Tahfizhdulido.com – Senin pagi, 23 Februari 2026, Masjid Al-Maktoum kembali dipenuhi langkah-langkah yang bergegas sejak sebelum fajar. Udara masih dingin, tapi saf-saf telah rapih. Seluruh santri hadir, menyimak Kuliah Subuh yang diisi oleh Ust. Walang Gustiyala. Tidak ada retorika yang meledak-ledak, tidak pula gaya khutbah yang menggurui. Justru sebaliknya, tausiyah pagi itu mengalir seperti obrolan seorang yang lebih tua kepada adik-adiknya: tenang, jernih, tetapi menghunjam.

Pembukaan beliau sederhana, penuh adab dan rasa syukur. Pujian kepada Allah mengalun, diikuti pengingat tentang nikmat kemudahan menjalani hidup secara halal. Lalu, tanpa berpanjang-panjang, arah pembicaraan dibawa kepada satu tema yang terasa berat, bahkan terasa “tidak nyaman”: kisah seorang pembunuh berantai dalam hadis Nabi.

Mengapa tema sekeras itu dibawa ke ruang subuh yang biasanya lembut? Di situlah letak kekuatan pesan pagi itu. Ada realitas manusia yang sering kita hindari: dosa, keputusasaan, dan harapan yang nyaris padam. Agama, sebagaimana ditekankan dalam kuliah tersebut, tidak hadir hanya untuk mereka yang sudah baik. Agama justru menjadi cahaya paling relevan bagi mereka yang merasa paling gelap.

Ust. Walang Gustiyala memulai dengan satu sikap intelektual yang patut dicatat: kembali ke teks orisinal. “Sebagai penuntut ilmu,” kira-kira demikian pesannya, “jangan puas dengan ‘katanya’. Rujuklah langsung ke nas.” Hadis yang dibacakan adalah riwayat sahih yang sangat masyhur, tercantum dalam karya imam besar hadis, termasuk dalam Sahih Muslim dan sering diulang dalam kitab-kitab tazkiyah seperti Riyadhus Shalihin.

Kisahnya tentang seorang lelaki dari umat sebelum Nabi Muhammad. Ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Angka yang tidak sekadar besar, tapi mengerikan. Namun, di titik itulah kisah ini justru dimulai, bukan diakhiri. Lelaki itu, dengan beban dosa yang tak terbayangkan, masih memiliki satu hal yang belum mati: keinginan untuk bertobat.

Ia bertanya, mencari orang paling alim di muka bumi. Menariknya, orang pertama yang ditunjukkan kepadanya adalah seorang rahib—ahli ibadah yang mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Sosok yang hidupnya didedikasikan untuk ritual, kontemplasi, dan penghambaan personal. Dalam bahasa sederhana: orang yang sangat saleh secara individual, tetapi tidak selalu berarti memiliki keluasan ilmu.

Ketika lelaki pembunuh itu bertanya, “Masih adakah pintu taubat bagiku?”, jawaban rahib itu tegas dan singkat: tidak. Di titik ini, tragedi kedua terjadi. Lelaki itu, yang rapuh dan putus asa, justru membunuh sang rahib. Lengkaplah seratus nyawa.

Sekilas, ini seperti kisah yang makin gelap. Tetapi hadis tidak berhenti di sana. Lelaki itu kembali mencari. Ia belum menyerah. Hingga akhirnya ia dipertemukan dengan seorang alim—ahli ilmu. Jawaban yang ia terima kali ini berbeda total: “Ya. Siapa yang bisa menghalangimu dari taubat?”

Kalimat ini bukan sekadar jawaban, melainkan fondasi teologis yang dalam. Taubat bukan hak manusia untuk menutup atau membuka. Ia adalah wilayah rahmat Allah. Seorang alim memahami keluasan itu. Ia tidak menyepelekan dosa, tetapi juga tidak membatasi rahmat Tuhan.

Namun, sang alim tidak berhenti pada motivasi. Ia memberi arahan praktis: tinggalkan lingkungan lamamu. Pergilah ke negeri yang di sana penduduknya menyembah Allah. Jangan kembali ke tempat yang menjadi ladang keburukanmu.

