Tahfizhdulido.com – Di banyak pesantren tahfizh hari ini, ukuran keberhasilan sering kali dipersempit menjadi angka: berapa juz yang bertambah, seberapa cepat santri menyelesaikan hafalan, atau siapa yang paling dahulu khatam. Padahal, di balik lembar evaluasi dan capaian target, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: untuk apa sebenarnya Al-Qur’an dihafal?
Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Evaluasi Bulanan Ziyadah dan Khatim yang digelar di Masjid Al Maktoum pada Sabtu malam, 9 Mei 2026. Kegiatan yang dihadiri para musyrif dan musyrifah itu menghadirkan pembinaan langsung dari Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., atau yang akrab disapa Abi Bay. Forum tersebut bukan sekadar ruang laporan pencapaian hafalan, melainkan menjadi momentum muhasabah besar tentang makna menghafal Al-Qur’an di tengah zaman yang serba cepat, serba instan, dan penuh tekanan ekspektasi.
Data evaluasi menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Dari target empat juz, sebagian besar santri berhasil mencapainya. Namun, yang menarik bukanlah angka keberhasilannya. Yang justru penting adalah cara memandang mereka yang belum mencapai target.
Dalam penyampaiannya, Abi Bay menegaskan bahwa “susah menghafal” sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi masalah justru ketika seseorang kehilangan keinginan untuk menghafal. Sebab lambat dan cepat hanyalah perbedaan ritme perjuangan, bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah.
Analogi sederhana pun disampaikan. Ada santri yang mampu menghafal satu halaman hanya dalam sepuluh menit. Ada pula yang membutuhkan dua puluh hingga tiga puluh menit untuk halaman yang sama. Dalam logika dunia, yang cepat sering dianggap lebih hebat. Tetapi dalam logika iman, yang lebih lama justru bisa jadi memiliki lebih banyak pengulangan, lebih banyak interaksi dengan ayat, dan lebih panjang perjuangannya.
Di titik ini, hafalan tidak lagi dipandang sebagai kompetisi, melainkan perjalanan spiritual.
Sayangnya, banyak santri hari ini terjebak dalam tekanan sosial. Ada yang menghafal karena takut evaluasi. Ada yang merasa harus cepat khatam agar dipuji teman-temannya. Bahkan ada yang mulai kehilangan ketenangan karena merasa tertinggal dari santri lain.
Padahal, menghafal Al-Qur’an bukan perlombaan untuk memenuhi ekspektasi manusia.
Budaya membandingkan diri inilah yang perlahan menjadi racun di banyak lingkungan pendidikan. Ketika seorang santri melihat temannya mampu khatam dalam waktu singkat, ia mulai merasa dirinya gagal. Ketika target tidak tercapai, yang muncul bukan lagi semangat memperbaiki diri, tetapi rasa tidak betah, ingin menyerah, bahkan mencari “kambing hitam” atas kegagalannya.
Di sinilah kritik besar yang disampaikan Abi Bay terasa relevan: jangan sampai pesantren hanya melahirkan penghafal yang cepat selesai, tetapi rapuh dalam niat dan mental.
Sebab ada perbedaan besar antara “sulit menghafal” dan “malas menghafal”. Santri yang sulit menghafal masih memiliki harapan karena ia tetap berjuang. Tetapi rasa malas sering kali jauh lebih berbahaya karena membuat seseorang berhenti sebelum benar-benar berusaha.
Menariknya, evaluasi itu tidak dibangun dengan nada marah atau ancaman. Yang muncul justru ajakan untuk kembali mengingat alasan pertama datang ke pesantren. Mengapa memilih jalan tahfizh? Mengapa rela meninggalkan rumah? Mengapa bersedia hidup dalam disiplin dan keterbatasan?
Jawabannya sederhana: karena Allah memilih mereka untuk dekat dengan Al-Qur’an.
Di tengah zaman ketika banyak anak muda bahkan tidak akrab dengan mushaf, keberadaan para penghafal Al-Qur’an sesungguhnya adalah nikmat besar yang sering tidak disadari. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk duduk di majelis hafalan. Tidak semua orang dipilih untuk menjaga ayat-ayat Allah di dalam dada mereka.
Kesadaran semacam ini penting dihidupkan kembali. Sebab banyak santri hari ini kehilangan rasa syukur karena terlalu sibuk menghitung beban.
Padahal, menjadi penghafal Al-Qur’an memang tidak pernah dijanjikan sebagai jalan yang mudah.
Dalam forum tersebut, Abi Bay juga menjelaskan tentang makna passion. Menariknya, passion dijelaskan bukan sekadar “gairah”, tetapi sesuatu yang juga mengandung penderitaan. Setiap pilihan selalu menuntut pengorbanan. Jika seseorang ingin serius menghafal Al-Qur’an, maka ada waktu bermain yang harus dikurangi, ada kenyamanan yang harus ditinggalkan, dan ada rasa lelah yang harus diterima.
Itulah harga dari sebuah cita-cita besar.
Karena itu, muncul gagasan penting dalam evaluasi kurikulum tahfizh: jangan menambah hafalan baru sebelum hafalan lama benar-benar kuat (mutqin). Santri diarahkan untuk memastikan satu juz benar-benar matang sebelum berpindah ke juz berikutnya. Pendekatan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat mendasar.
Dunia tahfizh hari ini terlalu sering terobsesi pada kuantitas, sementara kualitas perlahan diabaikan.
Tidak sedikit santri yang sudah khatam 30 juz, tetapi ketika diminta membaca beberapa juz secara sambung, hafalannya masih tersendat-sendat. Di titik ini, pesantren perlu berani jujur kepada diri sendiri: apakah target utama hanya mencetak santri yang “sudah selesai”, atau benar-benar melahirkan penjaga Al-Qur’an yang kokoh hafalannya?
Kritik lain yang cukup tajam diarahkan pada budaya tadarus yang mulai melemah. Dulu, santri mampu khatam berkali-kali dalam sebulan. Kini, satu kali khatam pun terasa berat. Padahal tadarus bukan aktivitas yang memerlukan kemampuan luar biasa. Ia hanya membutuhkan kedekatan dan kecintaan.
Ironisnya, banyak orang ingin menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi jarang mau berlama-lama bersama Al-Qur’an.
Padahal sejarah para ulama besar selalu memperlihatkan kedisiplinan yang luar biasa dalam membaca. Bahkan di sela kesibukan kuliah dan pekerjaan, mereka tetap membawa mushaf ke mana-mana. Al-Qur’an bukan sekadar pelajaran, melainkan teman hidup.
Barangkali inilah yang mulai hilang hari ini: hubungan emosional dengan Al-Qur’an.
Akhirnya, evaluasi malam itu tidak hanya berbicara tentang capaian hafalan, jumlah juz, atau ranking santri. Bersama Abi Bay, forum itu berubah menjadi pengingat bahwa inti dari perjalanan tahfizh bukanlah sekadar cepat khatam, tetapi tetap bertahan di jalan Al-Qur’an.
Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukan santri yang lambat menghafal.
Melainkan santri yang kehilangan alasan mengapa ia harus menghafal.