Tahfizhdulido.com – Setiap tahun, umat Islam menyambut datangnya 1 Muharram dengan berbagai bentuk peringatan. Ada yang menggelar doa bersama, tabligh akbar, hingga kajian keislaman. Namun, sebuah pertanyaan penting patut kita renungkan: mengapa peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ belum mendapatkan perhatian sebesar peringatan kelahiran beliau?

Kita mencintai Nabi Muhammad ﷺ dengan sepenuh hati, dan salah satu wujud cinta itu adalah memuliakan hari kelahirannya. Akan tetapi, jika kita menelusuri perjalanan dakwah beliau, hijrah dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa yang tidak kalah agung. Bahkan, para sahabat Nabi menjadikannya sebagai dasar penanggalan Islam. Bukan kelahiran beliau yang dipilih sebagai penanda zaman, melainkan hijrah.

Karena itulah, momentum Tahun Baru Hijriyah semestinya tidak dipandang sebagai pergantian angka dalam kalender semata. Ia adalah ajakan untuk mengingat perjuangan, pengorbanan, dan keberanian Rasulullah ﷺ dalam menegakkan agama Allah.

Dalam semangat itulah akan diselenggarakan Pembacaan Kitab Kawakib ad-Durriyyah fi Hijrati Khairil Bariyyah dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Rabu, 17 Juni 2026, ba’da Magrib hingga selesai, bertempat di Aula Multazam, dengan pengisi kajian Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., selaku Khodimul Ma’had. Kajian ini menjadi kesempatan berharga untuk menelusuri kembali perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ melalui salah satu kitab yang secara khusus mengupas detail sejarah, hikmah, dan pelajaran besar di baliknya.

Mengapa Kalender Islam Disebut Hijriyah?

Tidak sedikit orang beranggapan bahwa hijrah Rasulullah ﷺ terjadi pada bulan Muharram. Faktanya, secara sejarah perjalanan hijrah dimulai pada akhir bulan Safar dan berlanjut hingga awal Rabiul Awal. Rasulullah ﷺ sendiri lahir dan wafat pada bulan Rabiul Awal.

Lalu mengapa tahun Islam justru dimulai pada 1 Muharram dan dinamakan Tahun Hijriyah?

Keputusan para sahabat bukanlah tanpa alasan. Mereka melihat bahwa hijrah adalah titik balik terbesar dalam perjalanan Islam. Peristiwa itu menandai lahirnya masyarakat Muslim yang mandiri, terbentuknya pemerintahan Islam di Madinah, serta terbukanya jalan bagi penyebaran dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Dengan kata lain, kalender Hijriyah dibangun di atas semangat perubahan. Ia mengajarkan bahwa kejayaan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian meninggalkan sesuatu yang buruk menuju keadaan yang lebih baik.

Kitab yang Menghidupkan Kembali Kisah Hijrah

Kitab Kawakib ad-Durriyyah fi Hijrati Khairil Bariyyah mengajak pembacanya menyelami perjalanan hijrah secara rinci. Tidak hanya menceritakan perpindahan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, tetapi juga mengungkap mukjizat, strategi dakwah, keteguhan para sahabat, dan tanda-tanda pertolongan Allah yang menyertai setiap langkah beliau.

Membaca sejarah hijrah bukan sekadar menambah wawasan. Ia adalah sarana memperkuat keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran. Sebagaimana ketika Rasulullah ﷺ berada di Gua Tsur bersama Abu Bakar, pertolongan Allah datang pada saat yang paling menentukan.

Peradaban Dimulai dari Para Nabi

Salah satu gagasan menarik yang diangkat dalam kajian ini adalah bahwa sejarah peradaban manusia tidak bisa dipisahkan dari para nabi. Islam memandang Nabi Adam a.s. sebagai awal perjalanan manusia, sementara nabi-nabi berikutnya membawa ilmu, petunjuk, dan peradaban yang membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik.

Nabi Nuh a.s., misalnya, dikenal dengan pembangunan bahteranya. Nabi Dawud a.s. dianugerahi kemampuan mengolah besi, sementara nabi-nabi lain membawa ajaran yang menjadi fondasi moral dan spiritual masyarakat.

Pandangan ini memberikan pelajaran bahwa kemajuan peradaban tidak hanya dibangun oleh kecerdasan manusia, tetapi juga oleh nilai-nilai wahyu yang membimbingnya.

