Tahfizhdulido.com – Lapangan Utama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido menjadi saksi pelaksanaan Upacara Hari Pramuka ke-65, Jumat (14/8/2026). Upacara yang diikuti oleh seluruh santri dan dewan guru berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat, menjadi momentum untuk kembali meneguhkan nilai-nilai kepramukaan sebagai bagian penting dari pendidikan karakter santri.

Bertindak sebagai pembina apel, Kyai Mohammad Yazid Syagof Dimyati, S.Th.I., Lc., menyampaikan amanat yang menempatkan gerakan Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian dari proses panjang pembentukan generasi muda yang berkarakter, mandiri, berani, berkarya, dan memiliki kesadaran terhadap identitas kebangsaan serta keislamannya.

Dalam amanatnya, Kyai Mohammad Yazid mengawali dengan ungkapan syukur kepada Allah Swt. atas kesempatan seluruh keluarga besar Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido untuk memperingati Hari Pramuka ke-65. Ia juga menyampaikan penghormatan kepada jajaran dewan guru, pembina Mabikori, pembina Hisada, koordinator Gerakan Pramuka Hisada Daarul ‘Uluum Lido, serta seluruh santri yang mengikuti upacara.

Pramuka Bukan Sekadar Ekstrakurikuler

Dalam amanatnya, Kyai Mohammad Yazid menegaskan bahwa memaknai Pramuka tidak cukup dengan melihatnya sebagai kegiatan tambahan di luar pembelajaran kelas.

“Maka bicara tentang gerakan Pramuka bukan bicara tentang kegiatan ekskul. Pramuka bukan ekstrakurikuler.”

Menurutnya, gerakan Pramuka memiliki akar sejarah yang jauh lebih panjang daripada usia resminya yang kini mencapai 65 tahun. Semangat kepramukaan, kata dia, tidak dapat dilepaskan dari sejarah gerakan kepanduan yang lahir dari kesadaran kaum muda untuk memperjuangkan masa depan bangsa.

Ia menjelaskan bahwa jauh sebelum Gerakan Pramuka secara resmi berdiri pada 1961, gerakan kepanduan telah berkembang di Indonesia. Semangat tersebut kemudian menemukan bentuk yang lebih terorganisasi dalam Gerakan Pramuka yang diresmikan pada masa Presiden Soekarno.

Bagi Kyai Mohammad Yazid, sejarah tersebut menunjukkan bahwa gerakan kepanduan sejak awal bukan sekadar aktivitas fisik, permainan, atau kegiatan di alam terbuka. Di dalamnya terdapat semangat perjuangan dan cita-cita besar generasi muda untuk membangun bangsa.

Jika dahulu para pemuda berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka tantangan generasi muda hari ini adalah mempertahankan, mengembangkan, dan mengisi kemerdekaan melalui karya.

Dari Praja Muda Karana Menuju Pemuda Berkarya

Kyai Mohammad Yazid kemudian mengajak para santri untuk memahami kembali makna nama Pramuka sebagai Praja Muda Karana, yakni kaum muda yang berkarya.

Menurutnya, generasi muda masa kini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan warisan perjuangan para pendahulu melalui karya nyata. Kemerdekaan tidak cukup hanya diwarisi, tetapi harus diisi dengan prestasi, kreativitas, pengabdian, dan karakter yang kuat.

“Praja-praja muda dulu sudah mewariskan kemerdekaan kepada kita sebagai karyanya. Hari ini kita melestarikan, mempertahankan, dan mengembangkannya dengan karya yang menjunjung dan menghormati kemerdekaan itu.”

Dalam konteks pendidikan pesantren, semangat tersebut menjadi semakin relevan. Santri tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik dan penguasaan ilmu agama, tetapi juga harus mampu beradaptasi, bekerja sama, memimpin, mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Pramuka menjadi salah satu ruang pendidikan yang memungkinkan nilai-nilai tersebut tumbuh melalui pengalaman langsung.

