Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido kembali menggelar Penganugerahan Santri Berprestasi Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025–2026. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat di Masjid Al-Maktoum pada pukul 20.30 WIB hingga selesai, serta dihadiri oleh para santri, asatidz, dan jajaran pimpinan pesantren.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi atas capaian hafalan, kedisiplinan, dan kesungguhan para santri, tetapi juga menjadi ruang peneguhan nilai-nilai dasar pesantren: makna ilmu, adab, dan pengabdian. Penganugerahan tersebut diisi dengan mau‘izhah hasanah yang disampaikan oleh Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., yang memberikan nasihat mendalam tentang hakikat keberhasilan seorang santri.

Dalam nasihatnya, Kiai Yazid menegaskan bahwa keberhasilan santri tidak cukup diukur dari banyaknya hafalan atau tingginya nilai, melainkan dari sejauh mana ilmu itu hidup di dalam hati dan tercermin dalam akhlak.

Beliau membuka dengan pesan penting tentang kebersamaan:

“‘Alaikum bil jama‘ah, liannallāha yadullā ‘alal-jamā‘ah.”
Hendaklah kalian bersama jamaah, karena pertolongan Allah bersama kebersamaan.

Pesan ini menegaskan bahwa kehidupan pesantren dibangun di atas semangat kolektif, bukan individualisme. Ilmu akan lebih mudah tumbuh dan mengakar ketika dipelajari dalam suasana kebersamaan—saling menasihati, saling menguatkan, dan saling mendoakan.

Menurut beliau, jamaah bukan sekadar berkumpul secara fisik, tetapi juga menyatukan pikiran, rasa, raga, dan ruh. Ketika keterhubungan ini terjalin dengan baik, ilmu yang disampaikan guru akan sampai ke hati murid. Di sinilah pentingnya ikatan batin antara guru dan santri, karena keberkahan ilmu lahir dari hubungan yang tulus dan penuh adab.

Dalam penjelasan selanjutnya, Ustadz Yazid mengingatkan kembali jati diri santri sebagai khādimul ummah (pelayan umat) dan khādimus sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Status sebagai santri bukan sekadar identitas akademik, melainkan amanah perjuangan.

Seluruh aktivitas belajar, menghafal Al-Qur’an, dan melatih kedisiplinan di pesantren sejatinya merupakan bagian dari pengabdian kepada agama dan masyarakat. Ujung dari seluruh amal tersebut, tegas beliau, adalah mahabbah kepada Allah SWT. Tanpa mahabbah, ilmu akan menjadi kering dan kehilangan ruhnya.

Salah satu problem besar dalam dunia pendidikan—termasuk di lingkungan pesantren—adalah ketika ilmu tidak menyentuh hati. Ustadz Yazid menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar iṣālul ma‘lūmāt (transfer informasi) atau hafalan yang diulang-ulang.

Ilmu sejati adalah ilmu yang berdampak pada akhlak, adab, dan etika. Beliau menyayangkan ketika sebagian penuntut ilmu tidak mampu merasakan lezatnya ilmu. Hal ini sering terjadi karena motivasi belajar yang keliru, seperti belajar hanya demi ujian atau penilaian semata.

Oleh sebab itu, beliau mengingatkan agar santri tidak menjadi ṭālibul imtiḥān (pencari ujian), melainkan ṭālibul ‘ilm (pencari ilmu). Ujian bersifat sementara, sedangkan ilmu akan menemani seseorang sepanjang hidupnya—bahkan hingga ia menghadap Allah SWT.

Kesadaran inilah yang seharusnya menumbuhkan kecintaan mendalam terhadap ilmu, bukan sekadar semangat sesaat. Ketika seseorang tidak mampu merasakan ketenangan dan kebahagiaan dari ilmunya, itu bisa menjadi tanda adanya penyakit dalam hati. Problematika ilmu sering kali bukan terletak pada sulitnya materi, melainkan pada kondisi batin penuntutnya. Di sinilah nasihat para ulama menjadi obat bagi penyakit hati tersebut.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Yazid juga mengingatkan pentingnya membahagiakan sesama muslim. Memberikan kebahagiaan kepada orang lain merupakan amal yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Lingkungan pesantren yang hangat, saling menghargai, dan penuh empati akan memudahkan ilmu tumbuh subur.

Beliau kemudian mengajak seluruh santri untuk melakukan tajdīdun niat—memperbarui niat. Pertanyaan mendasar yang harus terus dihadirkan adalah: apa yang sebenarnya kita cari di pondok pesantren? Jika jawabannya adalah ridha Allah, maka lelah dalam belajar akan bernilai ibadah, dan kesulitan dalam menghafal menjadi bagian dari jihad.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar:

“Man kharaja fī ṭalabil ‘ilmi fahuwa fī sabīlillāhi ḥattā yarji‘.”
Barang siapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali.

Ilmu tidak memiliki batas akhir. Karena itu, dalam bahasa Arab sering digunakan fi‘il mudhāri‘ yang menunjukkan kesinambungan. Proses belajar tidak pernah berhenti selama hayat masih dikandung badan.

Sebagai penutup, Ustadz Yazid menekankan pentingnya adab kepada guru. Ketika seorang guru lupa kepada muridnya, hal itu patut dimaklumi. Namun ketika seorang murid lupa kepada gurunya, di situlah letak kegersangan adab.

Mengingat jasa guru, mendoakan mereka, dan menjaga hubungan batin dengan penuh hormat merupakan bagian penting dari keberkahan ilmu yang dipelajari.

Penganugerahan santri berprestasi malam itu pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi momentum muhasabah, peneguhan niat, dan penguatan jati diri santri sebagai pencinta ilmu, penjaga Al-Qur’an, serta pelayan umat. Sebuah langkah kecil yang diharapkan melahirkan keberkahan besar di masa depan.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag

Juara Kelas Semester Ganjil 2025/2026

Juara Paralel Semester Ganjil 2025/2026

Juara Tahfizhi Semester Ganjil 2025/2026

Juara Umum Semester Ganjil 2025/2026