Tahfizhdulido.com – Pengurus STO (Syabab Thursina Organization) Pesantren Tahfizh & Entrepreneur Thursina YBM PLN melakukan kunjungan studi banding ke OSTADA (Organisasi Santri Tahfizh Daarul ‘Uluum Lido) di Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, Bogor, pada Kamis (27/8/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 26 santri dan 3 guru pendamping ini menjadi momentum untuk saling berbagi pengalaman mengenai pengelolaan organisasi santri, program tahfizh Al-Qur’an, kepengasuhan, pendidikan, hingga pengembangan jiwa kewirausahaan di lingkungan pesantren.

Rombongan STO Thursina YBM PLN diterima langsung oleh jajaran pimpinan dan dewan guru Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, dengan agenda utama berupa sambutan, pengenalan program pesantren, dialog, serta sesi tanya jawab antara kedua lembaga.

Menjalin Silaturahmi dan Berbagi Pengalaman

Dalam sambutannya, Direktur Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kedatangan rombongan dari Thursina YBM PLN.

Ia mengungkapkan bahwa hubungan Daarul ‘Uluum Lido dengan YBM PLN bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Sebelumnya, sejumlah alumni Daarul ‘Uluum Lido diketahui melanjutkan pendidikan dan aktivitas di lingkungan yang berkaitan dengan PLN. Pesantren juga pernah memperoleh dukungan dari YBM PLN dalam pengembangan program seperti peternakan bebek dan hidroponik.

Menurutnya, kesamaan perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an menjadi salah satu alasan kunjungan studi banding tersebut diarahkan ke Daarul ‘Uluum Lido.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim juga menjelaskan secara singkat perjalanan Daarul ‘Uluum Lido dalam mengembangkan sistem pendidikan pesantren. Pesantren ini mengintegrasikan pendidikan khas pesantren modern dengan kurikulum nasional. Santri tidak hanya mendapatkan pendidikan agama dan pembelajaran Al-Qur’an, tetapi juga mempelajari berbagai mata pelajaran umum seperti matematika, fisika, kimia, biologi, dan geografi.

Selain itu, pengembangan tahfizh menjadi salah satu program utama. Seluruh santri diarahkan untuk menyelesaikan hafalan 30 juz, dengan program mutqin yang difokuskan pada juz-juz tertentu agar hafalan tetap kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Pesantren tidak harus hanya berbicara tentang tahfizh. Santri dapat belajar tahfizh, kurikulum nasional, bahasa, kitab, dan entrepreneurship secara bersamaan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa lulusan pesantren tidak harus selalu menjadi ustaz. Santri dapat memilih berbagai bidang sesuai minat dan kemampuannya, baik dalam bidang agama, pendidikan, sains, teknologi, bisnis, maupun profesi lainnya.

Dari Tenda hingga Menjadi Pesantren yang Berkembang

Salah satu kisah yang menarik perhatian rombongan STO adalah perjalanan pembangunan Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido.

Meski saat ini lingkungan pesantren tampak tertata dengan berbagai fasilitas pendidikan dan asrama, perjalanan menuju kondisi tersebut tidak berlangsung singkat. Selama hampir sepuluh tahun, kegiatan belajar mengajar bahkan dilakukan menggunakan tenda sederhana.

Kondisi tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan pesantren dalam membangun lembaga pendidikan secara bertahap.

Dari lahan yang awalnya merupakan area vila, pesantren terus melakukan pengembangan dan perluasan lahan sedikit demi sedikit hingga kini memiliki kawasan yang jauh lebih luas. Perjalanan tersebut menjadi pelajaran bahwa pembangunan pesantren tidak selalu harus dimulai dengan fasilitas yang sempurna. Konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk bertumbuh menjadi bagian penting dalam perjalanan lembaga pendidikan.

Hingga saat ini, Daarul ‘Uluum Lido telah meluluskan ratusan alumni yang menyelesaikan program tahfizh. Para alumninya melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi dan negara, termasuk Mesir, Maroko, Tunisia, Madinah, serta berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Penguatan Tahfizh melalui Pengulangan dan Pendampingan

Salah satu sesi yang menjadi perhatian utama dalam studi banding adalah pengelolaan tahsin dan tahfizh.

Pimpinan Pesantren Tahfizh & Entrepreneur Thursina YBM PLN, Ustaz Lahmuddin, M.Pd.I., menyampaikan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi Thursina adalah keberagaman kemampuan dasar santri dalam membaca Al-Qur’an.

Sebagai pesantren yang memberikan pendidikan secara penuh kepada santri penerima manfaat YBM PLN, Thursina memiliki target hafalan 30 juz. Namun, kondisi kemampuan awal santri yang beragam membuat proses tahsin dan tahfizh membutuhkan strategi khusus.

Dalam dialog tersebut, pihak Thursina menggali pengalaman Daarul ‘Uluum Lido dalam menangani santri yang kemampuan bacaan Al-Qur’annya belum merata.

Pihak Daarul ‘Uluum Lido menjelaskan bahwa santri baru mendapatkan program tahsin intensif pada masa awal pendidikan. Program tersebut dapat berlangsung sekitar 40 hari hingga enam bulan, tergantung kemampuan masing-masing santri.

