Tahfizhdulido.com – Pagi itu, apel harian yang dilaksanakan pukul 06.30 WIB di Lapangan Putri terasa berbeda. Bukan semata karena agenda persiapan kegiatan belajar mengajar dan simulasi Tasmi’ Akbar ke-2, tetapi karena pesan mendalam yang disampaikan oleh Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C kepada para santri Nihaie, guru pengabdian, serta seluruh musyrif dan musyrifah yang terlibat dalam proses panjang penjagaan Kalamullah.
Di bawah udara pagi yang masih segar, apel ini menjadi ruang refleksi bersama—tentang waktu, keyakinan, dan bagaimana Al-Qur’an bukan sekadar dihafal, tetapi dihidupi.
Simulasi Bukan Penundaan, tetapi Kesempatan
Dalam arahannya, Ust. Bay menegaskan bahwa perubahan jadwal Tasmi’ Akbar yang diundur hingga 26 April bukanlah kemunduran. Sebaliknya, hal itu adalah ruang persiapan. Sebelum sampai pada puncak Tasmi’, santri tetap akan melewati beberapa tahapan simulasi, termasuk simulasi ke-3 yang dirancang untuk membantu mengukur kesiapan, menutup kekurangan, dan memperkuat kualitas hafalan.
“Jangan sampai jarak waktu justru melahirkan keraguan,” tegas beliau. Sebab, yang sering kali melemahkan bukan kurangnya kemampuan, melainkan hilangnya keyakinan.
Diperjalankan, Bukan Berjalan Sendiri
Pesan paling kuat dalam apel ini adalah refleksi atas makna kata asrā dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah ﷺ tidak “berjalan” sendiri, tetapi diperjalankan oleh Allah. Perbedaan makna ini menjadi kunci dalam memahami hubungan antara ikhtiar manusia dan kuasa Ilahi.
Ust. Bay mengilustrasikannya dengan analogi sederhana: seekor semut yang menumpang perjalanan manusia ke Jakarta. Dalam waktu singkat, semut itu menempuh jarak yang mustahil jika berjalan sendiri, tetapi nyata karena ia diperjalankan.
Begitulah hafalan Al-Qur’an. Ketika seseorang merasa mustahil menambah atau menjaga hafalan, sering kali ia lupa bahwa ia tidak berjalan sendirian. Ada Allah yang memperjalankan, selama keyakinan itu tetap hidup.
Iman adalah Kunci, Bukan Sekadar Mujahadah
Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan para senior bukan semata karena mujahadah lahiriah seperti tahajud atau jadwal padat. Semua itu penting, tetapi tidak cukup tanpa iman yang kokoh.
Mujahadah tanpa iman melahirkan kelelahan.
Mujahadah dengan iman melahirkan kemungkinan.
Keyakinan itulah yang mendekatkan hamba kepada Allah. Dari kedekatan itu, pertolongan hadir dengan cara yang sering kali tak terbayangkan.
Menguatkan Frekuensi dengan Kalamullah
Ust. Bay juga menyampaikan analogi tentang frekuensi. Seperti siaran televisi atau jaringan internet, semakin kuat frekuensinya, semakin jernih tampilan yang diterima. Begitu pula hubungan dengan Al-Qur’an.
Jika frekuensi iman lemah, Kalamullah terasa berat. Namun jika iman menguat, ayat terasa hidup, makna terasa dekat, dan hafalan bukan lagi beban.
“Kalau sekarang sudah 5G, maka iman kalian harus naik ke 6G, 7G.” Artinya, tingkatkan kualitas kedekatan, bukan hanya kuantitas hafalan.
Disiplin adalah Bagian dari Amanah
Kepada para musyrif dan musyrifah, beliau berpesan agar simulasi ini diperlakukan layaknya Tasmi’ Akbar sesungguhnya. Meski tanpa orang tua atau tamu undangan, adab dan kedisiplinan tidak boleh berkurang.
Datang tepat waktu, fokus menyimak, tidak bermain gawai, serta tidak mengganti jadwal tanpa alasan mendesak—semua itu bagian dari amanah menjaga Al-Qur’an. Tasmi’ bukan sekadar ujian hafalan, tetapi latihan kejujuran dan tanggung jawab.
Ramadan, Tasmi’, dan Harapan yang Dijaga
Menjelang Ramadan, semangat ini diharapkan semakin menguat. Tasmi’, murojaah, dan setoran tetap berjalan sebagai upaya menghidupkan bulan suci dengan Al-Qur’an.
Apel pagi itu ditutup dengan harapan agar seluruh rangkaian simulasi berjalan lancar, menjadi bahan evaluasi, dan menumbuhkan keyakinan baru dalam diri para penjaga Kalamullah.
Sebab pada akhirnya, hafalan bukan soal seberapa jauh langkah kita, tetapi seberapa yakin kita bahwa Allah sedang memperjalankan kita.
