Tahfizhdulido.com – Kultum Subuh yang disampaikan oleh Ust. Bagus Wicaksono, Lc. digelar di Masjid Al-Maktoum pada Jumat, 27 Februari 2026, mulai pukul 05.00 hingga selesai. Seluruh santri hadir dan mengikuti rangkaian tausiyah dengan penuh kekhusyukan sejak awal hingga akhir. Pagi itu, suasana masjid terasa tenang dan sarat penghayatan. Ramadhan yang telah berjalan menghadirkan nuansa spiritual yang semakin mendalam. Dengan bahasa Arab yang fasih dan mengalir, Ust. Bagus membuka ceramahnya dengan membacakan Surah Al-An‘am ayat 59, yang menegaskan bahwa Allah menggenggam seluruh kunci perkara gaib; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, bahkan sehelai daun yang gugur sekalipun.
Ayat tersebut menjadi pengantar penting: segala peristiwa, segala kemenangan, segala perjuangan, semuanya berada dalam ilmu dan kehendak Allah. Termasuk peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan.
Jumat dan Ramadhan: Dua Kemuliaan yang Bertemu
Hari itu adalah Jumat, hari terbaik dalam sepekan. Ust. Bagus mengingatkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang kemuliaan hari Jumat dan posisi umat Islam yang terakhir secara sejarah, tetapi yang pertama di hari kiamat.
Beliau juga menganjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad, terutama di malam dan hari Jumat. Satu shalawat akan dibalas sepuluh oleh Allah. Namun, kultum ini tidak berhenti pada ritual. Ia bergerak lebih dalam: membongkar cara pandang kita terhadap Ramadhan.
“Iqra’”: Membaca dengan Hati dan Pikiran
Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Wahyu pertama yang diterima Nabi di Gua Hira adalah lima ayat awal Surah Al-‘Alaq: Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq — Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Menurut Ust. Bagus, perintah membaca tidak sebatas melafalkan huruf. Membaca adalah aktivitas intelektual dan spiritual. Membaca dengan mata, dengan lisan, dengan akal, dan dengan hati. Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperkuat budaya membaca—membaca Al-Qur’an, membaca realitas, membaca diri sendiri.
Puasa, yang sering dianggap melemahkan, justru bisa menjadi sarana mempertajam fokus. Ketika perut kosong dan tubuh terasa ringan, pikiran justru dapat lebih jernih. Dalam keadaan lapar, manusia lebih mudah merenung dan mengendalikan diri.
“Jangan jadikan Ramadhan sebagai alasan untuk tidur lebih lama,” pesan beliau tegas. Kekosongan perut bukan alasan untuk kemalasan, tetapi peluang untuk konsentrasi.
Ramadhan dalam Lintasan Sejarah
Untuk memperkuat argumennya, Ust. Bagus mengajak para santri menengok sejarah. Perang Badar, pertempuran pertama kaum Muslimin melawan Quraisy, terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua hijriah. Tiga ratus pasukan Muslim menghadapi seribu pasukan musyrik. Secara logika militer, mereka kalah. Namun keyakinan mengubah keadaan.
Beliau juga menyinggung pembebasan Makkah, yang menjadi titik balik peradaban Islam. Bahkan pembebasan Baitul Maqdis oleh Salahuddin al-Ayyubi dalam Perang Hittin juga terjadi di bulan Ramadhan. Dalam kondisi berpuasa, pasukan Muslim justru menunjukkan ketangguhan luar biasa.
Perang ‘Ain Jalut pada 1260 M menjadi contoh lain. Pasukan Muslim dari Dinasti Mamluk berhasil menghentikan invasi Mongol yang saat itu menjadi kekuatan militer paling menakutkan di dunia. Kemenangan itu juga terjadi di bulan Ramadhan.
Tak hanya itu, penaklukan Andalusia oleh Tariq ibn Ziyad atas perintah Musa bin Nusayr membuka lembaran peradaban Islam di wilayah yang kini dikenal sebagai Spanyol dan Portugal. Peristiwa monumental itu pun terjadi pada bulan Ramadhan.
Sejarah membuktikan satu hal: Ramadhan bukan bulan stagnasi. Ia adalah bulan transformasi.
Spirit Ramadhan dan Kemerdekaan Indonesia
Menariknya, Ust. Bagus juga mengaitkan Ramadhan dengan sejarah bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta terjadi pada bulan Ramadhan tahun 1945.
Dalam kondisi bangsa yang lelah oleh penjajahan, para pendiri bangsa tetap berpikir, menyusun strategi, dan mengambil keputusan besar. Ramadhan tidak menghalangi lahirnya peristiwa monumental.
Pesannya jelas: perut kosong tidak identik dengan pikiran kosong. Justru dalam kesederhanaan dan keterbatasan, lahir keberanian.
Ujian sebagai Medan Juang
Kultum ini menjadi sangat relevan karena para santri sedang menghadapi ujian. Ust. Bagus mengajak mereka melihat ujian bukan sebagai beban, tetapi sebagai “perang” mereka. Jika para sahabat berjuang di medan Badar, maka santri berjuang di ruang kelas dan meja ujian.
Beliau mengutip sabda Nabi bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Para malaikat membentangkan sayapnya bagi penuntut ilmu. Bahkan makhluk di bumi dan ikan-ikan di laut memohonkan ampun bagi mereka.
Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah diibaratkan seperti bulan purnama dibanding bintang-bintang. Ulama adalah pewaris para nabi, dan warisan para nabi bukanlah harta, melainkan ilmu. Ilmu itulah yang harus diperjuangkan, bahkan dalam keadaan lapar.
Dari Lapar Menuju Cahaya
Kultum Subuh itu berakhir dengan doa dan istighfar. Namun yang tertinggal bukan sekadar kalimat, melainkan cara pandang baru. Ramadhan bukan musim melemah. Ia adalah bulan pembentukan mental, penguatan visi, dan pengasahan karakter.
Jika generasi terdahulu mampu mencetak kemenangan besar dalam keadaan berpuasa, maka generasi hari ini tidak pantas menjadikan lapar sebagai alasan untuk menurun.
Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada otot, tetapi pada iman. Bukan pada kenyang, tetapi pada keyakinan. Bukan pada kenyamanan, tetapi pada keteguhan.
Di Masjid Al-Maktoum pagi itu, pesan itu terasa jelas:
Ketika tubuh melemah, ruh harus menguat.
Ketika perut kosong, pikiran harus tajam.
Ketika dunia terasa berat, hati harus tetap tertambat kepada Allah.
Ramadhan bukan bulan untuk berhenti. Ia adalah bulan untuk melesat lebih tinggi.