Tahfizhdulido.com – Pengawasan ujian tidak semestinya dipahami hanya sebagai tugas memastikan peserta didik menaati tata tertib. Di balik aktivitas mengawasi lembar ujian, terdapat tanggung jawab yang lebih besar: menjaga kejujuran, menanamkan integritas, dan memastikan proses pendidikan berjalan dalam koridor amanah.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam apel ujian yang digelar pada Rabu (23/9/2026) di Lapangan Putra. Apel yang berlangsung pukul 07.00–07.15 WIB tersebut diikuti oleh Guru Pengabdian Zythera dan Guru Pengawas Senior. Dalam kesempatan itu, Ust. Drs. H. Sarif Hidayat, M.Si. menyampaikan amanat yang mengajak para pendidik dan pengawas untuk melihat tugas mereka dari perspektif yang lebih luas: bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari pengabdian dan perjuangan pendidikan.
Mengawali amanatnya, Ust. Sarif mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri kesempatan dapat berkumpul dalam keadaan sehat. Menurutnya, kesehatan merupakan nikmat yang sering kali baru disadari nilainya ketika seseorang berada dalam kondisi sakit dan kehilangan kesempatan untuk beraktivitas.
“Di pagi yang cerah ini kita bisa berkumpul, bermuajahah, bersilaturahmi dalam kondisi sehat lahir dan batin. Ini satu nikmat yang luar biasa,” ungkapnya.
Bagi Ust. Sarif, kesehatan dan kesempatan untuk bekerja merupakan modal yang harus digunakan untuk melakukan hal-hal yang baik. Karena itu, setiap tugas yang dijalankan di lingkungan pendidikan perlu ditempatkan sebagai bagian dari rasa syukur sekaligus bentuk tanggung jawab.
Pendidikan Tidak Dibangun oleh Satu Orang
Memasuki inti amanat, Ust. Sarif menegaskan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak pernah lahir dari kerja satu orang. Pendidikan merupakan kerja kolektif yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda.
Ia mengingat kembali pesan almarhum Ustaz Dimyathi yang menurutnya sering menyampaikan bahwa setiap orang yang terlibat dalam proses pendidikan memiliki jasa terhadap keberlangsungan lembaga.
“Yang berjasa dalam pendidikan itu adalah setiap orang yang terlibat di dalamnya, bukan hanya kiainya. Mulai tukang masak, tukang nyapu, tukang kebersihan, dan siapa pun yang terlibat mendukung kegiatan pendidikan, mereka sesungguhnya berjasa,” tuturnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi para guru pengabdian dan seluruh tenaga pendukung pendidikan agar tidak mengukur nilai pengabdian berdasarkan jabatan.
Tidak memegang jabatan struktural bukan berarti tidak memiliki manfaat. Tidak selalu berada di depan kelas bukan berarti tidak memiliki kontribusi. Setiap pekerjaan yang dilakukan secara sungguh-sungguh memiliki posisi dalam membangun ekosistem pendidikan.
“Jangan berkecil hati. Mentang-mentang kita bukan menduduki jabatan tertentu, bukan berarti kita tidak punya manfaat,” pesannya.
Dalam konteks ujian, semangat kerja tim menjadi semakin penting. Pelaksanaan ujian membutuhkan koordinasi antara berbagai unsur agar kegiatan berjalan tertib, objektif, dan sesuai dengan ketentuan. Karena itu, setiap pengawas memiliki peran yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses pendidikan.
Melanjutkan Perjuangan Lintas Generasi
Ust. Sarif kemudian mengajak peserta melihat perjalanan pesantren sebagai sebuah perjuangan panjang yang melibatkan banyak generasi. Mereka yang pernah mengajar, membimbing, dan mengabdikan diri di pesantren telah meninggalkan kontribusi yang menjadi bagian dari sejarah lembaga.
Ia menyebut sejumlah tokoh dan pendidik yang telah mendahului generasi saat ini. Kepergian mereka bukan berarti perjuangan berhenti. Sebaliknya, estafet pengabdian harus diteruskan oleh generasi berikutnya.
Ia juga mengingat pesan Mama Sepuh KH Elon Syuja’i yang menekankan pentingnya meneruskan perjuangan li i‘lā’i kalimatillāh hingga akhir hayat.
Pesan itu menjadi refleksi bahwa bekerja di lembaga pendidikan bukan semata-mata menjalankan rutinitas harian. Ada cita-cita yang lebih besar di baliknya, yaitu menjaga keberlanjutan dakwah dan pendidikan Islam.
