Tahfizhdulido.com – Pesantren Tahfizh Daarul ‘Uluum Lido kembali menggelar agenda tahunan bergengsi, Perlombaan Fahmil Syarhil Qur’an (FSQ) XI, sebuah ajang intelektual dan spiritual yang menjadi ruang pembuktian kecintaan santri terhadap Al-Qur’an. Kegiatan ini resmi dibuka pada sore hari di Aula Dimyati, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai, dengan dihadiri oleh dewan guru serta santriwan dan santriwati yang mengikuti rangkaian lomba dengan penuh antusias.

Pembukaan berlangsung khidmat sekaligus hangat. Semangat santri tampak jelas, bukan sekadar sebagai peserta lomba, tetapi sebagai generasi penjaga Al-Qur’an yang siap menyongsong tantangan zaman. Dalam sambutan pembuka, Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C. menegaskan bahwa Fahmil Syarhil Qur’an bukan hanya tradisi perlombaan, melainkan bagian dari proses panjang pembentukan karakter santri tahfizh.

Beliau mengingatkan prinsip yang selalu digaungkan dalam kegiatan ini: “Innal hayāta lahẓatun wāḥidah, fakun nafsaka afdala al-bariyyah al-jadīdah”—sesungguhnya hidup hanyalah satu kesempatan, maka jadikanlah dirimu sebaik-baik makhluk di era yang baru. Prinsip ini bukan sekadar slogan seremonial, tetapi pengingat agar santri tidak menyia-nyiakan masa belajar di pesantren.

“Tidak ada momen yang benar-benar terulang. Kita tidak punya waktu untuk menjadi biasa-biasa saja,” tegas beliau. Santri dituntut menjadi khairul bariyyah—manusia terbaik—yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga unggul secara intelektual dan sosial. Tantangan generasi hari ini berbeda dengan masa lalu, sehingga respons yang dibutuhkan pun harus lebih matang dan visioner.

Atas dasar itu, FSQ XI mengusung visi besar:
Iḥyā’ul Qur’ān bil-maḥabbah wa tajdīdul Islām fid-dunyā al-jadīdah wa tilāwatu kalāmi Rabbil ‘ālamīn—menghidupkan Al-Qur’an dengan cinta, memperbarui semangat Islam di dunia baru, serta melantunkan Kalam Tuhan semesta alam.

Visi ini memuat tiga pesan utama. Pertama, menghidupkan Al-Qur’an dengan kecintaan. Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada hafalan atau seremonial, tetapi harus meresap ke dalam hati dan membangun relasi cinta antara hamba dan Tuhannya.

Kedua, memperbarui semangat Islam di era baru. Dunia terus berubah dan teknologi melaju cepat, namun Islam harus tetap hadir relevan, moderat, dan mencerahkan tanpa kehilangan akar syariatnya. Nilai-nilai Islam bersifat ṣāliḥ li kulli zamān wa makān—sesuai di setiap ruang dan waktu.

Ketiga, tilawah sebagai wujud kehambaan. Setiap bacaan yang dilombakan merupakan kesaksian bahwa Allah SWT adalah Rabb seluruh alam. Melalui FSQ, santri belajar bahwa tilawah dan pemahaman Al-Qur’an adalah ibadah yang menyejukkan jiwa sekaligus menguatkan akal.

Melalui kompetisi ini, pesantren menegaskan jati diri santrinya: santri yang cerdas memahami Al-Qur’an, lantang mensyiarkannya, dan konsisten mengamalkannya. Panggung FSQ bukan sekadar tempat mencari piala, tetapi sarana dakwah. Menang atau kalah bukan ukuran utama, sebab selama Al-Qur’an menjadi imam kehidupan, setiap santri adalah pemenang di sisi Allah.

Rangkaian FSQ XI berlangsung selama lima hari dengan berbagai agenda pendukung yang terintegrasi dengan aktivitas pesantren. Di penghujung kegiatan, tepatnya pada hari Senin, akan digelar syukuran milad pesantren ke-10 menuju tahun ke-11, dirangkaikan dengan pengumuman pemenang serta pembagian hadiah. Momentum ini menjadi wujud syukur atas perjalanan panjang pesantren dalam mencetak generasi Qur’ani.

Dalam refleksi penutup, Ust. Bay mengajak santri untuk tidak larut dalam kecemasan global—krisis dunia, konflik, atau perubahan zaman—namun juga tidak bersikap abai. Persiapan terbaik adalah memperkuat iman, ilmu, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Ketika dunia berlomba dalam adu kekuatan, santri justru berlomba menyebarkan cahaya wahyu.

Akhirnya, FSQ XI bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan momentum penyadaran bahwa Al-Qur’an harus hidup dalam dada, cinta, dan tindakan. Dari Aula Dimyati, gema ayat-ayat Ilahi kembali ditegaskan—membersihkan hati, menata niat, dan menguatkan langkah menuju masa depan yang penuh makna.