Tahfizhdulido.com – Di tengah arus modernisasi pendidikan yang kian kompetitif, pesantren terus diuji: apakah mampu bertahan hanya sebagai lembaga tradisional, atau justru bertransformasi menjadi pusat peradaban ilmu yang adaptif tanpa kehilangan ruhnya? Pertanyaan itulah yang secara tidak langsung mengemuka dalam agenda “Silaturahmi dan Studi Kunjungan Pondok Pesantren Al-Itqon Jakarta di Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido Bogor” yang digelar pada Rabu, 13 Mei 2026 bertepatan dengan 25 Dzulqa’dah 1447 H.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Dimyati, Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido ini bukan sekadar kunjungan seremonial antar lembaga. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan, pengalaman, sekaligus refleksi tentang bagaimana pesantren hari ini harus bergerak menghadapi tantangan zaman.

Acara dimulai pukul 09.30 WIB hingga selesai dengan dipandu oleh Fawwaz Khatami selaku pembawa acara. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Abdullah Bagir Hasyim, sambutan dari Khadimul Ma’had Daarul Uluum Lido Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., sambutan Wakil Mudir Al-Ma’had Al-Itqon Ust. H. Syurohbiel Mahfudz, Lc., M.M., penyerahan cenderamata, sesi dialog interaktif bersama Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., sesi foto bersama, doa yang dipimpin Ust. Umar Kustiadi, M.Ag., hingga penutupan.

Namun di balik susunan acara yang tampak formal itu, terdapat narasi panjang tentang perjuangan pesantren, nilai silaturahmi, dan arah masa depan pendidikan Islam.

Pesantren Bukan Sekadar Institusi, tetapi Perjalanan Peradaban

Dalam sambutannya, Kiai. M. Yazid Dimyati menyampaikan bahwa pertemuan antar pesantren tidak boleh dimaknai hanya sebagai ajang “kunjungan biasa”. Ia menegaskan bahwa silaturahmi harus melahirkan hubungan yang berkelanjutan dan produktif.

“Kita ingin saling dekat, saling mengenal, dan mudah-mudahan membuahkan hubungan yang terus berlanjut,” ungkapnya.

Pernyataan itu terasa penting di tengah fenomena banyaknya lembaga pendidikan Islam yang berjalan sendiri-sendiri. Tidak sedikit pesantren yang berkembang besar secara internal, tetapi minim jejaring intelektual dan kolaborasi eksternal. Padahal, tantangan pendidikan hari ini tidak bisa diselesaikan secara individual.

Daarul Uluum Lido sendiri menjadi contoh bagaimana pesantren bertumbuh melalui proses panjang, penuh jatuh bangun, dan tidak lahir secara instan. Dalam penjelasannya, Kiai. Yazid mengisahkan sejarah pesantren yang berawal dari pesantren salafiyah sederhana bernama Asy-Syuja’iyyah, didirikan oleh KH. Elon Syuja’i.

Dari sistem tradisional yang santrinya hanya mengaji lalu sekolah di luar, pesantren itu perlahan berkembang setelah estafet perjuangan diteruskan oleh KH. Ahmad Dimyati. Sosok inilah yang kemudian mengubah pola pendidikan menjadi lebih modern, mendirikan madrasah, hingga memperluas sistem pendidikan pesantren.

Menariknya, perubahan besar itu tidak hadir tanpa ujian. Perjalanan mencari lahan baru bagi pesantren dipenuhi berbagai tantangan: mulai dari keterbatasan tempat di pusat kota Bogor, rencana pembangunan yang gagal, persoalan perizinan, hingga pengalaman pahit ketika proyek pembangunan di daerah Serang harus dihentikan setelah terjadi musibah warga tersetrum di area sumur pesantren.

Namun dari kegagalan-kegagalan itulah lahir keyakinan bahwa pesantren harus dibangun bukan hanya dengan modal finansial, tetapi juga doa dan keberkahan.

“Lido” dan Filosofi Limpahan Doa

Salah satu bagian paling menarik dalam sambutan Kiai. Yazid adalah ketika beliau menjelaskan asal-usul nama “Lido”.

Nama itu, menurut beliau, bukan sekadar identitas geografis. “Lido” dimaknai sebagai singkatan dari “Limpahan Doa”, sebuah simbol dari doa panjang yang dipanjatkan almarhum KH. Ahmad Dimyati saat mencari tanah terbaik untuk pengembangan pesantren.

