Tahfizhdulido.com – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ, Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido menggelar kajian kitab Al-Kanzu Al-Tsamin fi Miladi Sayyidi al-Mursalin ﷺ. Kajian tersebut disampaikan langsung oleh Khodimul Ma’had, Kiai. M.Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., pada Ahad malam, 23 Agustus 2026, bertempat di Aula Multazam.
Mengusung semangat “Ngaji Maulid Nabi Bersama Khodimul Ma’had”, kegiatan ini dihadiri oleh para asatidz dan santri Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Kajian menjadi ruang untuk mengenal lebih dalam pribadi Rasulullah ﷺ, kemuliaan-kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada beliau, serta akhlak beliau yang menjadi teladan sepanjang zaman.
Dalam pembukaannya, Khodimul Ma’had mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan momentum Maulid Nabi bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi sebagai sarana memperdalam kecintaan dan pengenalan terhadap Rasulullah ﷺ.
Kajian kemudian mengulas sejumlah ‘athaya ilahiyyah atau pemberian dan anugerah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ. Di antara anugerah terbesar yang disampaikan dalam kajian tersebut adalah diturunkannya Al-Qur’an al-Karim kepada Rasulullah ﷺ.
Menurut penjelasan Kyai Mohammad Yazid Dimyati, Al-Qur’an merupakan anugerah yang sangat agung sekaligus mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ. Kitab suci tersebut menjadi mukjizat yang terus hidup, dibaca, dihafalkan, dan menjadi pedoman umat hingga akhir zaman.
“Dari seluruh pemberian dan anugerah Allah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, yang paling utama dan paling agung adalah Al-Qur’an al-Karim,” demikian inti penjelasan yang disampaikan dalam kajian.
Beliau juga menjelaskan bahwa Allah menjaga Al-Qur’an dari perubahan dan gangguan, sebagaimana Allah menjaga kedudukan dan kemuliaan Rasulullah ﷺ. Dalam pembahasan tersebut, dijelaskan pula keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ yang tidak dapat diserupakan oleh setan.
Selain Al-Qur’an, kajian juga mengulas berbagai bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah malam Lailatul Qadar, yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Khodimul Ma’had juga menyinggung kedudukan istimewa Rasulullah ﷺ di sisi Allah serta berbagai keutamaan yang diberikan kepada beliau. Kemuliaan Nabi tidak hanya menjadi bukti kedudukan beliau sebagai manusia pilihan, tetapi juga menjadi pengingat tentang besarnya rahmat Allah kepada umat Islam.
Umat Terbaik dengan Nabi Terbaik
Dalam kajian tersebut, Kyai Mohammad Yazid Dimyati juga menegaskan bahwa kemuliaan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pemimpin umat.
Allah menjadikan umat Nabi Muhammad sebagai khairu ummah, umat terbaik. Kedudukan ini harus dipahami sebagai sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Umat terbaik adalah umat yang memiliki teladan terbaik dan berusaha mengikuti ajaran serta akhlak Nabi Muhammad ﷺ.
“Allah menjadikan kita sebagai umat terbaik dengan Nabi yang terbaik,” menjadi salah satu pesan penting dalam kajian tersebut.
Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan melalui kesungguhan dalam mengikuti sunnah beliau. Bagi para santri, mengenal Rasulullah tidak cukup hanya dengan menghafal sejarah kehidupan beliau, tetapi juga harus tercermin dalam akhlak, kedisiplinan, kejujuran, ibadah, dan kehidupan sehari-hari.
Kasih Sayang Rasulullah Bukan Berarti Membiarkan Kesalahan
Salah satu pembahasan yang mendapat penekanan dalam kajian adalah tentang sifat kasih sayang Rasulullah ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ dikenal sebagai pribadi yang penuh rahmat kepada umatnya. Namun, rahmat dan kasih sayang beliau bukan berarti membiarkan setiap kesalahan tanpa pendidikan dan ketegasan.
Khodimul Ma’had menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang sangat lembut kepada orang-orang beriman, tetapi tetap tegas ketika berhadapan dengan pelanggaran terhadap ketentuan Allah.
Dalam kesempatan tersebut, beliau mengingatkan bahwa kasih sayang tidak selalu identik dengan membebaskan seseorang dari tanggung jawab atas kesalahannya. Dalam pendidikan, terkadang ketegasan justru merupakan bagian dari kasih sayang.
“Kalau yang salah tetap dikatakan salah. Kasih sayang bukan berarti selalu menghilangkan hukuman,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam kajian.
Pandangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan pesantren. Seorang pendidik harus mampu memadukan kelembutan dengan ketegasan. Kasih sayang diperlukan agar pendidikan melahirkan kedekatan, sementara ketegasan diperlukan agar nilai dan disiplin tetap terjaga.
Teladan Kesabaran Rasulullah ﷺ
Kyai Mohammad Yazid Dimyati kemudian menyampaikan beberapa kisah yang menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah kisah seorang Arab Badui yang buang air kecil di dalam Masjid Nabawi.
