Tahfizhdulido.com – Disiplin, keteladanan, dan tanggung jawab menjadi pesan utama dalam apel ujian yang dipimpin Ust. Kasman Kurip, S.Pd. Ia mengingatkan para guru bahwa tugas pengawas bukan sekadar memastikan ujian berjalan tertib, tetapi juga menghadirkan contoh nyata tentang bagaimana seorang pendidik bersikap.

Selasa pagi, 15 September 2026, suasana Lapangan Putra dipenuhi para guru pengabdian Zythera dan guru pengawas senior. Apel yang berlangsung pukul 07.00–07.15 WIB itu menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan ujian. Bertindak sebagai pengisi apel, Ust. Kasman Kurip, S.Pd., menyampaikan sejumlah pesan yang tidak hanya berkaitan dengan teknis pengawasan, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana seorang guru seharusnya menjadi teladan bagi peserta didik.

Dalam penyampaiannya, Ust. Kasman mengawali apel dengan mengajak seluruh peserta bersyukur atas kesehatan dan kesempatan untuk terus menjalankan aktivitas pendidikan di lingkungan pondok pesantren tahfiz. Baginya, setiap aktivitas yang dilakukan dengan niat beribadah dapat bernilai pahala, termasuk pekerjaan yang terlihat sederhana seperti mengawasi ujian.

Namun, di balik rutinitas tersebut, ia menekankan bahwa profesi guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Disiplin Dimulai Sebelum Bel Berbunyi

Salah satu pesan yang paling ditekankan Ust. Kasman adalah soal kedisiplinan. Menurutnya, guru tidak cukup hanya meminta santri datang tepat waktu. Guru harus menjadi orang pertama yang menunjukkan kedisiplinan tersebut.

“Kalau mau berhasil, begitu kuncinya,” menjadi salah satu penekanan dalam arahannya.

Ia mengingatkan agar guru datang lebih awal ketika ada agenda bersama, masuk masjid sebelum waktu pelaksanaan, dan berada di kelas sebelum kegiatan dimulai. Prinsip yang sama berlaku bagi pengawas ujian.

Jika jadwal berkumpul ditetapkan pukul 07.00, misalnya, pengawas semestinya sudah hadir beberapa menit sebelumnya. Datang tepat waktu, menurutnya, bahkan belum cukup. Seorang guru seharusnya berusaha hadir sebelum waktu yang telah ditentukan.

Pesan itu sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar. Sebab, kedisiplinan guru akan dengan mudah dibaca oleh santri. Apa yang dilakukan guru sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada apa yang dikatakannya.

“Anak melihat kita,” demikian inti pesannya.

Karena itu, keteladanan tidak boleh berhenti pada nasihat.

Pengawas Ujian Bukan Penonton

Memasuki pembahasan teknis, Ust. Kasman mengingatkan bahwa tugas pengawas ujian harus dijalankan secara serius sejak sebelum peserta memasuki ruangan.

Pengawas perlu memastikan kondisi ruang ujian tertib, mengatur peserta dengan rapi, membagikan soal sesuai prosedur, hingga memastikan suasana selama ujian tetap tenang.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan yang aktif. Guru tidak boleh menganggap tugas pengawas sekadar duduk di dalam kelas dan menunggu waktu ujian berakhir.

Pengalaman menunjukkan bahwa kecurangan dapat terjadi ketika pengawasan lengah. Ia bahkan menceritakan pernah menemukan peserta yang memperoleh hasil sangat baik, tetapi ternyata melakukan tindakan menyontek saat ujian.

Karena itu, pengawas dituntut memiliki perhatian penuh terhadap kondisi ruang ujian. Bukan untuk mencari kesalahan peserta didik, melainkan memastikan proses evaluasi berlangsung jujur dan adil.

Ujian, pada akhirnya, bukan hanya mengukur kemampuan akademik. Ia juga menjadi ruang untuk menguji integritas.

Tinggalkan Gawai, Tahan Obrolan

Ada satu kebiasaan yang secara khusus disoroti: penggunaan gawai selama mengawasi ujian.