Kisah itu bermula ketika beliau berdoa di Multazam saat menunaikan ibadah haji. Doanya sederhana, tetapi mendalam: meminta petunjuk tanah yang paling baik dan penuh keberkahan untuk pesantren.

Sepulang dari tanah suci, ditemukanlah kawasan Lido yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Daarul Uluum hingga hari ini.

Di titik inilah pesantren memperlihatkan wajahnya yang khas: modern dalam sistem, tetapi tetap spiritual dalam pijakan. Pesantren tidak hanya dibangun dengan beton dan gedung, melainkan juga dengan keyakinan, pengorbanan, dan doa.

Silaturahmi yang Melahirkan Kolaborasi

Sementara itu, dalam sambutannya, Ust. H. Syurohbiel Mahfudz, Lc., M.M. menekankan pentingnya hubungan antar pesantren sebagai bagian dari perjuangan pendidikan Islam.

Beliau mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang pentingnya silaturahmi yang dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan keberkahan umur. Menurutnya, hubungan antar lembaga pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada seremoni kunjungan, tetapi harus berkembang menjadi kerja sama nyata.

“Kita bisa saling mengisi, saling berkoordinasi, dan berkolaborasi demi menegakkan kalimat Allah,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa relevan di tengah tantangan besar dunia pendidikan Islam saat ini. Pesantren kini bukan hanya dituntut melahirkan santri yang alim, tetapi juga generasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman: literat, adaptif, dan memiliki kapasitas kepemimpinan.

Al-Itqon sendiri saat ini tengah mengembangkan cabang baru di Cisalada, Kecamatan Cigombong. Langkah itu menunjukkan bahwa pesantren tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai memperluas pengaruh pendidikan dan dakwahnya ke berbagai wilayah.

Santri dan Masa Depan Kepemimpinan

Sesi dialog interaktif menjadi salah satu momen yang paling hidup dalam kegiatan tersebut. Para santri tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga aktif bertanya.

Aliya Safitri, santri kelas 2 Aliyah, menanyakan tips memutqinkan hafalan Al-Qur’an. Menjawab pertanyaan itu, Ust. Dr. Tubagus Bay Amri Hakim menyampaikan tiga prinsip utama: niat yang lurus, mujahadah atau kesungguhan, dan istiqamah.

Jawaban sederhana itu sesungguhnya menggambarkan fondasi utama pendidikan pesantren. Di tengah budaya instan yang merajalela, pesantren masih mempertahankan nilai bahwa keberhasilan lahir dari proses panjang dan konsistensi.

Sementara itu, pertanyaan dari M. Zioken tentang organisasi santri membuka gambaran bahwa Daarul Uluum Lido tidak hanya fokus pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pembentukan karakter dan kepemimpinan melalui organisasi seperti HISADA (Himpunan Santri Daarul Uluum Lido) dan OSTADA (Organisasi Santri Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido).

Hal ini menunjukkan bahwa pesantren modern tidak lagi memisahkan antara kecerdasan spiritual dan kemampuan sosial. Santri dididik bukan hanya untuk mampu membaca kitab, tetapi juga mengelola organisasi, berkomunikasi, dan memimpin masyarakat.

Pesantren dan Tantangan Zaman

Kegiatan studi kunjungan ini pada akhirnya memperlihatkan satu hal penting: masa depan pesantren tidak bisa dibangun dengan nostalgia masa lalu semata. Pesantren harus berani membuka diri, membangun jejaring, dan memperkuat kolaborasi.

Namun di sisi lain, modernisasi juga tidak boleh membuat pesantren kehilangan identitasnya. Nilai adab, keberkahan ilmu, keteladanan guru, dan tradisi spiritual tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh ditinggalkan.

Daarul Uluum Lido dan Al-Itqon Jakarta memberikan contoh bahwa pesantren dapat bergerak maju tanpa tercerabut dari akar tradisinya. Silaturahmi yang berlangsung di Aula Dimyati hari itu bukan hanya mempertemukan dua lembaga, tetapi juga mempertemukan dua semangat besar: menjaga warisan ulama sekaligus menyiapkan masa depan umat.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, pesantren tampaknya masih memiliki satu kekuatan yang sulit digantikan lembaga lain: kemampuan mendidik manusia secara utuh—akalnya hidup, akhlaknya tumbuh, dan ruhnya tetap terjaga.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag