• Maulana Syekh Ala adalah seorang pengajar hebat. Beliau bisa menjelaskan materi yang terlihat sulit, sehingga tampak mudah difahami oleh muridnya. Cara mengajarnya, dan metode penjelasannya seperti perwujudan amaliyatu tadris yang ideal.
  • Upaya isholu malumat ila dzihni talamidz itu kerasa betul ada pada diri beliau. Dengan bahagianya beliau mengulang penjelasan, jika melihat wajah muridnya masih bengong.
  • Maulana Syekh Ala adalah seorang pendidik. Kita bisa melihat perwujudan kitab tarbiyah wa ta’lim ada pada diri beliau. Santunnya, cara menyapanya, suka memujinya, sentuhannya, candanya. Bukan kewibawaanya yang menonjol, tapi kasih sayang pada muridnya yang dominan. Seakan akan murid tidak berjarak dengan beliau.
  • Maulana Syekh Ala adalah seorang yang ahli ibadah. Lama dzikirnya, tak biasa. Bacaan bacaan doanya, kalimat kalimat wali. Tidak banyak kita temukan dalam kitab kitab.
  • Yang paling utama adalah ilmunya. Semua fan kajian islam, beliau kuasai dengan sangat sangat baik. Karenanya, apapun kecenderungan murid, bagian bahasanya kah, fiqihnya atau tafsirnya, semuanya bisa didapatkan dari beliau.
  • Saya suka menyebut, Maulana Syekh Ala adalah pintu ilmu bagi saya. Begini, kita belajar fiqih matan abi syuja misalnya. Dalam kajian fiqih syafii, kitab ini masuk dalam kategori pemula. Tapi, dari penjelasan beliau, seakan akan kita ngaji al-hawi al-kabir, nihayatu mathlab, majmu dan kitab besar lainnya dengan sederhana. Dari mana kita rasakan itu? Dari mustholahat fiqih yang beliau gunakan. Yang mustholah itu, tidak ada di kitab kitab kecil.
  • Misal, Maulana Syekh Ala, kerap menjelaskan bagaimana istidlal madzhab Syafii terhadap sebuah hukum. Shalat rawatib dalam madzhab syafii yang mu’tamad hanya 10 rokaat. Walau ada yang menyebut 12. Kenapa qobliyah dan badiyah lain tidak masuk.
  • Selain itu, kenapa doa setelah takbir keempat dalam madzhab syafii, bukan rukun shalat jenazah.
  • Kalo kita menyimak penjelasan Maulana Syekh Ala kenapa madzhab syafii menilai shalat jamaah itu fardhu kifayah kemudian dikaitkan dengan keringanan shalat jama taqdim bagi orang yang sedang di masjid dan saat itu hujan (padahal enggak musafir), masya Allah nalar syafiiyahnya dapet banget.
  • Kalo kita melihat praktek shalat khaufnya Maulana Syekh Ala yang begitu detail. Padahal hadis hadis nabi yang meriwayatkan shalat khauf bersifat umum, terlihat bahwa beliau ngaji betul betul ke guru-nya.
  • Keistimewaan maulana syekh ala yang tidak banyak orang miliki adalah, mudah dijangkau. Tidak banyak guru yang mudah dijangkau oleh muridnya. Selalu senyum saat, direpotkan oleh muridnya, waktunya, kegiatannya dan lainnya.
  • Terakhir, duduk dengan maulana syekh ala adalah duduk di majlis ilmu. Di mana pun, serepot apapun, selalu ilmu yang dibahas. Selaras dengan nasihat Mbah Maimun Zubeir dalam mengasuh santri, Kejar akhiratnya dan jangan kejar dunianya. Akhiratnya adalah ngajarnya. Kendaraan, bangunan adalah dunianya. Pantas saja kalo hadroh di alexandria, sampai sempit sempitan kita duduk di tramco sama bis. Dan sesempit itu pun, masih aja bahas ilmu. Allah..Allah..

Oleh: Dr. Aang Saeful Millah