Hijrah: Berani Keluar dari Zona Kemaksiatan

Hijrah dalam Islam tidak selalu berarti berpindah tempat tinggal. Makna yang lebih mendasar adalah berpindah dari kondisi yang mengancam iman menuju lingkungan yang lebih mendukung ketaatan.

Dalam kajian ini ditegaskan bahwa apabila seseorang berada dalam lingkungan yang terus-menerus merusak agamanya dan ia memiliki kemampuan untuk keluar darinya, maka upaya berhijrah menjadi sesuatu yang sangat penting. Sebab, mempertahankan iman adalah prioritas utama dalam kehidupan seorang Muslim.

Analogi yang disampaikan pun sangat sederhana. Ketika seseorang mengetahui ada penyakit menular di suatu tempat, ia akan berusaha menjauh demi menjaga kesehatan fisiknya. Maka menjaga kesehatan iman semestinya lebih diutamakan daripada menjaga tubuh semata.

Dakwah Tidak Boleh Takut pada Tantangan

Ketika Rasulullah ﷺ mulai berdakwah secara terbuka, ajakan yang beliau sampaikan sesungguhnya sangat sederhana: mengesakan Allah dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya. Belum ada kewajiban zakat, puasa Ramadan, ataupun haji yang dibebankan kepada masyarakat saat itu.

Namun, seruan tauhid tersebut justru memicu perlawanan keras dari kaum Quraisy. Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi intimidasi, boikot, penyiksaan, hingga ancaman pembunuhan.

Pelajaran yang dapat diambil sangat relevan untuk kehidupan saat ini. Jika keburukan disebarkan secara terang-terangan melalui berbagai media, maka dakwah pun tidak boleh hanya berdiam diri. Kebaikan perlu disampaikan dengan hikmah, keberanian, dan memanfaatkan sarana yang tersedia agar nilai-nilai Islam tetap hadir di tengah masyarakat.

Abu Bakar: Simbol Kesetiaan yang Tak Tergantikan

Kisah hijrah juga memperlihatkan keteladanan luar biasa dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau bukan hanya menemani Rasulullah ﷺ dalam perjalanan yang penuh risiko, tetapi juga rela mengorbankan harta dan keselamatan dirinya.

Dikisahkan bahwa setelah mengalami penyiksaan berat hingga tidak sadarkan diri, ketika siuman pertanyaan pertama yang keluar dari lisannya bukanlah tentang dirinya sendiri, melainkan tentang keadaan Rasulullah ﷺ. Baginya, keselamatan Nabi jauh lebih penting daripada luka yang ia rasakan.

Kesetiaan seperti inilah yang menjadikan Abu Bakar dikenang sepanjang sejarah sebagai sahabat terbaik Rasulullah ﷺ.

Hijrah yang Paling Dekat dengan Kehidupan Kita

Bagi kebanyakan orang, hijrah mungkin terdengar sebagai kisah masa lalu yang jauh dari realitas modern. Padahal, setiap hari kita dihadapkan pada pilihan untuk berhijrah: meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki akhlak, menjauhi lingkungan yang merusak, serta mendekatkan diri kepada ilmu dan amal saleh.

Hijrah juga berarti berani berubah meski harus menghadapi tantangan. Ia adalah keberanian untuk mengatakan benar ketika banyak orang memilih diam, serta keberanian untuk mempertahankan nilai-nilai Islam di tengah arus zaman yang terus berubah.

Pada akhirnya, Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar momentum seremonial. Ia adalah panggilan untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita. Sudah sejauh mana kita berhijrah dari kelalaian menuju kesadaran? Sudahkah kita berpindah dari sekadar mengagumi perjuangan Rasulullah ﷺ menjadi meneladani perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari?

Melalui pembacaan Kitab Kawakib ad-Durriyyah fi Hijrati Khairil Bariyyah, kita diajak bukan hanya mengenang hijrah sebagai sejarah, tetapi menjadikannya sebagai inspirasi untuk membangun diri, keluarga, dan masyarakat yang lebih dekat kepada Allah. Sebab, hakikat hijrah bukanlah berpindah tempat, melainkan berpindah menuju kehidupan yang lebih diridhai-Nya.


Baca E-Kitab