Ketika para sahabat melihat peristiwa tersebut, mereka merasa marah dan ingin segera menghentikan serta memberikan tindakan kepada orang tersebut. Namun Rasulullah ﷺ justru mengajarkan cara yang berbeda.
Nabi meminta para sahabat untuk tidak memperlakukan orang Badui tersebut dengan kasar. Setelah itu, beliau memerintahkan agar bekas tempat tersebut disiram dengan air.
Peristiwa itu menjadi gambaran tentang keluasan hati dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi kesalahan orang yang belum memahami aturan. Nabi tidak hanya melihat kesalahannya, tetapi juga memahami latar belakang dan tingkat pengetahuan orang tersebut.
Bagi Rasulullah ﷺ, pendidikan harus mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik.
Dari kisah tersebut, para santri dapat mengambil pelajaran bahwa menghadapi kesalahan tidak selalu harus dengan kemarahan. Kebijaksanaan diperlukan agar orang yang melakukan kesalahan memahami apa yang benar tanpa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kelembutan Nabi dalam Menghadapi Kekasaran
Kisah lain yang turut disampaikan adalah tentang seorang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah ﷺ dengan cara yang kasar. Dalam riwayat tersebut, orang tersebut menarik pakaian Nabi hingga meninggalkan bekas pada tubuh beliau.
Namun, meskipun mendapatkan perlakuan kasar, Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan kemarahan. Bahkan ketika orang tersebut meminta bantuan, Nabi tetap memerintahkan agar kebutuhannya dipenuhi.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa Rasulullah ﷺ memiliki jiwa yang sangat lapang. Beliau tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, beliau menjadikan akhlak sebagai jalan untuk mengubah manusia.
Di sinilah salah satu keistimewaan Rasulullah ﷺ. Kelembutan beliau bukanlah kelemahan. Kesabaran beliau bukanlah ketidakmampuan untuk bertindak. Sebaliknya, semua itu lahir dari kekuatan jiwa, kebijaksanaan, dan kedalaman akhlak.
Pelajaran Kesederhanaan dari Sayyidah Fatimah
Kajian Maulid Nabi juga mengangkat kisah Sayyidah Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha, putri tercinta Rasulullah ﷺ.
Dikisahkan bahwa Fatimah pernah mengalami beratnya pekerjaan rumah tangga hingga tangannya terluka. Dalam kondisi tersebut, muncul keinginan untuk meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ.
Namun, Rasulullah ﷺ justru memberikan pelajaran tentang kehidupan dan kesederhanaan. Beliau tidak mendidik putrinya untuk selalu bergantung pada kenyamanan dunia, tetapi mengajarkannya agar tetap kuat, sabar, dan berhati-hati terhadap kemewahan yang dapat melalaikan.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi kehidupan para santri di tengah perkembangan zaman. Kehidupan modern menawarkan banyak kemudahan dan kenyamanan. Namun, kemudahan tidak boleh menjadikan seseorang kehilangan daya juang.
Santri perlu dididik untuk memiliki kemampuan beradaptasi, bekerja keras, dan tidak mudah mengeluh. Kesederhanaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ bukan berarti menolak kemajuan, tetapi menjaga agar hati tidak diperbudak oleh kenyamanan duniawi.
Maulid sebagai Jalan Mengenal dan Meneladani
Kajian Al-Kanzu Al-Tsamin fi Miladi Sayyidi al-Mursalin ﷺ yang berlangsung di Aula Multazam tersebut menjadi bagian dari upaya Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido untuk menanamkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ melalui pengkajian ilmu.
Peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada pembacaan shalawat dan ungkapan cinta, tetapi juga diarahkan untuk memperdalam pengetahuan tentang sejarah, keutamaan, akhlak, dan perjuangan Rasulullah ﷺ.
Bagi para santri, mencintai Nabi berarti mengenal beliau. Semakin mengenal Rasulullah ﷺ, semakin terbuka jalan untuk menjadikan sunnah dan akhlak beliau sebagai pedoman kehidupan.
Di tengah berbagai tantangan generasi modern, keteladanan Rasulullah ﷺ tetap menjadi jawaban. Kesabaran beliau mengajarkan keteguhan. Kelembutan beliau mengajarkan kasih sayang. Ketegasan beliau mengajarkan keadilan. Kesederhanaan beliau mengajarkan pengendalian diri.
Melalui kajian Maulid Nabi bersama Khodimul Ma’had ini, para santri diharapkan tidak hanya merasakan suasana peringatan kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi juga membawa pulang nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Sebab, mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan mengingat kelahirannya, tetapi dengan berusaha menjadikan akhlaknya hidup dalam diri.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido
Ngaji Maulid Nabi Bersama Khodimul Ma’had — Meneladani Rasulullah ﷺ, Menguatkan Akhlak, dan Menumbuhkan Cinta kepada Sang Pembawa Risalah.