Ust. Kasman meminta para pengawas tidak menggunakan telepon genggam selama berada di ruang ujian. Jika ada urusan yang benar-benar penting, pengawas sebaiknya keluar terlebih dahulu dan menyelesaikannya di luar ruangan.

Pesannya tegas: selama ujian berlangsung, perhatian guru harus sepenuhnya tertuju pada tugas pengawasan.

Hal yang sama berlaku untuk percakapan antarpengawas. Obrolan yang tidak berkaitan dengan tugas sebaiknya ditahan hingga ujian selesai. Pengawas juga tidak semestinya meninggalkan ruangan tanpa alasan yang jelas. Jika pengawasan dilakukan oleh dua orang, koordinasi dan izin kepada rekan pengawas menjadi bagian penting dari tanggung jawab tersebut.

Bahkan kegiatan lain seperti membaca buku atau mengerjakan pekerjaan pribadi sebaiknya tidak dilakukan di ruang ujian.

Intinya, pengawas harus hadir secara fisik sekaligus mental.

Guru: Mengajar Sekaligus Mendidik

Pesan Ust. Kasman kemudian bergerak pada persoalan yang lebih fundamental mengenai identitas seorang guru.

Ia membedakan antara mengajar dan mendidik. Mengajar, secara sederhana, dapat dipahami sebagai proses mentransfer ilmu—membantu seseorang yang belum mengetahui menjadi mengetahui. Sementara mendidik memiliki cakupan yang lebih luas: membentuk sikap, karakter, dan kebiasaan melalui keteladanan.

Di lingkungan pondok pesantren, menurutnya, guru memiliki dua tanggung jawab sekaligus: mengajar dan mendidik.

Karena itu, seorang guru tidak cukup hanya pandai berbicara tentang kebaikan. Ia juga harus memperlihatkan bagaimana kebaikan tersebut dipraktikkan.

Guru yang mengajarkan disiplin, tetapi datang terlambat, menghadirkan pesan yang bertentangan. Guru yang meminta santri menjaga adab, tetapi dirinya sendiri mengabaikan adab, juga memberikan contoh yang sulit dibantah oleh peserta didik.

Di sinilah tantangan terbesar profesi guru: keteladanan tidak dapat diajarkan hanya melalui teori.

Ust. Kasman mengaitkan hal tersebut dengan keberhasilan pendidikan Rasulullah SAW yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga memberikan contoh melalui praktik kehidupan.

Nasihat yang Berujung pada Kesadaran

Di bagian akhir, Ust. Kasman membawa peserta apel pada refleksi yang lebih luas tentang kehidupan.

Ia mengingatkan bahwa usia manusia, betapapun panjangnya, pada akhirnya akan terasa singkat. Ia menyampaikan pengalaman pribadinya bahwa perjalanan hidup selama puluhan tahun terasa seolah baru berlangsung sebentar.

Pesan tersebut kemudian diarahkan pada pentingnya mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Ibadah, kedisiplinan, menjaga amal, serta segera bertaubat menjadi bagian dari refleksi yang ia tekankan.

Menurutnya, pengetahuan agama tidak seharusnya berhenti sebagai informasi. Pengetahuan harus diresapi dan diwujudkan dalam perilaku.

Seseorang mengetahui pentingnya salat, tetapi jika pengetahuan itu tidak mendorongnya untuk menjaga salat, maka pengetahuan tersebut belum sepenuhnya memberikan perubahan. Demikian pula nasihat tentang disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab harus terlihat dalam tindakan sehari-hari.

Pesan ini sekaligus menjadi penutup yang kuat bagi seluruh rangkaian apel: pendidikan sejatinya dimulai dari diri pendidik.

Ujian mungkin hanya berlangsung dalam hitungan hari. Namun, sikap guru selama mengawasi ujian dapat meninggalkan pelajaran yang jauh lebih panjang daripada lembar soal yang dikerjakan santri.

Pada akhirnya, yang sedang diuji bukan hanya peserta didik.

Guru pun sedang diuji—seberapa disiplin ia menjalankan amanah, seberapa jujur ia menjaga proses pendidikan, dan seberapa konsisten ia menjadi teladan bagi mereka yang setiap hari melihat dan belajar darinya.