Tahfizhdulido.com – Suasana penuh haru dan kebahagiaan menyelimuti Masjid Al-Maktoem, Ahad, 23 Agustus 2026. Bagian Pengajaran dan Pengembangan Al-Qur’an (BPPQ) Pesantren Tahfizh Daarul ‘Uluum Lido menyelenggarakan kegiatan Khataman Pembacaan Hafalan Terakhir sebagai bentuk syukur atas capaian para santri yang berhasil menyelesaikan target hafalan Al-Qur’an.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan pesantren, para asatidz dan asatidzah, musyrif dan musyrifah, wali santri, serta seluruh pihak yang turut mendampingi perjalanan para penghafal Al-Qur’an. Momentum ini menjadi salah satu hari yang istimewa, bukan hanya bagi para santri yang membaca hafalan terakhirnya, tetapi juga bagi orang tua yang selama bertahun-tahun menyaksikan perjuangan putra-putrinya dalam menjaga dan menambah hafalan Al-Qur’an.
Sebanyak tujuh santri mendapat kesempatan membaca setoran hafalan terakhir dalam majelis tersebut. Mereka adalah Shafa Intania Fadillah (5A), Marjani Basri (5A), Rizka Nur Islahiyah (4A), Almira Bintang Saputra (6A), Khansa Naila Tsaqib Attamimi (6A), Raisha Amelia (5A), dan Arrifathul Hidayah (5B).
Menariknya, capaian tersebut diraih oleh santri dari berbagai jenjang pendidikan. Ada santri kelas 4 dan kelas 5 yang telah menyelesaikan hafalannya, bahkan terdapat pula capaian dari kelas 6. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan menghafal Al-Qur’an tidak semata-mata ditentukan oleh tingkatan kelas, melainkan oleh kesungguhan, kedisiplinan, konsistensi, serta bimbingan yang diberikan selama proses tahfizh berlangsung.
Khataman, Bukan Akhir dari Perjalanan Bersama Al-Qur’an
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed., C.W.C., atau yang akrab disapa Abi, menyampaikan irsyadat wa taujihat kepada para santri dan wali santri. Dalam sambutannya, ia mengawali dengan menyampaikan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas terselenggaranya majelis khataman.
Abi juga menyampaikan penghormatan kepada jajaran BPPQ, para musyrif dan musyrifah, para santri, serta wali santri yang telah hadir untuk menyaksikan secara langsung capaian anak-anak mereka.
Menurutnya, kehadiran orang tua dalam kegiatan khataman menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti bagi para santri. Namun demikian, ia menjelaskan bahwa kehadiran wali santri pada kegiatan Khataman Pembacaan Hafalan Terakhir pada dasarnya bersifat sunnah atau tidak diwajibkan.
“Kehadiran bapak dan ibu di majelis khataman seperti saat ini sifatnya sunnah, tidak wajib. Namun, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak ketika orang tua dapat hadir dan menyaksikan perjuangan mereka,” ujarnya.
Abi kemudian memberikan contoh salah seorang santri yang orang tuanya tidak dapat hadir karena jarak tempat tinggal yang sangat jauh, yakni berasal dari Sulawesi Tenggara. Meski demikian, ketidakhadiran orang tua tidak mengurangi nilai perjuangan santri tersebut dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya.
Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa dukungan orang tua terhadap perjalanan hafalan anak dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Kehadiran fisik memang menjadi salah satu bentuk dukungan, tetapi doa, motivasi, perhatian, dan keterlibatan dalam proses pendidikan anak juga memiliki nilai yang sangat besar.
Tasmi’ Akbar Menjadi Momentum Penting bagi Wali Santri
Dalam arahannya, Abi memberikan penjelasan khusus mengenai perbedaan antara kegiatan Khataman Pembacaan Hafalan Terakhir dan Tasmi’ Akbar. Jika pada khataman para santri membaca hafalan terakhir sebagai penanda penyelesaian target tertentu, maka Tasmi’ Akbar merupakan agenda yang memiliki karakter dan tantangan yang berbeda.
