Tahfizhdulido.com – Upaya membumikan konsep Gen Z Qurani salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Seminar Ihya Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh OSTADA (Organisasi Santri Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido). Ust. Umar Kustiadi, M.Ag. berkesempatan menjadi pemateri dalam seminar tersebut, membersamai seluruh santri dalam penguatan nilai-nilai Al-Qur’an. Kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun kesadaran kolektif santri terhadap pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan. Seminar dilaksanakan pada Senin, 26 Januari 2026, pukul 20.00 WIB, bertempat di Aula Dimyati, dan diikuti oleh seluruh santri Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido.
Generasi Z (Gen Z) adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Akses informasi yang luas, komunikasi yang cepat, serta keterhubungan global menjadi karakter utama generasi ini. Di Indonesia, Gen Z menempati porsi demografis yang besar dan memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa, termasuk dalam pembangunan karakter keagamaan dan peradaban Islam.
Meskipun dikenal adaptif, kreatif, dan kritis, Gen Z juga menghadapi tantangan yang kompleks. Arus informasi tanpa batas, budaya instan, serta dominasi media sosial kerap melahirkan problem psikologis dan spiritual, seperti rendahnya daya fokus, kegelisahan batin, serta krisis identitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kematangan nilai dan arah hidup. Karena itu, Gen Z membutuhkan fondasi nilai yang kuat, stabil, dan transenden.
Dalam konteks tersebut, Al-Qur’an memiliki posisi strategis sebagai sumber utama ajaran Islam. Al-Qur’an tidak hanya dibaca dalam ritual ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman hidup (hudan) yang mengarahkan manusia menuju keseimbangan antara dimensi spiritual, intelektual, dan sosial. Menjadikan Al-Qur’an sebagai gaya hidup berarti menghadirkan nilai-nilainya dalam seluruh aspek kehidupan.
Konsep “Gen Z Qurani” merujuk pada generasi muda yang menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Gen Z Qurani tidak berhenti pada simbol keagamaan, tetapi berusaha menginternalisasi ajaran Al-Qur’an dalam karakter dan perilaku sehari-hari. Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, empati sosial, serta kesadaran spiritual merupakan nilai-nilai Qur’ani yang sangat relevan bagi generasi muda.
Salah satu manifestasi penting dalam membentuk Gen Z Qurani adalah melalui tradisi menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an memiliki dimensi spiritual sekaligus pedagogis. Dari sisi spiritual, hafalan mendekatkan individu kepada Kalamullah dan menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam kehidupan. Dari sisi pendidikan, proses hafalan melatih konsistensi, ketekunan, manajemen waktu, serta daya konsentrasi—kompetensi yang sangat dibutuhkan oleh Gen Z di era digital.
Namun, hafalan Al-Qur’an bukanlah tujuan akhir. Orientasi utama interaksi dengan Al-Qur’an adalah penghayatan dan pengamalan nilai-nilainya. Rasulullah SAW digambarkan sebagai “Al-Qur’an yang hidup”, yang menegaskan bahwa puncak pendidikan Qur’ani terletak pada pembentukan akhlak. Dengan demikian, Gen Z Qurani adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber etika dan orientasi hidup, bukan sekadar teks yang dihafal.
Di era digital, penerapan gaya hidup Qur’ani menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Media digital dapat menjadi sarana dakwah dan edukasi, tetapi juga berpotensi melahirkan perilaku negatif jika tanpa kontrol etis. Gaya hidup Qur’ani menuntut Gen Z untuk menghadirkan adab dalam ruang digital, seperti menjaga lisan dalam berkomentar, menghindari hoaks dan ujaran kebencian, serta memanfaatkan teknologi untuk tujuan yang produktif dan maslahat.
Lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren, memiliki peran strategis dalam membentuk Gen Z Qurani. Pesantren bukan hanya institusi transfer ilmu, tetapi juga ruang internalisasi nilai dan pembentukan karakter. Program tahfiz, kajian tafsir, pembiasaan ibadah, serta keteladanan guru menjadi instrumen penting dalam menumbuhkan kecintaan santri terhadap Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an dihadirkan sebagai sumber inspirasi, bukan sekadar kewajiban, maka interaksi dengannya akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, menjadi Gen Z Qurani adalah pilihan nilai dan komitmen hidup: pilihan untuk mendekatkan diri kepada Allah di tengah kompleksitas zaman, menjalani hidup secara bermakna, serta berkontribusi positif bagi umat dan masyarakat. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai gaya hidup, Gen Z dipersiapkan menghadapi tantangan masa depan sekaligus membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak.
Al-Qur’an bersifat universal dan lintas zaman. Tantangan terbesar bukan pada relevansinya, melainkan pada kesediaan manusia—khususnya generasi muda—untuk menjadikannya pedoman hidup. Ketika Gen Z menjalin relasi yang hidup dengan Al-Qur’an, akan lahir generasi Qurani yang modern dalam wawasan, kokoh dalam iman, dan mulia dalam akhlak. Inilah fondasi penting bagi masa depan umat dan bangsa.
