Tahfizhdulido.com – Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido kembali menggelar apel pengawasan ujian pada Kamis, 17 September 2026. Bertempat di Lapangan Putra dan berlangsung pukul 07.00–07.15 WIB, apel tersebut diikuti oleh Guru Pengabdian Zythera dan Guru Pengawas Senior. Ustzh. Yuriah, S.Pd. dipercaya sebagai pengisi apel sekaligus menyampaikan sejumlah pesan penting kepada para guru pengawas sebelum menjalankan tugas.

Dalam kesempatan tersebut, Ustzh. Yuriah mengawali amanat dengan mengajak seluruh peserta apel untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah Swt., terutama nikmat kesehatan yang sering kali dianggap sederhana, tetapi memiliki peran besar dalam menunjang seluruh aktivitas manusia.

Menurutnya, kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dibeli dengan uang maupun ditukar dengan apa pun. Ketika kesehatan diberikan, seseorang dapat menjalankan berbagai aktivitas dengan lebih lancar. Karena itu, rasa syukur menjadi fondasi penting sebelum seseorang menjalankan setiap amanah.

Setelah menyampaikan rasa syukur dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, Ustzh. Yuriah juga mengungkapkan bahwa apel tersebut menjadi salah satu momen perdananya menjalankan tugas dalam kapasitas barunya sebagai pengawas umum. Ia mengaku sempat merasa gugup sekaligus terkejut ketika mengetahui dirinya mendapat jadwal pengawasan di tempat tersebut.

Namun, di balik rasa terkejut itu, ia melihat penugasan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar, menghadapi tantangan baru, sekaligus memperbaiki kualitas diri dalam menjalankan amanah.

“Semoga dengan pengawas saya di sini menambah sesuatu hal yang baru buat saya, untuk lebih tertantang dan untuk lebih baik,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari proses menerima takdir dan menjalankan setiap amanah yang diberikan. Ia menyadari bahwa manusia terkadang memiliki kekhawatiran terhadap suatu posisi atau tanggung jawab, tetapi Allah Swt. memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai apa yang dibutuhkan setiap hamba.

“Allah jauh lebih tahu takdir kita yang terbaik,” tuturnya.

Pengawasan Bukan Sekadar Mencari Kesalahan

Memasuki inti amanat, Ustzh. Yuriah mengajak para pengawas untuk kembali memahami hakikat tugas pengawasan ujian. Baginya, pengawasan tidak semestinya dimaknai sebagai aktivitas untuk terus mencurigai peserta ujian.

Ia menekankan bahwa santri yang sedang mengikuti ujian tetap harus dipandang sebagai peserta didik yang memiliki kejujuran dan tanggung jawab. Karena itu, pengawas perlu membangun suasana ujian yang tenang, tertib, tetapi tidak menimbulkan tekanan psikologis yang berlebihan.

“Ketika kita mengawas, kita tidak sedang mengawasi pencuri yang harus kita curigai. Dalam hati kita harus kita tanamkan, kita percaya sama anak-anak kita. Mereka jujur,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam amanat apel. Menurutnya, pengawasan yang terlalu intensif justru berpotensi mengganggu konsentrasi santri. Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah cara pengawas melakukan patroli di dalam ruang ujian.

Ustzh. Yuriah tidak melarang pengawas untuk berkeliling. Namun, ia mengingatkan agar aktivitas tersebut dilakukan secara proporsional dan tidak berubah menjadi gerakan mondar-mandir yang terus-menerus.

Sesekali berkeliling, menurutnya, tetap diperlukan untuk memastikan situasi ruang ujian berjalan tertib. Akan tetapi, pengawas tidak harus terus berpindah dari satu sudut ruangan ke sudut lainnya.

“Boleh keliling, tapi jangan mondar-mandir,” ujarnya.

Konsentrasi Santri Perlu Dijaga

Bagi Ustzh. Yuriah, ketenangan merupakan bagian penting dalam proses ujian. Santri membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka berkonsentrasi, mengingat materi yang telah dipelajari, kemudian menuangkannya dalam lembar jawaban.

Gerakan pengawas yang terlalu sering dan berulang-ulang dapat membuat perhatian peserta ujian teralihkan. Bahkan, santri yang sebelumnya telah siap mengerjakan soal dapat kehilangan konsentrasi ketika merasa terus diperhatikan atau didekati.

Ia menyampaikan bahwa pandangan tersebut bukan sekadar asumsi. Dalam pengalaman berinteraksi dengan santri, ia pernah mendengar langsung bahwa pengawasan dengan pola berjalan bolak-balik di dalam ruangan dapat membuat mereka merasa tidak nyaman dan mengganggu konsentrasi.

Karena itu, pengawasan yang baik menurutnya bukan hanya persoalan memastikan tidak terjadi pelanggaran, tetapi juga bagaimana menciptakan suasana yang mendukung proses evaluasi pembelajaran.

Pendekatan tersebut menempatkan guru bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan pendidikan yang turut membentuk karakter peserta didik. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi ketegasan tidak harus selalu diwujudkan melalui sikap curiga.

Menjadikan Ujian sebagai Bagian dari Amanah

Ustzh. Yuriah juga mengingatkan bahwa pelaksanaan ujian bukanlah pengalaman pertama bagi lingkungan pesantren. Ujian merupakan bagian dari rutinitas pendidikan dan menjadi sarana evaluasi yang terus berulang.

Karena itu, setiap pelaksanaan ujian seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan perbaikan. Kekurangan yang ditemukan dalam satu pelaksanaan dapat menjadi bahan pembelajaran agar penyelenggaraan berikutnya semakin baik.

Ia meyakini bahwa sistem yang telah berjalan di pesantren sudah mengalami banyak perkembangan. Namun, perbaikan tetap diperlukan sebagai bagian dari proses menuju kualitas yang lebih baik.

Pada akhirnya, Ustzh. Yuriah mengajak seluruh guru pengawas untuk kembali memperbaiki niat dalam menjalankan tugas. Menurutnya, pengawasan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan amanah yang dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan ikhlas.

“Bismillah. Kita perbaiki kerja kita hari ini dengan ikhlas, sehingga menjadi ibadah kita,” pesannya.

Apel tersebut ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh rangkaian ujian dapat berlangsung tertib, lancar, dan memberikan hasil yang baik. Lebih dari sekadar pengarahan teknis, amanat Ustzh. Yuriah menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah ujian tidak hanya ditentukan oleh soal dan jawaban, tetapi juga oleh suasana pendidikan yang dibangun di dalamnya.

Di ruang ujian, guru memiliki dua tanggung jawab sekaligus: memastikan integritas proses tetap terjaga dan memberi ruang kepada santri untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Di titik inilah pengawasan menemukan makna yang lebih luas—tegas dalam menjaga kejujuran, tetapi tetap percaya kepada peserta didik; disiplin dalam menjalankan amanah, tetapi tidak mengorbankan ketenangan belajar.