Tahfizhdulido.com – Kultum Subuh yang disampaikan oleh Ust. Zein Al-Faiz Ahmad di Masjid Al-Maktoum pada 5 Maret 2026 menjadi pengingat yang menyejukkan sekaligus menggugah. Di hadapan seluruh santri, beliau mengangkat tema yang sederhana namun mendalam: belajar bersyukur dari kandungan Surat ar-Rahman.

Tema ini bukan hal baru. Dua tahun lalu, beliau pernah membawakan tema serupa tentang syukur. Namun kali ini, sudut pandangnya berbeda. Jika sebelumnya berbicara tentang pentingnya bersyukur secara umum, kini beliau mengajak jamaah menyelami pesan syukur langsung dari salah satu surat terindah dalam Al-Qur’an, yaitu Surat ar-Rahman.

Mengapa ar-Rahman, Bukan ar-Rahim?

Kuliah dibuka dengan refleksi sederhana dari basmalah: Bismillahirrahmanirrahim. Dari dua sifat Allah yang disebutkan, beliau menekankan makna ar-Rahman. Apa bedanya dengan ar-Rahim?

Ar-Rahman adalah Dzat yang Maha Pengasih kepada seluruh makhluk-Nya tanpa kecuali. Kasih sayang-Nya meliputi siapa saja: muslim maupun non-muslim, manusia maupun hewan, bahkan seluruh ciptaan di alam semesta. Sinar matahari yang menyinari semua orang tanpa membedakan iman, udara yang bisa dihirup siapa saja, dan air yang mengalir untuk semua—itulah wujud kasih sayang ar-Rahman.

Inilah fondasi pertama syukur: menyadari bahwa kita hidup dalam limpahan kasih yang tidak selektif. Nikmat Allah tidak pernah menunggu kita sempurna untuk diberikan.

Al-Qur’an Didahulukan dari Manusia

Salah satu keunikan dalam Surat ar-Rahman adalah urutan ayat-ayat awalnya. Allah menyebutkan pengajaran Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum penciptaan manusia:

“Ar-Rahman. ‘Allama al-Qur’an. Khalaqa al-insan…”

Mengapa Al-Qur’an disebut lebih dulu daripada manusia? Karena tanpa petunjuk, manusia akan tersesat. Tanpa wahyu, akal bisa melampaui batas. Tanpa nilai ilahi, peradaban bisa kehilangan arah.

Al-Qur’an adalah kompas kehidupan. Dalam tradisi keilmuan Islam, setiap pembahasan agama selalu berangkat dari dalil Al-Qur’an, kemudian diperkuat oleh hadis. Ini menunjukkan bahwa petunjuk wahyu adalah sumber utama kebenaran. Maka, bersyukur bukan hanya atas penciptaan diri, tetapi juga atas hadirnya pedoman hidup.

Ayat yang Diulang 31 Kali: Teguran yang Penuh Cinta

Salah satu ciri paling khas dari Surat ar-Rahman adalah pengulangan ayat:

“Fabi ayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban?”
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat ini diulang sebanyak 31 kali. Bukan tanpa alasan. Pengulangan itu bukan sekadar gaya bahasa, melainkan teguran penuh cinta. Allah seperti terus-menerus mengetuk kesadaran manusia: masihkah engkau mengingkari nikmat-Ku?

Kita hidup, bernapas, makan dengan tenang, tidur tanpa dihantui suara rudal atau dentuman peluru. Bandingkan dengan mereka yang hidup di wilayah konflik. Bagi sebagian orang, pertanyaan besok bukanlah “akan makan apa?”, melainkan “apakah masih hidup atau tidak?”

Di negeri yang relatif aman, kita sering kali sibuk mengeluh tentang hal-hal kecil: makanan kurang enak, sinyal internet lambat, atau cuaca terlalu panas. Padahal, di belahan dunia lain, ada yang kesulitan mendapatkan air bersih dan rasa aman.

Masalahnya bukan kurangnya nikmat. Masalahnya adalah kurangnya kesadaran.

Syukur: Bukan Sekadar Ucapan

Namun, syukur tidak berhenti pada ucapan “Alhamdulillah.” Ust. Zein mengingatkan bahwa syukur harus melibatkan hati dan tindakan.

Beliau mengutip hadis sahih riwayat Aisyah binti Abu Bakar yang diriwayatkan dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam riwayat tersebut, Aisyah melihat Rasulullah ﷺ melaksanakan salat malam hingga kedua kakinya bengkak. Ia bertanya, mengapa Rasulullah beribadah sedemikian rupa, padahal dosa-dosanya telah diampuni?

Jawaban beliau sangat menyentuh:
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

Inilah standar syukur yang hakiki. Bukan sekadar lisan, tetapi pengorbanan. Bukan hanya pengakuan, tetapi pengabdian.

Jika Rasulullah ﷺ—yang telah dijamin surga—masih ingin menjadi hamba yang bersyukur, bagaimana dengan kita yang belum memiliki jaminan apa-apa?

Syukur sejati adalah ketaatan. Menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan. Menggunakan waktu untuk hal bermanfaat. Mengelola nikmat agar tidak berubah menjadi musibah.

Menjaga Keseimbangan: Syukur dalam Dimensi Sosial dan Ekologis

Surat ar-Rahman juga berbicara tentang keseimbangan. Allah menciptakan langit dan bumi dengan mizan (timbangan). Artinya, ada harmoni yang harus dijaga.

Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai perusak. Syukur tidak hanya vertikal (hubungan dengan Allah), tetapi juga horizontal (hubungan dengan alam dan sesama).

Menebang pohon tanpa menanam kembali, membuang sampah sembarangan, mengeksploitasi alam tanpa batas—itu semua adalah bentuk pengingkaran terhadap keseimbangan. Jika kita mengaku bersyukur atas udara segar, maka menjaga lingkungan adalah konsekuensi logisnya.

Syukur adalah etika ekologis.

Tiga Pelajaran Besar dari Surat ar-Rahman

Dari keseluruhan kandungan Surat ar-Rahman, setidaknya ada tiga pelajaran penting.

Pertama, Allah adalah ar-Rahman—Maha Pengasih. Kasih-Nya meliputi seluruh makhluk tanpa diskriminasi. Maka, kita pun harus belajar menghadirkan kasih dalam kehidupan sosial.

Kedua, nikmat Allah tidak terhitung jumlahnya. Hidup, kesehatan, keamanan, ilmu, dan kesempatan adalah karunia yang sering luput kita syukuri. Syukur harus hadir dalam hati, terucap di lisan, dan terwujud dalam tindakan.

Ketiga, nikmat harus digunakan untuk kebaikan. Ilmu untuk mendidik, harta untuk berbagi, tenaga untuk menolong, jabatan untuk melayani. Jangan sampai nikmat berubah menjadi alat maksiat.

Belajar Bersama, Menjadi Hamba yang Bersyukur

Di akhir kultum, Ust. Zein tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang paling benar. Ia mengajak para santri belajar bersama. Syukur adalah proses, bukan prestasi instan.

Menjadi hamba yang bersyukur berarti terus memperbaiki diri. Setiap keluhan diubah menjadi refleksi. Setiap nikmat diubah menjadi energi kebaikan. Setiap kesempatan diubah menjadi amal.

Pertanyaannya kini kembali kepada kita: dari 31 kali Allah bertanya dalam Surat ar-Rahman, sudahkah kita menjawabnya dengan tindakan?

Karena pada akhirnya, syukur bukan soal seberapa sering kita berkata “Alhamdulillah,” tetapi seberapa jauh hidup kita mencerminkan rasa terima kasih itu.

Dan mungkin, di situlah letak ujian terbesar kita: bukan pada kurangnya nikmat, melainkan pada kurangnya kesadaran untuk menghargainya.

Red: Ust. Umar Kustiadi, M.Ag