Tahfizhdulido.com – Memasuki penghujung pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS), semangat dan konsistensi para guru kembali menjadi perhatian dalam apel pagi yang digelar di Lapangan, Selasa (22/9/2026). Apel yang berlangsung pukul 07.00–07.15 WIB tersebut diikuti oleh Guru Pengabdian Zythera dan Guru Pengawas Senior.
Apel sedianya dipimpin oleh Ust. Kasman Kurip, S.Pd. Namun, karena kondisi kesehatan, amanah pengisi apel kemudian digantikan oleh Ust. Khoirul Ibad, Lc., M.Ag. Dalam penyampaiannya, Ust. Khoirul tidak hanya memberikan arahan teknis terkait pelaksanaan ujian, tetapi juga mengajak para guru dan pengawas untuk menjaga semangat hingga seluruh rangkaian ujian benar-benar selesai.
Di hadapan peserta apel, ia mengingatkan bahwa pelaksanaan UTS tinggal menyisakan waktu yang tidak panjang. Kondisi tersebut, menurutnya, justru menjadi momentum untuk menjaga konsistensi, bukan menurunkan intensitas kerja.
“Alhamdulillah, kita akan menyelesaikan UTS dua hari lagi. Maka, tensi semangat kita harus tetap terjaga sampai hari esok,” ujarnya.
Ia secara khusus menyoroti peran para guru yang mendapatkan tugas pengawasan pada malam hari. Menurutnya, pengawasan malam memiliki tantangan tersendiri karena para guru telah menjalani aktivitas sejak pagi. Kondisi fisik yang mulai terkuras tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pengawasan.
“Teman-teman yang mengawas malam, memang ujian mengawas malam itu lebih berat dibandingkan mengawas di pagi hari. Di pagi kita masih banyak tenaganya, sedangkan di malam hari tenaga itu sudah terporsir sejak pagi,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh guru untuk mempertahankan konsistensi hingga akhir. Baginya, keberhasilan sebuah rangkaian ujian bukan hanya ditentukan oleh kesiapan santri sebagai peserta, tetapi juga oleh kesungguhan para guru dalam menjalankan amanah pengawasan.
Selain persoalan konsistensi, Ust. Khoirul juga mengangkat pentingnya kepedulian antarsesama. Ia mengutip sebuah ungkapan populer, sharing is caring, sebagai pengingat bahwa berbagi dan saling membantu merupakan bentuk kepedulian.
Pesan tersebut sekaligus menjadi konteks atas kehadirannya sebagai pengisi apel. Ia menyampaikan bahwa dirinya mendapat amanah untuk menggantikan pengawas umum yang sedang mengalami sakit.
“Berbagi adalah sesuatu kepedulian, saling peduli,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak seluruh peserta apel mendoakan Ust. Kasman Kurip agar segera diberikan kesembuhan dan kesehatan oleh Allah Swt. Doa kemudian dipanjatkan bersama dengan membaca Surah Al-Fatihah.
Dari persoalan keseharian para guru, Ust. Khoirul kemudian membawa peserta apel pada sebuah refleksi keagamaan melalui kisah Nabi Yunus a.s. Ia mengangkat doa Nabi Yunus yang termaktub dalam Al-Qur’an, yaitu:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Menurutnya, kisah Nabi Yunus memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seorang manusia menghadapi tekanan, persoalan, dan tanggung jawab. Nabi Yunus diutus Allah untuk berdakwah kepada kaumnya. Namun, penolakan yang dihadapi membuat Nabi Yunus meninggalkan kaumnya sebelum memperoleh izin dari Allah.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Nabi Yunus pada sebuah kondisi yang sangat sulit. Ia berada di dalam perut ikan, di tengah lautan dan kegelapan malam. Situasi tersebut menggambarkan titik keterbatasan manusia ketika seluruh jalan keluar seolah tertutup.
Namun, justru dalam kondisi tersebut Nabi Yunus berserah diri kepada Allah dan mengakui kekeliruannya. Doa itulah yang kemudian menjadi simbol penting tentang pengakuan, pertobatan, dan harapan kepada pertolongan Allah.
Dari kisah tersebut, Ust. Khoirul menyampaikan tiga pelajaran yang relevan dengan kehidupan para guru dan pengabdi.
Pertama, sejauh apa pun seseorang pergi dan sedalam apa pun ia jatuh, selalu ada jalan untuk kembali kepada Allah. Keterbatasan manusia bukan alasan untuk berhenti berharap. Dalam kondisi paling sulit sekalipun, pintu pertolongan Allah tetap terbuka bagi mereka yang berserah diri.
Kedua, masalah bukan untuk dihindari, melainkan dihadapi. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki persoalan masing-masing. Guru memiliki persoalan dalam menjalankan pengabdian, para kepala bagian memiliki tanggung jawabnya sendiri, sementara para santri juga menghadapi tantangan mereka masing-masing.
“Masalah bukan untuk ditinggalkan, tetapi dihadapi. Karena setiap masalah ada solusi,” tegasnya.
Menurutnya, keinginan untuk hidup tanpa masalah pada dasarnya bertentangan dengan kenyataan kehidupan dunia. Dunia merupakan tempat manusia diuji dengan berbagai persoalan. Karena itu, yang lebih penting bukan bagaimana menghindari masalah, tetapi bagaimana menghadapi dan menyelesaikannya dengan sikap yang tepat.
Ketiga, jangan lari dari tanggung jawab. Kisah Nabi Yunus mengajarkan bahwa amanah selalu berjalan bersama kemampuan yang Allah berikan. Ketika seseorang mendapatkan tanggung jawab, maka ia juga perlu meyakini bahwa Allah memberikan kekuatan untuk menjalaninya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi para guru yang berada di tengah rangkaian ujian. Di saat tenaga mulai terkuras dan aktivitas semakin padat, tanggung jawab tetap harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.
Menutup arahannya, Ust. Khoirul mengingatkan para guru agar tetap menjaga kesehatan. Kondisi kesehatan para santri yang sebagian sedang mengalami sakit menjadi perhatian tersendiri. Menurutnya, para guru juga perlu memastikan kondisi fisik mereka agar dapat terus mendampingi santri hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
“Banyak santri kita yang dalam keadaan sakit, gurunya jangan sampai tumbang. Terus sehat, terus semangat,” pesannya.
Apel pagi tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda rutin menjelang pelaksanaan ujian. Di tengah tekanan penyelesaian UTS, para guru kembali diingatkan bahwa konsistensi, kepedulian, kemampuan menghadapi masalah, dan tanggung jawab merupakan bagian penting dari pengabdian. Ujian bukan hanya tentang bagaimana santri menyelesaikan soal, tetapi juga tentang bagaimana seluruh unsur pendidikan menjaga amanah hingga garis akhir.
