabi, memahami sunnahnya, lalu berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan.

Karena itu, semarak Maulid tidak seharusnya berhenti pada kemeriahan acara. Ia harus meninggalkan jejak perubahan dalam diri setiap santri.

Menjadi ahli zikir yang lisannya hidup dengan shalawat dan pujian kepada Rasulullah ﷺ, sekaligus menjadi ahli fikir yang mampu memahami sejarah, mengambil hikmah, membaca realitas, dan menerjemahkan keteladanan Nabi ke dalam kehidupan.

Di tengah derasnya perubahan zaman, kisah Rasulullah ﷺ kembali dihidupkan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan kompas.

Sebab, mahabbah yang sejati tidak hanya membuat seseorang mengagumi Sang Kekasih, tetapi mendorongnya untuk menyerupai akhlaknya, mengikuti jalannya, dan memperjuangkan nilai-nilai yang beliau bawa.

Dari Aula Multazam, pesan itu kembali diketuk: mencintai Nabi bukan sekadar mengatakan “aku cinta”, melainkan membuktikannya dalam kehidupan.

Dan di situlah sesungguhnya Maulid menemukan maknanya—ketika kisah kelahiran Sang Kekasih tidak hanya dibaca, tetapi mampu melahirkan manusia-manusia yang lebih beradab, berilmu, berpikir, dan dekat kepada Allah SWT.