“Kerja kita ini bukan hanya sekadar rutinitas. Mestinya punya cita-cita besar, yaitu dakwah Islami, menyebarkan agama Islam,” tegasnya.
Menurutnya, dakwah tidak terbatas pada aktivitas ceramah atau mimbar. Setiap Muslim memiliki ruang untuk berdakwah melalui profesi dan peran yang dijalankannya. Dalam konteks pesantren, mengajar, mendidik, membimbing, mengawasi, melayani, hingga menjaga ketertiban merupakan bagian dari kontribusi terhadap perjuangan pendidikan.
Pengawasan sebagai Latihan Integritas
Salah satu bagian terpenting dari amanat tersebut adalah pemaknaan ulang terhadap tugas pengawasan. Ust. Sarif mengingatkan bahwa pengawasan tidak cukup hanya dilakukan terhadap orang lain. Seorang pengawas juga harus memiliki kesadaran untuk mengawasi dirinya sendiri.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep Waskat atau pengawasan melekat. Namun, dalam perspektif keislaman, kesadaran tentang pengawasan memiliki dimensi yang lebih dalam karena manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt.
“Jangan merasa ketika di kamar, di WC, di ruang ujian kita tidak diawasi,” ujarnya.
Kesadaran tersebut penting karena integritas tidak seharusnya muncul hanya ketika ada orang lain yang melihat. Kejujuran justru diuji ketika seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan pelanggaran tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
Dalam konteks ujian, pengawas memang bertugas mengawasi peserta. Namun, pada saat yang sama, tugas tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan diri bahwa setiap tindakan manusia juga berada dalam pengawasan Allah.
Dengan demikian, pengawasan bukan sekadar aktivitas teknis. Ia merupakan bagian dari pendidikan karakter dan latihan membangun integritas.
Dari Ruang Ujian hingga Persoalan Bangsa
Ust. Sarif juga menghubungkan persoalan pendidikan dengan tantangan kehidupan masyarakat dan bangsa, termasuk persoalan korupsi.
Menurutnya, pencegahan perilaku koruptif bukan hanya tanggung jawab lembaga penegak hukum. Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang memiliki kejujuran dan rasa tanggung jawab.
“Urusan korupsi adalah urusan kita juga, para pendidik,” katanya.
Pernyataan tersebut menempatkan pendidik sebagai bagian penting dalam upaya membangun budaya antikorupsi. Pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter.
Kebiasaan berlaku jujur dalam ujian, misalnya, dapat menjadi bagian kecil dari proses pembentukan integritas. Sebaliknya, pembiaran terhadap kecurangan berpotensi menormalisasi perilaku tidak jujur.
Karena itu, ruang ujian sesungguhnya bukan hanya tempat mengukur kemampuan akademik. Ia juga menjadi ruang untuk menguji karakter.
Mensyukuri Nikmat dengan Amal Kebaikan
Menjelang akhir amanat, Ust. Sarif menyampaikan refleksi personal mengenai nikmat kesehatan. Ia mengungkapkan pengalaman menghadapi persoalan kesehatan yang membuatnya semakin memahami mahalnya nikmat bernapas.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa nikmat yang tampak sederhana sebenarnya memiliki nilai yang sangat besar.
“Bisa napas itu luar biasa. Saya kalau diberi Allah bisa napas hari ini, ini mahal,” ungkapnya.
Menurutnya, pengalaman menghadapi sakit semestinya mendorong seseorang untuk semakin bersyukur dan menggunakan kesempatan hidup untuk melakukan kebaikan.
Ia berharap seluruh tugas pengawasan yang dijalankan selama rangkaian ujian tidak berhenti sebagai kewajiban administratif, tetapi menjadi amal yang bernilai di hadapan Allah Swt.
“Hal-hal sekecil ini mestinya menggugah kita, mendorong kita untuk selalu berbuat amal saleh dan kebaikan,” pesannya.
Apel ujian tersebut akhirnya tidak hanya menjadi penanda dimulainya tugas pengawasan. Lebih dari itu, amanat yang disampaikan menjadi refleksi tentang makna pengabdian di dunia pendidikan: bekerja bersama, menjaga amanah, membangun integritas, dan menjadikan setiap tugas sebagai bagian dari perjuangan kebaikan.
Sebab, ketika pengawasan tidak hanya diarahkan kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri, maka ruang ujian dapat berubah menjadi ruang pembentukan karakter. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang lebih dalam—bukan sekadar mencetak manusia yang mampu menjawab soal, tetapi membentuk manusia yang mampu mempertanggungjawabkan setiap jawabannya di hadapan Allah Swt.
