Tahfizhdulido.com – Ahad, 30 Agustus 2026 menjadi momen penting nan penuh haru di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Setelah melewati kurun waktu 40 hari masa karantina dan penyesuaian awal santri baru, Pimpinan Yayasan, Khadim al-Ma’had (Pimpinan Pesantren), serta Direktur Pesantren Tahfizh menggelar majelis silaturrahim akbar bersama ratusan wali santri baru tahun pelajaran 2026/2027. Pertemuan interaktif ini diselenggarakan secara khidmat di dua lokasi utama, yakni Aula Multazam dan Masjid Al-Maktoum.
Suasana hangat menyelimuti kompleks pesantren sejak Ahad pagi. Pertemuan ini dirancang untuk mempererat ikatan lahiriah dan batiniah antara pengasuh, pendidik, dan orang tua santri. Momen tersebut sekaligus membuka kran penjengukan perdana santri baru secara resmi setelah genap 40 hari menempuh proses awal pengkaderan di lingkungan ma’had.
Sejarah 30 Tahun: Transformasi Kebangkitan Sanad Keilmuan dan Kemandirian
Sesi pertama diawali dengan pemaparan dari Ketua Pengurus Yayasan Salsabila Lido, Ust. Affan Afifi, S.H.I. Dalam sambutannya, Ust. Affan menguraikan rekam jejak panjang perjalanan pesantren yang pada tahun 2026 ini genap menginjak usia 30 tahun sejak resmi berdiri pada 24 Juni 1996.
Akar sejarah pesantren bermula dari sinergi dua tokoh kunci, yakni almarhum K.H. Elon Syuja’i (ulama tersohor Bantar Kemang, Bogor) dan menantunya, almarhum K.H. Ahmad Dimyati (alumni Pesantren Modern Dar El-Qolam Gintung Balaraja yang berguru kepada K.H. Ahmad Rifai Arief dan bersambung sanad keilmuannya ke K.H. Imam Zarkasyi, Trimurti Pendiri Modern Gontor). Pada tahun 1983, sistem pendidikan yang semula bernuansa salaf/sistem pengajian kitab diposisikan bertransformasi menjadi sistem Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI), di mana santri wajib bermukim 24 jam serta menerapkan percakapan bahasa Arab dan Inggris secara aktif.
Seiring melonjaknya jumlah santri hingga mencapai 500 orang di atas lahan Bantar Kemang seluas 3.500 m², K.H. Ahmad Dimyati berikhtiar mencari lahan pengembangan kampus cabang. Setelah melalui dinamika pencarian tanah di Gelam (Serang, Banten) dan Tapos (Bogor), Allah menetapkan pilihannya di Kampung Muara, Desa Ciburuy pada 17 Agustus 1995 sepulang beliau memimpin jemaah haji. Lahan di Ciburuy inilah yang kini berkembang pesat sebagai kampus utama Pesantren Modern Darul Ulum Lido. Nama “Lido” sendiri disematkan bukan semata karena letaknya yang berdekatan dengan Danau Lido, melainkan memiliki makna filosofis mendalam: “Limpahan Doa” yang dipanjatkan di depan Multazam Makkah al-Mukarramah.
Ust. Affan juga menjabarkan 4 Nilai Dasar Fundamentah Ma’had:
- Ahli Fikir & Ahli Zikir: Mencetak generasi tawassuth (moderat) yang mampu berdiri di tengah masyarakat dan menjawab tantangan zaman.
- Bebas dari Afiliasi: Berdiri di atas dan untuk semua golongan, tidak berafiliasi dengan partai politik atau organisasi massa manapun.
- Kemandirian Ekonomi: Menopang operasional ma’had melalui unit usaha mandiri seperti produksi air minum kemasan (Adhisa), usaha roti, hingga perkebunan kelapa sawit seluas 5 hektar di Singkil, Aceh.
- Sistem Wakaf Benda Tetap: Tradisi pembangunan fasilitas melalui kontribusi donatur/wakif berbentuk fisik bangunan (seperti Gedung Hasanah, Gedung Makmur, hingga pengembangan Kampus 4 di Babakan Cimande). Total aset tanah yayasan kini mencapai sekitar 13 hektar (127.168 m²).