Di sinilah pesan hadis terasa sangat kontemporer. Taubat bukan hanya urusan batin, tetapi juga ekosistem. Lingkungan, pergaulan, kebiasaan—semuanya bisa menjadi jembatan menuju kebaikan atau jerat menuju kehancuran. Perubahan moral sering menuntut perubahan geografis, sosial, bahkan psikologis.

Lelaki itu pun berangkat. Ia berjalan menuju negeri yang ditunjukkan. Tetapi di tengah perjalanan, sebelum sampai ke tujuan, ajal menjemput. Hadis ini kemudian menggambarkan perdebatan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Yang satu melihat niat dan langkah menuju taubat. Yang lain melihat rekam jejak hidup yang penuh darah.

Allah lalu mengutus malaikat dalam rupa manusia sebagai penengah. Solusinya tampak “sederhana”: ukur jarak. Ke mana lelaki itu lebih dekat—ke negeri kebaikan atau ke negeri keburukan? Hasilnya: ia lebih dekat ke tujuan hijrahnya. Maka ia digolongkan sebagai ahli rahmat. Taubatnya diterima.

Kuliah Subuh itu kemudian mengajak santri melihat hikmah-hikmah besar dari kisah ini. Pelajaran pertama yang ditekankan sangat tajam dan relevan: jangan salah mengetuk pintu. Lelaki itu awalnya mendatangi ahli ibadah, bukan ahli ilmu. Kesalehan personal tidak otomatis melahirkan ketepatan fatwa atau keluasan perspektif.

Pesan ini bukan merendahkan ahli ibadah, melainkan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam tradisi Islam, alim dan abid adalah dua kemuliaan yang idealnya bersatu, tetapi dalam realitas bisa berbeda. Ketika menghadapi persoalan kompleks—terutama yang menyangkut hukum, harapan, dan nasib spiritual—ilmu menjadi kompas utama.

Pelajaran kedua: sebesar apa pun dosa, pintu taubat tidak pernah tertutup selama hayat masih dikandung badan. Hadis ini sengaja menghadirkan ekstremitas—seratus nyawa—untuk menghancurkan logika keputusasaan. Jika untuk dosa sebesar itu saja rahmat Allah masih terbuka, bagaimana dengan dosa-dosa yang sering membuat manusia modern terpuruk dalam rasa bersalah?

Pelajaran ketiga: taubat sejati menuntut gerak. Ada niat, ada langkah, ada keberanian meninggalkan masa lalu. Lelaki itu tidak hanya menyesal; ia berjalan. Bahkan kematiannya di tengah jalan justru menjadi bukti kesungguhan, bukan kegagalan.

Pelajaran keempat: Allah menilai arah, bukan sekadar posisi. Lelaki itu belum sampai ke negeri saleh, tetapi ia sedang menuju ke sana. Dalam kehidupan, tidak semua orang sempat menyempurnakan perubahannya. Tetapi arah yang benar memiliki nilai spiritual yang luar biasa.

Pelajaran kelima: rahmat Allah melampaui perhitungan manusia. Malaikat azab benar secara faktual—lelaki itu penuh dosa. Malaikat rahmat benar secara batin—ia datang dengan hati yang bertobat. Keputusan akhir berada pada kebijaksanaan Ilahi, yang tidak bisa dipersempit oleh logika manusia.

Pelajaran keenam: jangan pernah meremehkan satu keputusan baik dalam hidup. Satu langkah menuju kebaikan dapat mengubah seluruh kesimpulan akhir. Dalam hadis ini, perbedaan jarak yang tampak kecil menjadi penentu nasib abadi.

Kuliah Subuh pagi itu berakhir tanpa sensasi, tetapi meninggalkan resonansi panjang. Di tengah dunia yang sering cepat menghakimi, kisah ini mengajarkan keluasan harapan. Di tengah budaya yang gemar menilai masa lalu, hadis ini menekankan pentingnya masa depan.

Subuh itu, Masjid Al-Maktoum seakan menjadi ruang refleksi sunyi: bahwa tak ada manusia yang terlalu kotor untuk kembali, dan tak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni. Yang ada hanyalah pertanyaan yang terus relevan bagi setiap jiwa—sudahkah kita mengetuk pintu yang tepat?

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag

Jangan Salah Mengetuk Pintu Taubat: Hikmah Subuh dari Kisah Seratus Nyawa | KASTURI | KUNCI RAMADHAN