Pada Tasmi’ Akbar, wali santri memiliki peran yang lebih besar karena akan turut menyimak bacaan hafalan anak-anak mereka. Oleh karena itu, kehadiran orang tua dalam agenda tersebut menjadi bagian penting dari proses pendidikan dan penguatan hubungan antara pesantren, santri, dan keluarga.
“Kalau nanti Tasmi’ Akbar, itu yang wajib dihadiri oleh orang tua. Ketika Tasmi’ Akbar, orang tua akan menyimak hafalan anaknya,” jelas Abi.
Ia menerangkan bahwa jumlah hafalan yang dibacakan setiap santri dapat berbeda-beda sesuai dengan capaian masing-masing. Ada yang membaca delapan juz, sepuluh juz, dua belas juz, bahkan lebih banyak hingga mencapai tiga puluh juz.
Dengan jumlah hafalan tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk menyimak tentu tidak singkat. Abi memperkirakan bahwa satu juz dapat membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Artinya, seorang wali santri yang menyimak hafalan dalam jumlah besar harus mempersiapkan diri secara fisik dan mental.
Meski demikian, Abi menegaskan bahwa dalam pelaksanaannya, orang tua dapat bergantian dalam menyimak. Yang terpenting adalah adanya keterlibatan dan kehadiran keluarga dalam menyaksikan proses penting yang dilalui anak-anak mereka.
Ia juga mengisahkan pengalaman pelaksanaan Tasmi’ Akbar sebelumnya yang membutuhkan waktu hingga belasan bahkan puluhan jam untuk menyimak hafalan santri. Namun, pengalaman tersebut justru menunjukkan besarnya pengorbanan yang harus dilakukan untuk membersamai perjalanan para penjaga Al-Qur’an.
Menurutnya, ketika seorang anak telah mampu membaca hafalan dalam jumlah yang besar, rasa lelah yang dirasakan orang tua dalam menyimak akan berubah menjadi kebanggaan. Kesabaran dalam mendampingi anak menjadi bagian dari proses panjang dalam membentuk generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.
Capaian Santri Menjadi Motivasi bagi Generasi Berikutnya
Abi juga memberikan motivasi kepada para santri, khususnya mereka yang masih berada pada jenjang awal pendidikan di pesantren. Ia mengajak para santri baru untuk menjadikan capaian kakak-kakak kelas mereka sebagai sumber semangat.
Kegiatan Khataman Pembacaan Hafalan Terakhir memperlihatkan bahwa santri kelas 4, kelas 5, dan kelas 6 dapat menyelesaikan target hafalan sesuai dengan kemampuan dan kesungguhan masing-masing. Bahkan, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa santri yang masih berada pada kelas yang lebih rendah juga memiliki peluang untuk mencapai target tersebut.
“Yang baru, ini bisa menjadi gambaran dan motivasi. Kalian bisa melihat kakak-kakak kalian. Ada yang kelas 4 sudah selesai, ada yang kelas 5, dan ada pula yang kelas 6. Artinya, kalian juga memiliki kesempatan untuk mencapai hal yang sama,” pesannya.
Bagi santri baru, pesan tersebut menjadi dorongan untuk tidak memandang hafalan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang jauh dan sulit dicapai. Perjalanan panjang tersebut dimulai dari satu halaman, kemudian satu surat, satu juz, hingga akhirnya berkembang menjadi hafalan yang semakin kuat.
Khataman yang dilaksanakan pada Ahad itu menjadi bukti bahwa setiap pencapaian besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Menguatkan Semangat Santri Kelas Akhir
Selain memberikan motivasi kepada santri baru, Abi juga menyampaikan perhatian khusus kepada para santri kelas akhir. Mereka diingatkan bahwa masa pendidikan di pesantren semakin mendekati garis akhir.
