Tahfizhdulido.com – Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido terus memperkuat komitmennya dalam mempersiapkan santri menghadapi dunia pendidikan dan karier yang semakin kompleks. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pemberdayaan Santri melalui Aplikasi Smart Career Center PEDULI Berbasis Kecerdasan Buatan untuk Perencanaan Karier, Pendidikan, dan Kesehatan Mental, yang digelar di Aula Multazam, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut mempertemukan pendidikan pesantren dengan pendekatan psikologi, perencanaan karier, dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Program ini menjadi ruang bagi para santri untuk mengenali potensi diri sekaligus memperoleh wawasan mengenai kesehatan mental dan pilihan pendidikan maupun karier setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Agenda berlangsung dalam beberapa sesi utama. Sesi pertama membahas kesehatan mental yang disampaikan oleh dr. Dyani Pitra Velyani, Sp.K.J. Sementara sesi berikutnya diisi materi literasi karier oleh Uswatun Hasanah, M.Psi. dan Lulu Khoiruningrum, M.Psi. dari JA Psychology Consultant.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian pengembangan aplikasi Smart Career Center PEDULI yang melibatkan pihak Universitas Trisakti. Setelah sebelumnya memasuki tahap pengembangan, pada kegiatan ini para peserta diperkenalkan pada materi sekaligus diarahkan untuk mencoba penggunaan aplikasi.

Menjawab Tantangan Santri di Era Digital

Dalam sambutannya, Ust. Affan Afifi, S.H.I. menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam pengembangan program tersebut.

Menurutnya, pendidikan pesantren harus memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Modernitas, kata dia, tidak cukup dimaknai sebagai penggunaan teknologi semata, tetapi bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat tujuan pendidikan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

“Pesantren harus menikmati zaman, bukan zaman yang menikmati pesantren,” menjadi salah satu gagasan yang ditekankan dalam sambutannya.

Menurut Ust. Affan, sistem pendidikan pesantren perlu memiliki tiga karakter penting: integratif, komprehensif, dan adaptif. Pesantren tidak cukup hanya membekali santri dengan ilmu agama, tetapi juga harus membantu mereka menjawab berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan modern.

Salah satu persoalan tersebut adalah ketidakjelasan arah setelah lulus. Tidak sedikit peserta didik yang masih kebingungan menentukan pilihan jurusan kuliah, bidang pekerjaan, maupun potensi yang ingin dikembangkan.

Karena itu, kehadiran Career Center dinilai menjadi kebutuhan strategis bagi pesantren.

Ust. Affan mengungkapkan bahwa kebutuhan serupa ternyata juga dirasakan sejumlah pesantren lain. Dalam beberapa kunjungannya ke sejumlah lembaga pendidikan pesantren, ia menemukan adanya kesamaan persoalan: bagaimana membantu santri menentukan arah pendidikan dan karier secara lebih terarah.

“Ternyata pesantren memiliki tantangan yang sama. Mereka juga ingin membangun program Career Center karena banyak santri yang masih kehilangan arah dalam menentukan kuliah dan masa depannya,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karier bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari proses pendidikan santri.

Kesehatan Mental, Bukan Sekadar Persoalan Stres

Sesi pertama kegiatan diisi dengan materi kesehatan mental oleh dr. Dyani Pitra Velyani, Sp.K.J. Dalam penyampaiannya, peserta diajak memahami bahwa stres merupakan bagian alami dari kehidupan.

Stres tidak selalu bermakna negatif. Dalam tingkat tertentu, tekanan justru dapat mendorong seseorang untuk berkembang, menyusun strategi, dan meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan.

Namun, ketika tekanan berlangsung berlebihan atau berkepanjangan, stres dapat berubah menjadi distress yang memengaruhi kondisi fisik maupun mental.

Dokter Dyani menjelaskan bahwa stres dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, overthinking, sakit kepala, gangguan pencernaan, perubahan emosi, perubahan pola makan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Karena itu, santri perlu memiliki kemampuan mengenali perubahan pada dirinya sendiri.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, keberanian menyadari keterbatasan dan mencari pertolongan merupakan bagian dari kemampuan menjaga kesehatan mental.

“Orang yang menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan justru merupakan orang yang kuat, karena dia menyadari keterbatasannya dan berani meminta bantuan,” jelasnya.

Dalam sesi tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah teknik sederhana untuk mengelola kecemasan dan tekanan, di antaranya teknik pernapasan dan grounding technique.

Melalui teknik grounding, seseorang dilatih untuk kembali memusatkan perhatian pada kondisi saat ini dengan menggunakan pancaindra. Peserta diajak memperhatikan benda yang dapat dilihat, disentuh, didengar, dicium, dan dirasakan.

Teknik tersebut dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu seseorang mengendalikan kecemasan dan overthinking.

Membangun Resiliensi Santri

Selain memahami stres, para santri juga diajak mengenal konsep resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit dan kembali berfungsi secara adaptif setelah menghadapi tekanan atau masa sulit.

Menurut dr. Dyani, menjadi tangguh bukan berarti seseorang tidak boleh sedih, cemas, lelah, atau merasa tertekan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan untuk kembali bangkit setelah mengalami berbagai tekanan.

Resiliensi dapat dibangun melalui sejumlah aspek, seperti self-awareness, kemampuan melakukan reframing, dukungan sosial, serta memiliki pegangan spiritual.

