Tahfizhdulido.com – Masjid Al-Maktoum kembali menjadi saksi penguatan nilai-nilai kesantrian melalui kegiatan Kuliah Etiket Santri yang diselenggarakan pada Jumat malam, 19 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.30 WIB hingga selesai ini dihadiri para santri dengan penuh antusias dan kekhidmatan. Kuliah etiket kali ini disampaikan oleh Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., yang akrab disapa Abi Bay, selaku Direktur Pesantren Tahfizh Daarul Uluum Lido.
Kuliah Etiket Santri merupakan salah satu agenda pembinaan yang bertujuan membekali santri dengan pemahaman mendalam tentang adab dan etika, terutama menjelang masa liburan. Abi Bay menegaskan bahwa liburan bukan sekadar waktu jeda dari aktivitas belajar, melainkan fase penting yang menguji kedewasaan akhlak dan tanggung jawab santri ketika berada di tengah masyarakat. Seorang santri harus mampu menjaga identitas, sikap, serta nilai-nilai pesantren di mana pun ia berada.
Dalam pemaparannya, Abi Bay menjelaskan bahwa etiket santri tidak hanya mencakup sopan santun lahiriah, tetapi juga kesadaran moral, kepekaan sosial, dan kemampuan mengambil keputusan dengan matang. Santri, menurut beliau, adalah representasi nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, menjaga lisan, perilaku, dan interaksi selama liburan menjadi kewajiban moral yang tidak boleh diabaikan.
Selain penguatan etika, kuliah ini juga menjadi momentum penting untuk menyosialisasikan penggunaan aplikasi Tadarrus sebagai media pembiasaan interaksi dengan Al-Qur’an. Abi Bay mengajak santri memanfaatkan teknologi secara positif, salah satunya dengan menjadikan aplikasi Tadarrus sebagai sahabat dalam menjaga konsistensi membaca dan mengkaji Al-Qur’an, sekalipun berada di luar lingkungan pesantren. Teknologi, menurut beliau, sepatutnya menjadi alat yang memperkuat spiritualitas, bukan sebaliknya menjauhkan dari nilai-nilai agama.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula sosialisasi program donasi untuk korban banjir di wilayah Sumatra dan Aceh melalui SPU (Saku Peduli Umat). Program ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial pesantren terhadap saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah. Santri diajak untuk tidak bersikap individualistis, tetapi menumbuhkan empati dan kepekaan sosial. Donasi sekecil apa pun tetap memiliki nilai besar sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
Dalam kuliahnya, Abi Bay juga memaparkan latar belakang berdirinya SPU yang secara resmi dimulai pada 22 Oktober 2020. Berawal dari gerakan sederhana yang menghimpun alumni melalui wadah Saku Pesantren Daarul Uluum untuk Umat, SPU berkembang menjadi instrumen strategis dalam menggerakkan kepedulian, menyelamatkan generasi, dan menjaga kewajiban sosial sebagai seorang Muslim yang hidup bermasyarakat. SPU bukan sekadar wadah donasi, tetapi juga media pendidikan sosial yang melatih santri untuk terbiasa memberi dan peduli.
Lebih lanjut, Abi Bay memperkenalkan kompetensi wakaf dengan gelar CWC (Certified Waqaf Competence). Menurut beliau, wakaf merupakan instrumen ekonomi dan sosial Islam yang potensial apabila dikelola secara profesional. Santri perlu memiliki wawasan dan keterampilan dalam pengelolaan wakaf agar kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan umat.
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah urgensi penguasaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Abi Bay mengingatkan bahwa santri tidak boleh tertinggal dalam perkembangan teknologi. Justru, santri harus menjadi subjek yang kritis dan produktif dalam memanfaatkannya. Masa liburan dapat menjadi kesempatan emas untuk mengenal dan mengeksplorasi berbagai platform AI seperti ChatGPT, Gemini, dan lainnya sebagai sarana memperluas wawasan.
Namun demikian, Abi Bay menegaskan bahwa teknologi harus dimanfaatkan secara bijak dan beretika. AI hanyalah alat, sementara akal, nurani, dan iman tetap menjadi kompas utama dalam menentukan arah penggunaannya. Santri harus mampu memanfaatkan teknologi, bukan terpedaya olehnya.
Sebagai penutup, abi Bay mengajak seluruh santri untuk turut menyebarluaskan aplikasi SPU dan Tadarrus kepada masyarakat luas sebagai bagian dari dakwah digital. Ia berharap, kuliah ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar membekas dalam sikap, perilaku, dan pola pikir santri, baik saat berada di pesantren maupun di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan ini, santri diingatkan bahwa menjaga akhlak, menumbuhkan kepedulian sosial, dan melek teknologi merupakan tiga pilar penting dalam membentuk generasi santri yang unggul, berdaya saing, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam.