Di akhir sambutannya, Ust. Affan menyampaikan permohonan maaf dan solusi konkrit terkait dinamika pelayanan perlengkapan santri serta unit usaha laundry. Pihak yayasan berkomitmen menyelesaikan kendala keterlambatan buku paket negeri (bekerja sama dengan PT Gravindo) dan atribut santri paling lambat akhir September 2026. Jika hingga tenggat waktu tersebut terdapat hak santri yang belum terpenuhi, biaya akan dikembalikan secara utuh (full refund). Pengetatan SOP dan investigasi alur baju santri di unit laundry pun kini tengah dijalankan secara menyeluruh.
Falsafah 40 Hari dan Penguatan Mental Santri
Pada sesi berikutnya, Khadim al-Ma’had, Kiai Moh. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., memimpin perkenalan jajaran Pimpinan, Direktur, Wali Asuh, serta Asisten Wali Asuh untuk tiap-tiap kelas putra, putri, maupun kelas intensif. Kiai Yazid menerangkan bahwa di Darul Ulum Lido, wali asuh memegang peran ganda (dual role) sebagai pengajar di kelas sekaligus pembimbing pengasuhan di asrama.
Kiai Yazid mengulas secara filosofis di balik penetapan tenggat 40 hari masa perjumpaan perdana ini. Mengutip Hadits Nabi SAW tentang tahapan penciptaan manusia dalam kandungan (fase 40 hari), beliau menjelaskan bahwa kelipatan 40 hari adalah periode krusial penanaman karakter dan adaptasi mental.
“Di pesantren, seluruh aktivitas anak dirancang secara teratur, terpimpin, dan terbimbing. Jika anak mengeluh capek, bersyukurlah karena itu tandanya anak bapak-ibu aktif berproses. Pendidikan ma’had memberikan ruang ekspresi kebebasan yang mendewasakan, bukan mengekang, agar santri belajar tumbuh mandiri menghadapi dinamika kehidupannya,” ungkap Moh. Yazid Dimyati.
Kiai Yazid menggarisbawahi beberapa arahan penting kepada orang tua santri:
- Manajemen Perizinan Pulang: Mengutip nasihat para guru senior, beliau mengingatkan agar orang tua tidak mudah mengizinkan anak pulang jika tidak ada hajat yang sangat mendesak (emergency). Seringnya izin pulang dapat memecah fokus belajar santri dan mengurangi keberkahan (naf’u) ilmu.
- Pendampingan Membaca Al-Qur’an: Santri kelompok pemula (Iqro) ditargetkan tuntas dalam 1 semester agar dapat mengikuti tuntutan kurikulum pesantren dengan baik pada semester berikutnya.
- Komitmen Jenjang Pendidikan 6 Tahun: Pendidikan jenjang Sanawiyah (3 tahun pertama) barulah sebatas meletakkan fondasi dan hafalan dasar. Pematangan analisis, pendalaman ilmu syari’at, dan pembentukan karakter kepemimpinan baru akan dicapai secara utuh apabila santri menyelesaikan pendidikan hingga kelas 6 (Aliyah) plus masa pengabdian.
Penguatan Kurikulum Tahfizh & Program Unggulan Internasional
Agenda dilanjutkan pukul 11.15 WIB di Masjid Al-Maktoum khusus bagi wali santri program Tahfizh Al-Qur’an, yang dipimpin oleh Direktur Pesantren Tahfizh, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C. bersama dewan guru.
Dalam arahannya, Dr. Tubagus menegaskan keutamaan santri penuntut ilmu Al-Qur’an serta bentuk apresiasi lembaga bagi santri dan ustadz yang berhasil mengkhatamkan hafalan 30 juz secara mutqin, berupa pemberian beasiswa studi hingga hadiah ibadah Umroh gratis. Selain program hafalan harian (1 halaman/hari untuk reguler dan 5 halaman/hari bagi kelompok hafil), santri tahfizh dibekali pula dengan kajian pendalaman Tafsir Al-Muntakhab, penguasaan 8 juz kunci untuk persiapan tes studi perguruan tinggi luar negeri (seperti Al-Azhar Mesir, Maroko, dan Sudan), serta ekstrakurikuler khusus lingkungan hidup dan seni.
Dr. Tubagus juga memaparkan program pengembangan wawasan global melalui ekspedisi internasional (seperti kunjungan ke Malaysia, Singapura, Thailand, program bahasa di Pare, hingga Daura Ilmiah & Umroh ke Mesir selama 40 hari untuk kelas akhir). Beliau menggarisbawahi krusialnya masa pengabdian (khidmah) setelah tamat. Masa pengabdian inilah yang menjadi kunci utama menjaga keberlangsungan sanad hafalan 30 juz dan mencetak generasi ustadz/ustadzah yang matang secara keilmuan dan mentalitas.


