Tahfizhdulido.com – Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido menyelenggarakan Haul Maulana Syekh Abdussalam Aly Syita yang dirangkaikan dengan Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Ahad, 25 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Multazam dan dihadiri oleh seluruh civitas guru pesantren. Acara berjalan dengan penuh kekhidmatan dan nuansa spiritual yang mendalam.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Nailul Khairat, dilanjutkan dengan zikriyat untuk Fadhilati Maulana Syekh Abdussalam Aly Syita, serta tausiyah yang disampaikan oleh Maulana Syekh ‘Ala. Sejak awal acara, suasana spiritual terasa begitu kuat, membawa para hadirin larut dalam dzikir, kecintaan kepada para wali Allah, serta kerinduan kepada Rasulullah SAW.

Dalam tausiyahnya, Maulana Syekh ‘Ala mengisahkan perjalanan beliau dalam mengunjungi berbagai pesantren, termasuk Pesantren Daarul Uluum Lido. Beliau juga menyampaikan salam serta silsilah keberkahan yang bersambung dari para ulama hingga kepada Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Melalui kisah-kisah tersebut, jamaah diajak untuk memahami pentingnya sanad ruhani serta keberlanjutan nilai keilmuan dan akhlak dalam tradisi Islam.

Salah satu pesan utama yang sangat ditekankan dalam tausiyah tersebut adalah pelajaran agung yang beliau peroleh selama kurang lebih 30 tahun berguru kepada Maulana Syekh Abdussalam Aly Syita. Dari perjalanan panjang tersebut, beliau merangkum satu pelajaran yang sederhana namun sangat mendalam:

“Antakūna ‘abdan lillāh” — Jadilah hamba Allah yang sejati.

Makna abdan lillah dijelaskan melalui keteladanan hidup sang guru, yang menunjukkan ketaatan total kepada Allah SWT, ketekunan dalam ibadah, serta kezuhudan terhadap kehidupan dunia. Dikisahkan bahwa meskipun telah lanjut usia, beliau tetap istiqamah melaksanakan shalat berjamaah di masjid, menaiki dan menuruni tangga dengan kakinya sendiri tanpa bergantung pada fasilitas, hingga beberapa waktu sebelum wafatnya.

Lebih dari itu, akhlak mulia sang guru tercermin dalam sikap khidmah (melayani), tawadhu’ (rendah hati), dan pemuliaan terhadap tamu. Beliau tidak segan melayani keluarganya sendiri, merawat istrinya yang sakit selama bertahun-tahun, serta selalu mendahulukan tamu meskipun dalam kondisi fisik yang lemah. Semua itu beliau jalani sebagai wujud pengamalan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Maulana Syekh ‘Ala juga menegaskan bahwa karamah terbesar para wali Allah bukanlah peristiwa-peristiwa luar biasa, melainkan ketaatan, keikhlasan, serta orientasi hidup yang sepenuhnya tertuju kepada Allah SWT. Zuhud terhadap dunia, menjaga lisan dari keburukan, serta senantiasa mendoakan semua pihak—termasuk mereka yang berbeda pandangan—merupakan inti dari akhlak Nabawi yang sejati.

Dalam kisah-kisah yang disampaikan, tergambar jelas bahwa sang guru tidak pernah berbicara buruk tentang siapa pun. Bahkan kepada pihak yang kerap dianggap berseberangan sekalipun, beliau tetap memandang mereka sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad SAW yang layak didoakan, bukan dicela. Inilah puncak akhlak mulia yang lahir dari hati seorang hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya.

Acara haul dan peringatan Isra Mi’raj ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sosok ulama besar, tetapi juga menjadi sarana muhasabah bagi seluruh hadirin. Bahwa perjalanan spiritual sejati tidak diukur dari kehebatan lahiriah, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu menjadi hamba Allah yang taat, rendah hati, dan penuh kasih.

Semoga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Maulana Syekh Abdussalam Aly Syita dan para guru mulia lainnya senantiasa hidup dalam keseharian kita, khususnya di lingkungan pesantren, sebagai bekal menuju ridha Allah SWT. Aamiin.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag