Tahfizhdulido.com – Di banyak lembaga pendidikan, ujian hafalan Al-Qur’an sering kali menjadi beban yang menakutkan bagi santri. Ada target juz yang wajib dikejar, jadwal ketat, hingga nilai yang menentukan kelulusan. Namun, apakah hafalan yang dikejar karena takut dihukum atau sekadar ingin dapat nilai tinggi akan bertahan lama?
Pertanyaan inilah yang dijawab melalui kegiatan Tasyji’ul Hifdzil Qur’an yang diadakan di Masjid Al-Maktoem. Dipimpin oleh Bagian Pengembangan dan Pengajaran Al-Qur’an di bawah arahan Ustadz Umar Kustiadi, M.Ag., program ini dikemas dengan konsep yang berbeda: tidak wajib dan tanpa paksaan.
Dalam pesan dan arahannya (Irsyadat wa Taujihat), Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C. (Abi Bay) mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak bisa dipaksakan hanya dengan aturan. Ketika santri maju untuk disimak (di-tasmi’) hingga berjam-jam tanpa ada iming-imbing nilai ujian, di situlah terlihat siapa yang benar-benar memiliki iradah—yaitu kemauan keras yang lahir murni dari dalam hati.
Keberanian Tanpa Melihat Usia
Kata tasyji’ sendiri berarti memberi semangat atau dorongan. Sesuai namanya, program ini bertujuan menyulut kembali semangat para santri dalam menyimak dan memperbaiki hafalan mereka.
Hal yang sangat membanggakan adalah keberanian para peserta yang mendaftarkan diri secara sukarela. Bukan hanya santri senior di kelas 5, tetapi anak-anak kelas 1 dan kelas 2 pun sudah berani tampil dan siap disimak hafalannya.
Daftar Peserta Tasyji’ul Hifdzil Qur’an
Kategori Putra:
- Rifqy Nasyid Alfathien (4B) : 12 Juz
- Ghathfan Zaidan Kamil (5B) : 8 Juz
- Agung Kahlil Gibran (5B) : 8 Juz
- Favian Akbar Malomo (5B) : 8 Juz
- Avicenna Muhammad Rahayaan (5B) : 8 Juz
- Arsala Muhammad (3B) : 8 Juz
- M. Hami Alhaq Rahman (5B) : 7 Juz
- Hilmi Dafa Sunandar (5B) : 7 Juz
- Arifathul Hidayah (5B) : 7 Juz
- Muhammad Faqih Alawi (2B) : 4 Juz
- Muhammad Sayid Fathan Utomo (3B): 3 Juz
- Raffi Al-Nizam Kamboja (2B) : 3 Juz
Kategori Putri:
- Nazwa Alya Mukhbita Saka (5A) : 10 Juz
- Aisha Luthfiyah (5A) : 8 Juz
- Cantika Amanda Deviana (5A) : 8 Juz
- Adna Fika Syafiqoh (5A) : 8 Juz
- Aulia Putri Cahaya (5A) : 5 Juz
- Niswah Arfani (3A) : 5 Juz
- Aurora Putri (1A) : 4 Juz
- Naila Anugrah (2A) : 3 Juz
- Neysa Cahya Kirana (2A) : 3 Juz
- Kalifa Hasya (2A) : 3 Juz
- Neng Khaira (2A) : 3 Juz
- Khaulatunnisa Aqila (1A) : 2 Juz
Melihat adik-adik kelas 1 seperti Aurora Putri yang siap disimak 4 juz atau Khaulatunnisa Aqila dengan 2 juz tentu menjadi tamparan positif sekaligus inspirasi bagi kakak-kakak kelasnya. Sementara itu, capaian Rifqy Nasyid Alfathien (12 juz) dan Nazwa Alya Mukhbita Saka (10 juz) menjadi bukti nyata dari kesungguhan mereka menjaga kalam Ilahi.
Pelajaran Penting: Menjaga Keseimbangan Kegiatan
Dalam arahannya, Abi Bay juga sempat merefleksikan dinamika kegiatan santri dari waktu ke waktu. Dulu, pesantren pernah sangat ramai dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang tak ada habisnya—mulai dari lomba kebersihan, melukis, nasyid, hingga panggung seni.
Kegiatan-kegiatan itu memang berhasil membuat santri merasa betah dan tidak rindu rumah. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar: kualitas hafalan dan pengajian santri sempat menurun drastis.
Dari pengalaman tersebut, pesantren mengambil pelajaran penting. Kebetahan santri tidak boleh dibayar dengan menurunnya interaksi mereka terhadap Al-Qur’an. Karena itulah, berbagai program seru masa kini—seperti Fahmil Qur’an hingga Tasyji’ul Hifdz—dibuat agar santri tetap aktif dan gembira, namun fokus utamanya tetap bersandar pada Al-Qur’an.
Berwawasan Luas, Tetap Berakar pada Al-Qur’an
Semangat santri saat ini tidak hanya terlihat pada hafalan Al-Qur’an saja, tetapi juga pada wawasan umum dan internasional. Hal ini terbukti dari antusiasme 24 santri yang mendaftar untuk mengikuti ajang OIC Youth Summit di Yogyakarta.
Meski kuota perjalanan sangat terbatas dan seleksi berlangsung ketat, semangat santri untuk berdiskusi dan berwawasan global layak diancungi jempol. Namun, setinggi apa pun prestasi dunia yang dikejar, identitas utama seorang santri adalah sebagai penjaga Al-Qur’an.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa menjaga hafalan Al-Qur’an itu lebih sulit daripada menjaga unta yang terikat. Tanpa dikaji ulang (muroja’ah), hafalan akan sangat mudah hilang.
Lewat kegiatan Tasyji’ul Hifdzil Qur’an ini, kita belajar bahwa menyimak dan disimak bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana melatih kesabaran, merawat ingatan, dan menumbuhkan rasa cinta yang tulus kepada Al-Qur’an. Semoga dari majelis sederhana ini, lahir para alumni yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga teduh dengan Al-Qur’an di dadanya.