Dengan sisa waktu yang ada, para santri kelas 6 diharapkan dapat memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperkuat hafalan dan menyelesaikan target yang telah ditetapkan. Abi mengingatkan agar para santri tidak mengendurkan semangat menjelang berakhirnya masa pendidikan.
“Untuk kelas 6, tetap semangat. Sedikit lagi. Manfaatkan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan target dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Pesan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian target hafalan, tetapi juga mengenai pentingnya menjaga hubungan dengan Al-Qur’an setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Sebab, seorang penghafal Al-Qur’an memiliki tanggung jawab yang tidak berhenti setelah menyelesaikan hafalan terakhir.
Hafalan yang telah diperoleh harus terus dijaga melalui murajaah, tilawah, dan kedisiplinan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Khatam bukan berarti selesai membaca dan berhenti menghafal, melainkan memasuki fase baru untuk menjaga apa yang telah diperjuangkan.
Buah dari Perjalanan Panjang
Kegiatan Khataman Pembacaan Hafalan Terakhir juga menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan panjang para santri. Di balik satu bacaan terakhir yang terdengar di hadapan para guru dan wali santri, terdapat proses yang panjang dan tidak selalu mudah.
Ada waktu yang harus disisihkan untuk menambah hafalan. Ada kesalahan yang harus diperbaiki. Ada hafalan yang harus diulang berkali-kali agar semakin kuat. Ada pula saat-saat ketika semangat menurun dan para santri harus kembali membangun motivasi.
Dalam proses tersebut, peran musyrif, musyrifah, dan para guru menjadi sangat penting. Mereka tidak hanya bertugas mendengarkan setoran hafalan, tetapi juga membimbing, mengingatkan, mengevaluasi, dan menguatkan mental para santri.
Demikian pula dengan peran orang tua. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan seorang anak tidak hanya berlangsung di dalam lingkungan pesantren. Dukungan keluarga tetap menjadi kekuatan penting yang membantu santri bertahan dan berkembang dalam perjalanan pendidikan.
Atas dasar itu, Khataman Pembacaan Hafalan Terakhir tidak sekadar menjadi acara seremonial. Kegiatan ini merupakan perayaan atas ketekunan, kesabaran, dan kerja sama banyak pihak dalam mendidik generasi penghafal Al-Qur’an.
Menjaga Al-Qur’an Setelah Khatam
Tujuh santri yang tampil membaca hafalan terakhir pada Ahad tersebut kini telah mencapai satu fase penting dalam perjalanan mereka. Namun, pesan utama dari majelis itu justru menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah akhir.
Setelah khatam, tantangan berikutnya adalah menjaga hafalan agar tetap hidup. Al-Qur’an yang telah dihafal harus terus dibaca, dimurajaah, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
BPPQ Pesantren Tahfizh Daarul ‘Uluum Lido melalui kegiatan ini kembali menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak santri yang mampu menambah hafalan, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki kedekatan kuat dengan Al-Qur’an.
Bagi para santri, Khataman Pembacaan Hafalan Terakhir menjadi hari untuk bersyukur. Bagi para orang tua, kegiatan ini menjadi buah dari kesabaran dan doa yang panjang. Sementara bagi seluruh santri lainnya, majelis tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju hafalan Al-Qur’an selalu terbuka bagi siapa pun yang mau berjuang dengan sungguh-sungguh.
Di Masjid Al-Maktoem, pada Ahad pagi itu, tujuh santri memang telah membaca hafalan terakhir mereka. Namun sesungguhnya, yang dirayakan bukan hanya selesainya sebuah target. Yang dirayakan adalah lahirnya semangat baru untuk terus menjaga, menghidupkan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup mereka.
Dengan doa dan dukungan seluruh keluarga besar pesantren, capaian para santri tersebut diharapkan menjadi keberkahan sekaligus motivasi bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan estafet perjuangan menjadi para penjaga Kalamullah.