Dalam konteks pesantren, dukungan sosial menjadi salah satu kekuatan tersendiri. Kehidupan bersama membuat santri memiliki teman dan lingkungan yang dapat menjadi tempat berbagi ketika menghadapi persoalan.

Sementara aspek spiritual juga memiliki peran penting. Para santri dapat menggabungkan teknik pengelolaan stres dengan aktivitas spiritual seperti doa dan zikir.

“Untuk menjadi tangguh, kita perlu memperhatikan fisik, sosial, dan mental. Jangan lupa makan dengan baik, istirahat, dan mengenali kondisi tubuh sendiri,” pesan dr. Dyani kepada para peserta.

Ia juga mengingatkan agar santri tidak mengabaikan gejala fisik seperti sakit kepala atau gangguan pencernaan yang muncul secara berulang. Kondisi tubuh dapat menjadi salah satu sinyal bahwa seseorang sedang menghadapi tekanan yang perlu diperhatikan.

Mengenali Minat, Bakat, dan Arah Karier

Memasuki sesi literasi karier, Uswatun Hasanah, M.Psi. dan Lulu Khoiruningrum, M.Psi. mengajak santri melihat pilihan pendidikan dan pekerjaan secara lebih luas.

Salah satu pertanyaan mendasar yang dibahas adalah apakah jurusan yang dipilih saat sekolah harus selalu sama dengan bidang kuliah atau pekerjaan di masa depan.

Para pemateri menekankan bahwa pilihan karier tidak selalu harus terbatas pada jurusan pendidikan sebelumnya. Seseorang dapat memiliki ketertarikan dan potensi di beberapa bidang yang berbeda.

Karena itu, santri perlu mengenali minat, bakat, kemampuan, kepribadian, kebutuhan, pengalaman, dan lingkungan sebelum menentukan pilihan.

Minat dapat berkembang seiring bertambahnya pengalaman. Seseorang yang sebelumnya tidak tertarik terhadap bidang tertentu dapat menemukan ketertarikan setelah mengikuti kegiatan, organisasi, ekstrakurikuler, atau pengalaman baru.

Demikian pula dengan bakat. Potensi seseorang tidak selalu langsung terlihat sejak awal. Proses eksplorasi menjadi bagian penting untuk menemukan kemampuan yang selama ini belum disadari.

Para peserta kemudian diajak mengikuti asesmen sederhana untuk memetakan preferensi pekerjaan. Mereka diminta memilih sejumlah pekerjaan yang paling diminati dari berbagai kategori.

Asesmen tersebut menjadi salah satu bagian dari proses pengenalan diri sebelum hasilnya diolah melalui sistem aplikasi.

Dari Teori Menuju Aplikasi

Perwakilan Universitas Trisakti menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari program yang telah dimulai sebelumnya. Setelah melalui proses pengembangan, aplikasi Smart Career Center PEDULI mulai memasuki tahap pengujian penggunaan.

Para santri tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk mencoba aplikasi dan memberikan pengalaman pengguna.

Tahapan tersebut penting untuk memastikan aplikasi mudah dipahami dan benar-benar memberikan manfaat bagi pengguna.

Dengan pendekatan berbasis kecerdasan buatan, Smart Career Center PEDULI diharapkan dapat menjadi salah satu sarana yang membantu santri dalam memperoleh gambaran mengenai pilihan pendidikan, karier, serta aspek pendukung kesehatan mental.

Program ini juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara lembaga pendidikan tinggi dan pesantren dapat menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Career Center sebagai Investasi Masa Depan Santri

Kehadiran Smart Career Center PEDULI di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido menunjukkan bahwa pendidikan santri kini bergerak menuju pendekatan yang semakin luas.

Pesantren tidak hanya mempersiapkan santri untuk memahami ilmu agama, tetapi juga membekali mereka agar mampu menentukan arah kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

Perencanaan karier menjadi semakin penting di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat. Bidang pekerjaan baru terus bermunculan, sementara kebutuhan terhadap keterampilan tertentu juga berubah seiring perkembangan teknologi.

Dalam kondisi tersebut, kemampuan mengenali diri dan mengambil keputusan menjadi modal penting bagi generasi muda.

Bagi Daarul ‘Uluum Lido, program ini sekaligus memperkuat visi pendidikan yang adaptif terhadap zaman. Teknologi ditempatkan sebagai alat untuk membantu santri menemukan potensi, bukan sebagai pengganti nilai-nilai pendidikan pesantren.

Dari Aula Multazam, para santri tidak hanya belajar tentang pekerjaan apa yang mungkin mereka jalani di masa depan. Mereka diajak terlebih dahulu memahami siapa diri mereka, bagaimana menjaga kesehatan mental, apa yang mereka minati, dan potensi apa yang dapat dikembangkan.

Pada akhirnya, perencanaan karier bukan sekadar pertanyaan tentang “ingin menjadi apa?”, tetapi juga tentang “siapa yang ingin dibentuk dan kontribusi apa yang ingin diberikan kepada masyarakat?”

Melalui Smart Career Center PEDULI, Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido berupaya menjembatani keduanya: membangun santri yang mengenal dirinya, sehat secara mental, memiliki arah pendidikan yang jelas, serta siap memasuki dunia profesional tanpa kehilangan akar nilai dan karakter pesantren.