Tahfizhdulido.com –  Lapangan Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido, Bogor, menjadi saksi bergulirnya roda regenerasi kepemimpinan santri pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026 (bertepatan dengan 29 Rabiul Akhir 1448 H). Dalam nuansa yang khidmat sekaligus dipenuhi sorot evaluasi kritis, seluruh santri, dewan asatidz, serta jajaran pimpinan pesantren berkumpul menyaksikan agenda tahunan: Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan Pelantikan Pengurus Organisasi Santri Tahfizh Daarul Uluum (OSTADA) Masa Khidmat 2026-2027.

Di balik kemegahan acara tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia) yang dipandu oleh para Master of Ceremony (MC), momen ini bukan sekadar seremoni perpergian dan penyambutan pengurus baru. Lebih dari itu, Sertijab OSTADA menjadi panggung refleksi terhadap esensi kepemimpinan Islam, dinamika kedisiplinan santri, hingga ujian atas integritas para penghafal Al-Qur’an dalam mengemban amanah kemasyarakatan.

Menata Fondasi: Dari Tilawah Hingga Laporan Evaluasi Kinerja

Acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Fadhila Dwi Putra Darsono, disulut semangat kebangsaan dan kelembagaan melalui lagu Indonesia Raya, Hymne Oh Pondokku, serta Mars Daarul Uluum Lido. Namun, atmosfer acara mulai beralih tegang saat memasuki agenda pembacaan rekapitulasi data kehadiran santri dan laporan kinerja pengurus OSTADA demisioner (periode 2025-2026) yang disampaikan oleh Kepala Bagian Pembinaan dan Pengasuhan Santri, Al-Ustadz Ahmad Muhafiz, Lc., C.W.C.

Pembacaan rekapitulasi ini menjadi cermin objektif atas kinerja organisasi selama satu tahun terakhir. Transparansi laporan evaluasi tidak hanya memaparkan pencapaian, tetapi juga membuka fakta lapangan terkait dinamika pelanggaran, tingkat kedisiplinan, serta efektivitas pengawasan santri. Penilaian objektif ini menegaskan bahwa kepemimpinan santri bukanlah ruang pameran kekuasaan, melainkan tugas pelayanan yang sarat akan tanggung jawab moral dan administratif.

Arahan Direktur Ma’had: Kepemimpinan Berbasis Integritas dan Nilai Qur’ani

Usai pembacaan laporan, Direktur Ma’had Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., memberikan Irsyadat wa Taujihat (petunjuk dan arahan) yang menohok. Beliau menegaskan bahwa pergantian kepengurusan di lingkungan pesantren tahfizh merupakan sunnatullah dalam menjaga kesinambungan kaderisasi, bukan rutinitas birokrasi semata.

“Pergantian pengurus adalah sebuah keniscayaan… manifestasi dari sunnatullah dalam pergiliran amanah,” tegas Dr. Tubagus Bay.

Apresiasi tinggi disampaikan kepada pengurus demisioner periode 2025-2026 di bawah kepemimpinan Dziaulhaq Nabil Ramadhan dan Azzahratu Syifa Ramadani yang telah berjuang menyeimbangkan beban organisasi, akademik, dan konsistensi muraja’ah hafalan Al-Qur’an. Kepada kepengurusan baru 2026-2027, beliau menyampaikan empat pilar penting sebagai kompas kepemimpinan:

  1. Niat yang Lurus (Tajdid an-Niyyah): Jabatan OSTADA murni sarana taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan melayani sesama penghafal Al-Qur’an, bukan mencari eksistensi atau kesombongan. Memegang teguh kaidah Sayyidul qawmi khadimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka).
  2. Al-Qur’an sebagai Kompas Kepemimpinan: Menginternalisasikan sifat Siddiq (integritas), Amanah (tanggung jawab), Tabligh (komunikasi efektif), dan Fathanah (kecerdasan problem solving) dalam tata kelola organisasi.
  3. Kolektivitas dan Kolaborasi (Ta’awun): Membangun tim yang solid, membuang ego sektoral, serta menyelaraskan visi antara ketua dan wakil melalui musyawarah.
  4. Keteladanan (Uswah & Qudwah): Pengurus wajib berdiri di barisan terdepan dalam penegakan disiplin waktu, ibadah, dan muraja’ah sebelum menuntut hal serupa dari santri lain.

