Tahfizhdulido.com – Pelaksanaan ujian di lingkungan Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido tidak hanya menuntut kesiapan peserta didik, tetapi juga membutuhkan kesungguhan para guru dalam mengawal seluruh prosesnya. Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Apel Ujian yang dilaksanakan pada Jumat (18/9/2026) pagi di Lapangan Putra.
Apel yang berlangsung pukul 07.00–07.15 WIB tersebut diikuti oleh Guru Pengabdian Zythera dan Guru Pengawas Senior. Apel dipimpin oleh Ust. Andi Sopiyan, S.Pd.I, yang dalam arahannya menekankan pentingnya kesabaran, kedisiplinan, ketegasan yang tetap humanis, serta keteladanan para pengawas selama pelaksanaan ujian.
Menurut Ust. Andi, tugas mengawas ujian sering kali memiliki tantangan tersendiri. Dibandingkan dengan mengajar, aktivitas mengawas dapat terasa lebih monoton dan membutuhkan kesabaran yang lebih besar. Karena itu, pengawas tidak cukup hanya hadir secara fisik di ruang ujian, tetapi juga perlu menjaga sikap dan konsistensi selama proses berlangsung.
“Yang pertama adalah kesabaran dalam mengawas,” tegas Ust. Andi dalam arahannya.
Ia menjelaskan bahwa rasa jenuh dalam mengawas merupakan hal yang mungkin dirasakan oleh sebagian guru. Namun, kejenuhan tersebut tidak boleh mengurangi kesungguhan dalam menjalankan amanah. Ketidaksabaran dalam mengawas berpotensi membuat proses ujian berjalan kurang kondusif.
“Mengawas itu menjenuhkan. Jadi kalau kita tidak sabar dalam mengawas, otomatis akan sia-sia itu. Gerutu, ngedumel, nantinya malah tidak ikhlas dan membuahkan hasil ujian yang tidak kondusif,” ujarnya.
Karena itu, kesabaran menjadi modal penting bagi setiap pengawas. Guru dituntut untuk tetap fokus, tenang, dan menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan agar suasana ujian tetap tertib dan memberikan ruang yang adil bagi seluruh peserta didik.
Ketegasan yang Tidak Kehilangan Sisi Humanis
Pesan berikutnya berkaitan dengan karakteristik peserta ujian yang tidak semuanya berada pada tingkat pengalaman yang sama. Ust. Andi menyoroti perbedaan kondisi antara peserta didik kelas atas dan peserta didik yang masih berada di kelas awal.
Bagi peserta didik kelas satu, misalnya, ujian dengan sistem dan metode yang diterapkan di pesantren dapat menjadi pengalaman baru. Mereka masih berada dalam tahap beradaptasi dengan lingkungan, pola pembelajaran, sekaligus sistem evaluasi yang berlaku.
“Kelas lima dan kelas satu ini berbeda. Untuk mereka yang di kelas satu, maka ini adalah hal-hal yang baru dalam hidup mereka, mungkin menghadapi ujian di pesantren dengan metode yang kita terapkan. Maka mereka lumayan agak kaget,” jelasnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan pendekatan pengawasan yang tepat. Ketegasan tetap harus ditegakkan, terutama ketika terdapat pelanggaran terhadap tata tertib ujian. Namun, ketegasan tidak berarti menghilangkan sisi kemanusiaan dalam mendidik.
Ust. Andi menekankan bahwa penerapan sanksi atau hukuman perlu mempertimbangkan kondisi dan tingkat perkembangan peserta didik. Pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik kelas satu tidak serta-merta dapat diperlakukan dengan pendekatan yang sama seperti peserta didik kelas lima.
“Dibutuhkan ketegasan dalam pengawasan, tapi tetap humanis,” katanya.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena sebagian peserta didik kelas awal bahkan masih menghadapi kesulitan dalam memahami instruksi atau soal ujian. Dalam kondisi demikian, pengawas bukan hanya berperan sebagai penjaga ketertiban, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendidikan yang membantu peserta didik memahami aturan dan bertanggung jawab atas proses belajarnya.
Disiplin Pengawas Dimulai dari Keteladanan
Selain kesabaran dan pendekatan humanis, Ust. Andi juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan. Menurutnya, guru tidak dapat menuntut peserta didik untuk disiplin apabila para pendidiknya sendiri tidak menunjukkan sikap yang sama.
Ia mengapresiasi kesiapan para peserta apel yang telah hadir dan tertib sebelum kegiatan dimulai. Menurutnya, kebiasaan tersebut merupakan perkembangan positif yang perlu dipertahankan.
“Saya lihat sebelum apel, peserta apelnya sudah siap semuanya. Ini adalah suatu kemajuan sepertinya, dan baik bagi kita untuk mencontoh sebenarnya,” tuturnya.
Baginya, keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan. Peserta didik tidak hanya belajar melalui materi yang disampaikan di kelas, tetapi juga melalui perilaku yang mereka lihat setiap hari dari para guru dan pengawas.
Karena itu, kedisiplinan pengawas harus dimulai dari hal sederhana, salah satunya dengan datang tepat waktu dan berada di ruang ujian sebelum peserta didik memulai kegiatan.
“Yang terakhir adalah menjadi teladan bagi para peserta ujian dengan tidak terlambat masuk ke dalam ruang ujian,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan ujian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan peserta didik menjawab soal. Integritas proses ujian juga bergantung pada bagaimana seluruh unsur yang terlibat menjalankan tanggung jawabnya.
Ujian sebagai Ruang Pendidikan Karakter
Apel pagi tersebut pada akhirnya tidak sekadar menjadi pengarahan teknis bagi para pengawas. Lebih dari itu, apel menjadi momentum untuk mengingatkan kembali bahwa ujian merupakan bagian dari proses pendidikan yang lebih luas.
Kesabaran mengajarkan konsistensi. Ketegasan melatih tanggung jawab. Sikap humanis menjaga proses pendidikan tetap berorientasi pada pembinaan manusia. Sementara keteladanan memberikan contoh nyata tentang bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Empat hal tersebut menjadi bekal penting bagi para pengawas dalam memastikan ujian berlangsung tertib dan kondusif. Di ruang ujian, guru tidak hanya mengawasi lembar jawaban dan tata tertib, tetapi juga sedang menunjukkan kepada peserta didik bagaimana sebuah amanah dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Menutup arahannya, Ust. Andi kembali mengingatkan para pengawas untuk memegang tiga prinsip utama: bersabar dalam mengawas, menegakkan disiplin dengan ketegasan yang tetap humanis, serta menjadi teladan bagi peserta didik.
“Saya ulangi lagi, yang pertama bersabar dalam mengawas, yang kedua tetap tegakkan disiplin, yang tegas tapi tetap humanis. Yang terakhir adalah menjadi teladan,” pungkasnya.
Dengan semangat tersebut, pelaksanaan ujian diharapkan tidak hanya menjadi sarana mengukur capaian akademik peserta didik, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah ujian tidak hanya terlihat dari hasil yang tertulis di atas kertas, tetapi juga dari proses yang dijalankan dengan tertib, adil, sabar, dan penuh keteladanan.