Santri yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut akan mendapatkan program khusus yang disebut BETA (Bengkel Tahfizh). Program ini menjadi ruang pembinaan bagi santri yang mengalami kesulitan dalam menghafal maupun mempertahankan hafalannya.

Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada metode menghafal, tetapi juga pada pemetaan masalah setiap santri. Guru dan wali musyrif memantau perkembangan hafalan, motivasi, kedisiplinan, hingga kondisi psikologis santri.

“Kalau anak tidak bisa menghafal, sebenarnya persoalannya sering kali berbicara tentang waktu. Maka waktu pendampingannya yang perlu ditambah,” ungkap salah satu pemateri.

Pendampingan juga diperkuat melalui evaluasi rutin. Perkembangan santri dikategorikan berdasarkan tingkat kemampuan sehingga pembimbing dapat menentukan program yang sesuai.

Menguatkan Hafalan, Bukan Sekadar Menambah Hafalan

Daarul ‘Uluum Lido juga menerapkan sejumlah program untuk menjaga kualitas hafalan. Salah satunya adalah kewajiban khataman secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga interaksi santri dengan Al-Qur’an.

Selain itu, terdapat program Kitabah bil Ghaib, yakni latihan menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan hafalan tanpa melihat mushaf. Program tersebut bertujuan menguji ketepatan hafalan secara lebih mendalam, tidak hanya dari kemampuan melafalkan ayat.

Dengan demikian, tahfizh dipandang bukan sekadar mengejar jumlah juz, tetapi juga memastikan hafalan benar-benar kuat, baik dalam bacaan maupun tulisan.

Menemukan Keseimbangan antara Tahfizh dan Entrepreneurship

Sesi dialog juga membahas tantangan yang sangat relevan dengan karakter Pesantren Thursina YBM PLN, yaitu bagaimana menyeimbangkan program tahfizh dengan pendidikan entrepreneurship.

Thursina mengembangkan berbagai kegiatan kewirausahaan yang melibatkan santri. Namun, muncul pertanyaan tentang bagaimana menjaga agar kegiatan tersebut tidak mengganggu target hafalan Al-Qur’an dan pendidikan formal.

Diskusi kemudian berkembang pada satu prinsip penting: setiap santri memiliki potensi dan karakter yang berbeda. Karena itu, pendidikan tidak selalu harus memaksakan seluruh santri menjadi unggul dalam bidang yang sama dengan porsi yang sama.

Pengalaman Daarul ‘Uluum Lido menunjukkan pentingnya pemetaan potensi santri, pembagian waktu yang terukur, serta pendampingan intensif. Santri yang memiliki kemampuan dan minat tertentu dapat diberikan ruang untuk berkembang tanpa meninggalkan target utama pendidikan pesantren.

Membentuk Guru dari Produk Pendidikan Sendiri

Hal lain yang menarik dalam kunjungan ini adalah strategi Daarul ‘Uluum Lido dalam menyiapkan tenaga pendidik.

Setelah melakukan berbagai upaya mencari guru dari luar, pesantren akhirnya memilih membangun sistem kaderisasi melalui program pengabdian. Santri yang memiliki kemampuan baik diberikan pembinaan untuk kemudian menjadi bagian dari proses pendidikan generasi berikutnya.

Strategi tersebut membuat pesantren memiliki sumber daya manusia yang memahami budaya, sistem, dan karakter pendidikan yang dikembangkan di dalam pesantren itu sendiri.

Kaderisasi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan program tahfizh dan kepengasuhan.

Belajar untuk Saling Menguatkan

Sementara itu, Ustaz Lahmuddin menegaskan bahwa kunjungan tersebut bukan semata-mata untuk mencari sistem yang dapat ditiru secara utuh. Studi banding dilakukan sebagai sarana belajar dan menemukan pola yang paling sesuai dengan karakter Thursina.

Pesantren Thursina YBM PLN sendiri berdiri pada 2019 dan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan YBM PLN. Dengan konsep pendidikan yang menggabungkan tahfizh, pendidikan formal, dan entrepreneurship, Thursina terus melakukan evaluasi dan pengembangan sistem pendidikan.

“Kami datang murni untuk belajar. Kami masih mencari pola yang tepat dan berharap dapat menemukan hal-hal yang bisa diadopsi dan dikembangkan,” ujar Ustaz Lahmuddin.

Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan sesi dialog dan pertukaran pengalaman yang berlangsung secara terbuka. Kedua pihak sepakat bahwa perkembangan pesantren membutuhkan proses panjang, evaluasi berkelanjutan, serta kemauan untuk terus belajar.

Kunjungan STO Thursina YBM PLN ke Daarul ‘Uluum Lido akhirnya bukan sekadar studi banding organisasi santri. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan dua pengalaman pendidikan yang memiliki semangat serupa: membentuk generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, memiliki karakter kepemimpinan, mandiri, dan siap berkontribusi di tengah masyarakat.

Bagi para santri STO, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk mengembangkan organisasi dan membawa pulang gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan di lingkungan Pesantren Tahfizh & Entrepreneur Thursina YBM PLN.

Sebab, pesantren yang terus bertumbuh bukanlah pesantren yang merasa telah selesai belajar, melainkan pesantren yang selalu membuka diri untuk belajar, mengevaluasi, dan berkolaborasi demi menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang.