Tahfizhdulido.com – Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido secara resmi membuka Tahun Pelajaran 2026/2027 melalui Apel Pembukaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilaksanakan pada Selasa (21/7) di Aula Multazam. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh dewan asatidz, ustadzaat, serta civitas akademika pesantren sebagai penanda dimulainya proses pendidikan setelah rangkaian kegiatan orientasi dan persiapan tahun ajaran baru.
Apel pembukaan dipimpin oleh Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc. yang menyampaikan amanat tentang pentingnya membangun semangat baru dalam mengawali perjalanan pendidikan. Beliau mengawali pesannya dengan mengingatkan firman Allah SWT yang mengajarkan agar setiap muslim tidak berhenti setelah menyelesaikan suatu pekerjaan, tetapi segera beralih kepada pekerjaan berikutnya dengan kesungguhan dan keseriusan.
Menurut beliau, pergantian tahun pelajaran bukan sekadar perubahan kalender akademik, melainkan momentum untuk memperbarui niat, memperkuat tekad, dan meningkatkan kualitas pengabdian. Setelah menyelesaikan berbagai agenda sebelumnya, kini seluruh elemen pesantren memasuki fase utama, yakni proses belajar mengajar yang menjadi inti pendidikan di pesantren.
Dalam amanatnya, Kiai M. Yazid menyoroti sebuah kenyataan menarik mengenai kehidupan santri di pesantren. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran di ruang kelas secara kuantitas hanya mengisi sekitar 25 persen dari keseluruhan aktivitas santri. Adapun sekitar 75 persen lainnya berlangsung dalam kehidupan kepesantrenan melalui pembinaan karakter, kedisiplinan, ibadah, pengasuhan, dan berbagai aktivitas harian.
Meski demikian, beliau menegaskan bahwa porsi yang tampak kecil tersebut justru memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan secara keseluruhan.
“Jangan pernah menganggap kecil kehidupan santri di ruang kelas. Walaupun hanya sekitar 25 persen dari keseluruhan aktivitas, bagian inilah yang justru dapat menentukan kualitas 75 persen kehidupan santri yang lain,” tegas beliau.
Beliau menjelaskan sedikitnya tiga alasan mengapa proses pembelajaran memiliki posisi yang sangat strategis dalam sistem pendidikan pesantren.
Pertama, pembelajaran di kelas merupakan manifestasi langsung dari visi besar pesantren dalam melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara ahli pikir dan ahli dzikir. Seluruh ilmu syariat, bahasa, sains, ilmu sosial, hingga berbagai disiplin keilmuan lainnya dipelajari melalui proses pembelajaran formal. Oleh karena itu, kualitas pengajaran menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pesantren dalam melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berkarakter.
Beliau mengingatkan para guru agar menjadikan setiap pertemuan di kelas sebagai ruang terbaik untuk mentransformasikan ilmu sekaligus membangun cara berpikir para santri.
Alasan kedua berkaitan dengan harapan orang tua. Menurut beliau, mayoritas wali santri menitipkan putra-putrinya ke pesantren dengan harapan memperoleh ilmu pengetahuan, kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris, pemahaman agama, serta bekal intelektual yang akan menjadi modal kehidupan mereka di masa depan.
“Orang tua mengamanahkan anak-anaknya ke pesantren bukan semata-mata agar pandai bermain atau mengikuti berbagai kegiatan. Mereka berharap anak-anaknya memperoleh ilmu yang kelak menjadi bekal hidupnya,” ungkap beliau.
Karena itu, setiap guru memiliki amanah besar untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung secara maksimal sehingga harapan tersebut benar-benar dapat diwujudkan.
Alasan ketiga adalah bahwa aktivitas belajar di kelas menjadi salah satu penentu keberhasilan akademik santri. Kiai M. Yazid menjelaskan bahwa pelanggaran disiplin di lingkungan pengasuhan memang memiliki mekanisme pembinaan tersendiri. Namun, pelanggaran terhadap kewajiban akademik, seperti sering meninggalkan kelas tanpa alasan yang sah, memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius karena dapat memengaruhi kenaikan kelas.
Beliau bahkan mengingatkan bahwa beberapa kasus santri yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya bukan disebabkan oleh pelanggaran kedisiplinan di asrama, melainkan karena rendahnya kehadiran dan keseriusan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh santri agar menjadikan kelas sebagai prioritas utama dalam kehidupan akademik di pesantren.
Selain menekankan pentingnya pembelajaran, Kiai M. Yazid juga mengajak seluruh santri untuk memiliki cara pandang yang benar terhadap ilmu pengetahuan. Beliau mengkritisi anggapan yang berkembang di sebagian masyarakat bahwa hanya ilmu tertentu yang dianggap bermanfaat, sedangkan ilmu lainnya dipandang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan.
Menurut beliau, cara berpikir semacam itu lahir karena manusia sering menilai manfaat ilmu hanya dari kegunaan praktis yang tampak dalam waktu dekat. Padahal, setiap ilmu memiliki fungsi dan waktunya masing-masing.
Beliau kemudian mengutip kisah penciptaan Nabi Adam a.s. yang diajarkan oleh Allah SWT seluruh nama dan pengetahuan sebagai bukti bahwa manusia memang diciptakan untuk mempelajari berbagai cabang ilmu. Oleh sebab itu, tidak selayaknya seorang santri memilih-milih pelajaran hanya berdasarkan kesukaan pribadi.
Dalam penjelasannya, beliau membagi manfaat ilmu ke dalam tiga kategori. Pertama, ilmu yang kedudukannya seperti makanan, yaitu ilmu yang menjadi kebutuhan pokok dan harus selalu dipelajari. Kedua, ilmu yang ibarat obat, yaitu ilmu yang mungkin belum dirasakan manfaatnya saat ini, tetapi akan sangat dibutuhkan pada waktu tertentu. Ketiga, ilmu yang berfungsi sebagai sarana memahami berbagai persoalan kehidupan sehingga menjadi bekal ketika menghadapi tantangan di masa mendatang.
Melalui analogi tersebut, beliau mengajak seluruh santri untuk mempelajari seluruh mata pelajaran dengan kesungguhan tanpa membedakan antara pelajaran yang disukai maupun yang dianggap sulit.
Di akhir amanatnya, Kiai M. Yazid mengajak seluruh guru dan santri memasuki tahun pelajaran baru dengan semangat pengabdian, optimisme, serta komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Beliau berharap seluruh proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan prestasi akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki keluasan ilmu, kedalaman akhlak, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman.
Apel Pembukaan Kegiatan Belajar Mengajar Tahun Pelajaran 2026/2027 pun secara resmi dibuka dengan pembacaan Basmalah bersama. Momentum tersebut menjadi awal perjalanan baru bagi seluruh keluarga besar Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido dalam melanjutkan ikhtiar mencetak generasi muslim yang unggul, berilmu, beradab, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi agama, bangsa, dan peradaban.