Momen Sakral: Pembacaan Sumpah dan Simbolisasi Peralihan Amanah

Puncak kekhidmatan terjadi tatkala pembacaan ikrar dan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Direktur Ma’had, dilanjutkan dengan prosesi Simbolisasi Penyerahan Kepemimpinan serta Pertukaran Tempat Duduk antara pengurus lama dan pengurus baru.

Secara visual dan simbolis, prosesi pertukaran tempat duduk menandai berakhirnya masa khidmat pengurus 2025-2026 dan dimulainya era baru pengurus 2026-2027. Suasana hening dan haru menyelimuti lapangan saat penandatanganan Berita Acara Sertijab dilakukan secara bersfihak oleh Khodimul Ma’had Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., Direktur Ma’had, Ketua Badan Pengasuhan Santri, serta jajaran Ketua OSTADA demisioner dan Ketua OSTADA baru.

Dalam sambutan perpisahannya, Dziaulhaq Nabil Ramadhan dan Azzahratu Syifa Ramadani menyampaikan dinamika, suka-duka, serta permohonan maaf atas kekurangan selama satu periode menjabat. Sementara itu, sambutan dari Ketua OSTADA baru menegaskan kesiapan jajarannya dalam melakoni amanah dengan kepemimpinan yang lebih humanis namun tetap tegas.

Taujihat Kiai M. Yazid Dimyati: Menolak Apatisme Santri dan Belajar Kepemimpinan Riil

Pesan mendalam dan kritis disampaikan oleh Khodimul Ma’had, Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc. Dalam Irsyadat wa Taujihat-nya, beliau mengkritisi dinamika hubungan antara santri biasa dan pengurus organisasi. Beliau menegaskan pentingnya dukungan kolektif dari seluruh elemen santri terhadap pengurus yang sedang bertugas.

Kiai Yazid menegaskan bahwa ketegangan atau ketegasan pengurus di lapangan—selama masih berada dalam koridor hukum dan aturan pesantren—harus dipahami sebagai perpanjangan tangan dari para kiai dan guru untuk mendisiplinkan ibadah dan kehidupan santri. Santri dilarang menaruh rasa apatis atau membanding-bandingkan kepemimpinan antar-periode secara tidak objektif.

“Pengurus adalah perwakilan dari Kiai dan Ustadz. Selama ketegasan mereka untuk mendisiplinkan kalian beribadah dan bertugas di dalam panduan, mereka adalah perpanjangan tangan kami,” ujar Kiai Yazid dengan lugas.

Lebih jauh, beliau mengaitkan kawah candradimuka organisasi OSTADA dengan realitas kepemimpinan nasional di masa depan. Di pesantren, para santri belajar berorganisasi secara ikhlas tanpa ambisi politik praktis, tanpa dorongan materi, dan tanpa kepentingan kekuasaan. Beliau optimis bahwa dari rahim Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido inilah kelak akan lahir para wakil rakyat, menteri, hingga presiden yang memegang teguh kejujuran dan keberanian moral.

“Sebelum mimpi menjadi menteri atau presiden di kursi-kursi pemerintahan, jadilah santri yang belajar dipimpin dan memimpin dengan ikhlas. Di sini kalian belajar betapa susahnya menjaga amanah dan perasaan orang lain,” tambah beliau.

Penutup: Menatap Masa Khidmat Baru

Rangkaian acara ditutup dengan doa khusyuk yang dipimpin oleh Al-Ustadz H. Drs. Ahmad Yani, M.Pd.I., memohon keberkahan, kekuatan lahir-batin, serta kelancaran bagi pengurus baru dalam menjalankan amanah. Sesi foto bersama antara pimpinan pesantren, dewan guru, dan seluruh pengurus OSTADA menjadi penanda resminya babak baru kepengurusan.

Sebagaimana pepatah yang digaungkan oleh MC pada penghujung acara:

“Seorang pemimpin tidak akan pernah bisa membangun kejayaan seorang diri. Karena sejatinya kekuatan sebuah bangunan terletak pada saling menguatkannya setiap batu bata di dalamnya.”

Masa khidmat 2026-2027 resmi dimulai. Masyarakat pesantren kini menanti bukti nyata dari pengurus OSTADA yang baru dilantik: mampukah mereka menjaga ritme hafalan Al-Qur’an sekaligus menjadi teladan kedisiplinan dan pelayan yang ikhlas bagi seluruh santri Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido? Waktu dan integritas merekalah yang akan menjawabnya.