Tahfizhdulido.com – Pada Kamis pagi, 26 Februari 2026, suasana subuh di Masjid Al-Maktoum terasa hidup. Seluruh santri telah berkumpul sejak pukul 05.15 untuk mengikuti kultum yang disampaikan oleh Ust. Mulyadi, M.Pd. Dengan gaya khas yang ringan, hangat, dan sesekali diselingi humor, kajian pagi itu mengangkat tema yang jarang dibahas secara populer: puasa dalam perspektif sains.
Sejak awal, kajian dibuka dengan suasana cair. Ustaz mengajak santri tersenyum, memastikan tidak ada yang tertidur, dan bahkan sempat bertanya menu sahur para santri. Di balik kelakar sederhana itu, terselip pesan penting: puasa bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan pengalaman utuh yang menyentuh dimensi fisik sekaligus mental.
Puasa: Dari Makna Bahasa hingga Syariat
Secara etimologis, puasa dimaknai sebagai “menahan diri.” Dalam makna yang luas, menahan diri tidak terbatas pada makan dan minum. Menahan diri bisa berarti mengendalikan emosi, menunda kesenangan, hingga mengatur kebiasaan sehari-hari. Namun dalam pengertian syariat Islam, puasa memiliki batasan yang jelas: menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Puasa menempati posisi istimewa dalam Islam. Ia bukan hanya ibadah rutin tahunan, tetapi juga bagian dari fondasi keagamaan. Menariknya, dibandingkan ibadah lain, puasa memiliki karakter unik: ia tidak selalu tampak secara kasatmata. Salat terlihat, zakat tercatat, haji dapat disaksikan. Tetapi puasa? Tidak ada tanda fisik yang benar-benar memastikan seseorang sedang berpuasa.
Di sinilah letak dimensi batin puasa. Ia sangat bergantung pada kejujuran dan kesadaran personal. Puasa menjadi latihan integritas diri — ibadah yang sepenuhnya berpijak pada hubungan hamba dengan Tuhannya.
Ketika Sains Berbicara tentang Puasa
Dalam kajian tersebut, Ustaz Mulyadi mengajak santri melihat puasa dari sudut pandang ilmiah. Tanpa mengubah esensi ibadah, sains justru membantu menjelaskan hikmah yang selama ini dirasakan, tetapi jarang dipahami mekanismenya.
Secara fisiologis, tubuh manusia dirancang dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Ketika asupan makanan berhenti, tubuh tidak serta-merta “melemah.” Sebaliknya, ia mengaktifkan berbagai sistem penyesuaian.
Pada fase awal puasa, tubuh menggunakan cadangan glukosa sebagai sumber energi utama. Namun setelah beberapa jam, sistem metabolisme mulai beralih. Tubuh beradaptasi dengan memanfaatkan cadangan lemak sebagai bahan bakar alternatif. Proses ini dikenal dalam dunia biologi sebagai bagian dari mekanisme metabolik alami.
Bagi banyak orang, fase peralihan ini sering diasosiasikan dengan rasa lapar atau sedikit lemas. Padahal, dari sudut pandang sains, ini adalah tanda bahwa tubuh sedang bekerja secara efisien.
Adaptasi dan Efisiensi Energi
Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah bagaimana tubuh merespons kondisi kenyang dan lapar. Ketika seseorang mengonsumsi karbohidrat dan gula dalam jumlah besar, kadar glukosa darah meningkat cepat. Tubuh kemudian harus bekerja keras menstabilkan kondisi tersebut. Akibatnya, rasa kantuk dan lelah sering muncul setelah makan berlebihan.
Sebaliknya, dalam kondisi puasa, tubuh belajar mengelola energi secara lebih stabil. Tidak ada lonjakan drastis, tidak ada kerja metabolik yang mendadak berat. Tubuh memasuki mode efisiensi.
Ini menjelaskan mengapa sebagian orang tetap dapat beraktivitas normal bahkan produktif saat berpuasa. Tubuh tidak sedang “kehabisan tenaga,” melainkan sedang menggunakan sistem energi yang berbeda.
Autophagy: Mekanisme Pembersihan Alami
Kajian semakin menarik ketika Ustaz menyinggung konsep autophagy, istilah ilmiah yang berarti “memakan diri sendiri.” Sekilas terdengar ekstrem, tetapi maknanya justru menakjubkan.
Autophagy adalah proses alami di mana sel-sel tubuh mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak lagi berfungsi optimal. Dalam kondisi tertentu, termasuk saat asupan energi terbatas, mekanisme ini menjadi lebih aktif. Tubuh, secara sederhana, melakukan “bersih-bersih internal.”
Sel-sel yang tidak sehat, protein yang rusak, hingga komponen seluler yang bermasalah dapat diproses ulang. Dari perspektif kesehatan, ini dipandang sebagai salah satu sistem pemeliharaan alami tubuh.
Tanpa klaim berlebihan, konsep ini membantu kita memahami bahwa rasa lapar bukan selalu pertanda buruk. Dalam batas wajar, ia dapat menjadi bagian dari ritme biologis yang memiliki fungsi penting.
Dimensi Psikologis: Kekuatan Niat
Hal lain yang ditekankan dalam kajian adalah peran niat. Secara psikologis, niat memengaruhi cara seseorang mengalami puasa. Orang yang berpuasa dengan kesadaran dan kesiapan mental cenderung lebih mampu mengelola rasa lapar dibandingkan mereka yang tidak memiliki orientasi jelas.
Ini selaras dengan temuan umum dalam psikologi perilaku: persepsi dan sikap mental berpengaruh besar terhadap pengalaman fisik. Tubuh dan pikiran bukan dua entitas terpisah; keduanya saling berinteraksi secara dinamis.
Puasa, dalam hal ini, menjadi latihan mental sekaligus spiritual. Ia melatih disiplin, kesabaran, dan kontrol diri.
Puasa dan Pola Konsumsi Modern
Kajian juga menyinggung fenomena yang sangat relevan dengan gaya hidup masa kini: kebiasaan “balas dendam” saat berbuka. Setelah seharian menahan diri, godaan untuk mengonsumsi segala jenis makanan sekaligus sering kali tak terelakkan.
Padahal, tubuh yang baru saja melalui fase adaptasi membutuhkan transisi yang lembut. Konsumsi berlebihan justru dapat membuat sistem pencernaan bekerja mendadak berat.
Pesan yang disampaikan sederhana tetapi penting: berbuka secukupnya bukan sekadar anjuran agama, tetapi juga selaras dengan prinsip kesehatan.
Menyatukan Iman dan Ilmu
Pada akhirnya, kajian subuh itu menegaskan satu hal penting: sains tidak menggantikan iman, dan iman tidak menafikan sains. Keduanya dapat berjalan berdampingan, saling memperkaya cara kita memahami ibadah.
Puasa tetaplah ibadah yang berlandaskan ketaatan. Namun memahami dampaknya terhadap tubuh menambah dimensi kesadaran. Ibadah tidak lagi sekadar kewajiban, melainkan pengalaman reflektif yang menyentuh akal, tubuh, dan hati.
Bagi para santri, kajian tersebut bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga mengubah cara pandang. Lapar tidak lagi semata-mata ketidaknyamanan, melainkan bagian dari proses pembelajaran diri.
Puasa, sebagaimana tergambar dalam kajian itu, adalah dialog sunyi antara manusia dan dirinya sendiri — sekaligus antara hamba dan Tuhannya.