
Oleh: Muhammad Naufal (Alumni ke 4 – Bekasi)
Pada suatu malam duduk seorang wanita yang cantik jelita rupawan. Terlahir dari keluarga kaya raya, sambil merapihkan hijabnya ia berkata kepada cermin, “Hhhmm, cantiknya diriku.” Ya dialah Gema. Gadis yang selalu menjadi arah senter para pria dengan paras cantiknya. Beberapa pria telah mendatanginya untuk meminang sebagai pendamping hidup. Tapi tak ada yang berhasil menjadikan ia tulang rusuk kiri mereka.
Rabu di minggu kedua, Gema berkunjung ke rumah sepupunya yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Ia berdandan dan berpakaian rapat dan rapih. Lalu, Gema pamit dari rumah menuju ke pesta. Tanpa Gema sadari ada seorang pria yang mengikuti jalannya.
Tak lama Gema menyadari keberadaan Pria itu, “Hai, Siapa itu?” Ucap Gema dengan penasaran.
Tak jauh tempat Gema berdiri keluar seorang pria dengan penampilan lusuh dan kotor. Dengan durja Gema bertanya, “Ada apa kau mengikuti lalu menghalangiku?”
Pria itu menjawab, “Gema, aku ingin berbicara dengan mu sebentar. Bolehkah?”
Tak terdengar jawaban Gema, pria itu melanjutkan maksudnya, “Setiap hari, setiap jam dan detiknya aku selalu mengingat dan memujamu Gema dari paras cantikmu aku terpeso…”
Belum sempat ia habiskan kalimatnya. “Alaahh… cepat berbicaranya! jangan banyak gombal. Saya sedang terburu-buru.” potong Gema dengan sinis. Sontak pria itu kaget dan terdiam.
Gema membantu. “Jangan bilang kau ingin melamar saya, hah? Jangan mimpi! Hai pria lusuh dan renyuk ketahuilah banyak pria yang kaya raya serta tampan yang saya tolak. Lalu sekarang kau ingin mencoba? Hhmm hanya buang-buang waktuku saja. Pergilah!” Maka Pria itu dengan hati yang hancur pergi meninggalkan Gema.
Setelah 2 bulan berlalu dari peristiwa tersebut. Datang pria yang sama ke rumah Gema dengan maksud yang sama. “Gema kedatanganku masih sama seperti yang lalu. Apakah kamu berhendak menikah denganku?” Gema terdiam duduk di sofa antik milik rumahnya.
Lanjut Pria, “Bila kamu berhendak maka aku siapkan segalanya demi kebahagian keluarga kita”
Gema pun tak bersuara apapun. Pria itu berlutut dan menggenggam tangan Gema, “Berilah aku jawaban yang pas…” Gema menarik tangannya dengan kasar dan terjatulah pria itu. Tanpa suara apapun Gema berpaling muka. Pria itu berkata, “Apakah kamu bisu hah? Gema! sombong sekali dirimu. Betapa sabar diriku dalam kehinaanmu. Dan sekarang kau sama sekali tak menghiraukanku. Ketahuilah Gema wanita sombong dan angkuh! Aku adalah Pangeran dari kerajaan seberang. Aku ingin mencari wanita yang tak memandang harta dan kupikir itulah kamu.”
Ia kemudian melanjutkan, “Tapi aku kecewa besar dengan keangkuhan dirimu. Maka akan aku kutuk kamu tak bisa bicara kecuali hanya mengulang akhir percakapan orang yang kau dengar.”
Gema kaget dan tak bisa mengucakkan apa-apa. “Gema, Kau ku kutuk!” Gema mencoba berbicara namun sayang ia hanya bisa mengucap “Kutuk…kutuk…tuk…tuk.”
Pada akhirnya Gema jatuh sakit karena tidak terima dengan kutukan kepada dirinya. Karena kutukan tersebut, orang-orang tak ada yang ingin mendekati apalagi merawatnya. Sampai akhirnya Gema menutup mata.
Maka, ketika kalian bersuara di ruang hampa akan terdengar suara kalian berulang-ulang pada kalimat terkahir. Itu sebenarnya adalah Gema wanita angkuh yang dikutuk.