Tulisan ini berawal dari pengajian subuh yang disampaikan oleh Syeikh Ala Muhammad Musthafa Na’imah. Beliau merupakan salah satu Ulama muda berasal dari Alexandria Mesir yang sedang berkunjung ke Ponpes DULIDO untuk mengisi acara Daurah atau Majlis Sima’ Kitab Syamail Muhammadiyah karya Abu Isa Muhammad bin Isa al-Tirmidzi (W:892)
_______________________
HARUMNYA MULUT SEORANG AHLI AL-QUR’AN
_______________________

Pada zaman Rasulullah, kota Madinah merupakan pusat peradaban dan keilmuan. Karena madrasah pertama kali muncul dari kota tersebut. Madrasah itu mengajarkan al-Qur’an juga qira’atnya kepada para sahabat pada saat itu. Dari situlah muncul para ahli Qira’at al-Qur’an.

Madrasah itupun terus berkembang hingga pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (salah satu khalifah dari Bani Umayyah) lahirlah seseorang yang terkenal akan kepiawaiannya dalam qira’at, ia bernama lengkap Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu‘aim al-Madani.

Imam Nafi’ (W:169) merupakan ulama terkemuka dalam bidang qira’at al-Qur’an yang lahir di Madinah pada tahun 70-an Hijriah. Ia memiliki asal-usul dari Isfahan negara Iran saat ini.

Beliau belajar membaca al-Qur’an kepada beberapa guru tersohor pada zamannya di antaranya, Abdurrahman bin Hurmuz, Abu Ja’far Yazid, Syaibah bin Nishah, dan Muslim bin Jundub. Bahkan dalam beberapa riwayat diceritakan bahwa Nafi’ atau yang dijuluki Abu Ruwaim ini membaca al-Qur’an kepada 70 orang Tabi’in.

Kehebatannya dalam bidang qira’at al-Qur’an menjadikannya sosok Ulama Qira’at terkemuka saat itu, beliau didapuk sebagai Imam Masjid Nabawi selama 60 tahun setelah wafatnya guru beliau yaitu Abu Jafar Yazid al-Madani, karena kealiman beliau dalam bidang qira’at sehingga banyak murid-murid beliau yang belajar kepadanyapun menjadi ulama qira’at terkenal pula, seperti imam Qalun (W:220), Warasy (W:197), Ibnu Wirdan, Malik bin Anas (W:179) dan lain-lain. Hal itu membuktikan keahlian beliau dalam bidang ilmu qira’at dan al-Qur’an.

Imam Malik (W:179) sendiri menyatakan “bacaan Imam Nafi’ merupakan kesunnahan”. Begitupun Abdullah bin Ahmad bin Hambal yang menanyakan kepada ayahnya yaitu Imam Ahmad “wahai ayahku, Qira’at siapa yang paling kau sukai? Qira’atnya penduduk Madinah (Qira’at Imam Nafi’) atau aku suka pula qira’atnya Imam Ashim al-Kufi (W:180)”.

Kemudian dalam suatu riwayat Ahmad Hilal bin Misri dari Syaibani dikisahkan, bahwa beliau ialah seseorang yang di mana, ketika dirinya berbicara atau bercakap-cakap, maka akan mengeluarkan harum minyak kasturi. Lalu ia ditanya oleh seseorang “Apakah dirimu selalu menggunakan wangi-wangian setiap kau hendak mengajarkan al-Qur’an?”, Imam Nafi menjawab “tidaklah aku pernah memegang minyak wangi, atau mendekati dari wewangian tersebut. Hal itu terjadi dikarenakan diriku pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan seolah-olah ia membaca al-Qur’an dalam mulutku. Semenjak mimpi itu, terciumlah harumnya kasturi dari mulutku.

Kisah di atas merupakan suatu kejadian yang di luar nalar dan rasio manusia, tapi tidak dengan kuasa Allah SWT. Di sinilah bagaimana Allah dn Rasulnya memuliakan seseorang yang senantiasa bermuamalah bersama al-Quran dengan disertai hati yang ikhlas, semata-mata hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Sumber:

  • Siyar A’lam Nubala karya Syeikh Al-Dzahabi
  • Ma’rifah al-Qurra al-Kibar Ala Thabaqat wa al-A’shar karya Syeikh Al-Dzahabi

Hudori El-Hidayat