Seragam Cokelat dan Kacu Merah Putih: Simbol Identitas

Lebih jauh, Kyai Mohammad Yazid mengajak para santri untuk tidak memandang simbol-simbol dalam Pramuka sebagai sekadar atribut. Ia memberikan penekanan khusus pada seragam cokelat dan kacu merah putih yang dikenakan para peserta.

Warna cokelat pada seragam Pramuka, menurutnya, dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa manusia berasal dari tanah dan pada akhirnya akan kembali kepada tanah. Simbol tersebut mengajarkan kesederhanaan dan kesadaran terhadap asal-usul manusia.

Sementara itu, kacu merah putih menjadi simbol identitas kebangsaan. Merah putih mengingatkan setiap anggota Pramuka bahwa mereka merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang lahir dan tumbuh dari bumi Nusantara.

Karena itu, menjadi anggota Pramuka berarti juga memiliki kesadaran untuk mengenal dan menghargai sejarah bangsa.

Kyai Mohammad Yazid mengingatkan para santri agar tidak melupakan tokoh-tokoh perjuangan dan kebudayaan Nusantara, mulai dari Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Cut Nyak Dhien, Raden Kartini, hingga tokoh-tokoh lain yang telah meninggalkan jejak dalam perjalanan bangsa.

Bagi dirinya, mengenal tokoh-tokoh tersebut bukan sekadar menghafalkan nama dalam buku sejarah. Lebih dari itu, para santri perlu memahami nilai perjuangan yang diwariskan sehingga dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan mereka.

Pramuka Santri: Berkarya dengan Nilai Keislaman

Salah satu pesan utama dalam amanat tersebut adalah pentingnya membangun identitas Pramuka Santri.

Kyai Mohammad Yazid menilai bahwa kehidupan santri memiliki dimensi yang lebih luas. Seorang santri tidak hanya memiliki identitas sebagai bagian dari bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai seorang Muslim yang menjadikan tauhid dan nilai-nilai Islam sebagai landasan kehidupan.

“Maka sempurnalah sudah hari ini gerakan Pramuka di pondok-pondok pesantren modern sebagai Pramuka Santri. Bukan hanya Pramuka, tetapi Pramuka Santri.”

Konsep tersebut menyatukan tiga kesadaran penting: sebagai manusia, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, dan sebagai seorang Muslim.

Dengan demikian, aktivitas kepramukaan di pesantren tidak berhenti pada keterampilan teknis seperti baris-berbaris, berkemah, atau kegiatan kelompok. Semua itu menjadi sarana untuk membentuk pribadi yang memiliki tanggung jawab, kedisiplinan, keberanian, kemandirian, kepedulian, dan akhlak.

Pendidikan di Alam Terbuka

Kyai Mohammad Yazid juga menegaskan bahwa salah satu kekuatan pendidikan kepramukaan terletak pada proses pembelajaran di luar ruang kelas.

“Pramuka itu pendidikan di luar kelas. Pramuka itu pendidikan di alam terbuka. Pramuka itu adalah pendidikan yang berkelompok, pendidikan yang harus berdiskusi, pendidikan yang tidak formal.”

Menurutnya, karakter tidak selalu dapat dibentuk melalui pembelajaran teoritis di ruang kelas. Kemandirian, keberanian, kesahajaan, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama membutuhkan pengalaman langsung.

Alam terbuka menjadi ruang pendidikan yang memungkinkan santri menghadapi situasi nyata, bekerja bersama kelompok, menyelesaikan masalah, serta belajar bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Karena itu, gerakan Pramuka memiliki posisi strategis dalam pendidikan pesantren. Ia menjadi pelengkap pembelajaran formal dengan menghadirkan pengalaman yang lebih praktis dan kontekstual.

Menguatkan Tradisi Pramuka di Pesantren

Menutup amanatnya, Kyai Mohammad Yazid menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembina Mabikori, pembina Hisada, koordinator Gerakan Pramuka, serta seluruh petugas upacara yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut.

Ia memberikan penghargaan atas pelaksanaan upacara yang berlangsung tertib dan baik. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh santri yang mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh semangat.

Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido pada akhirnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan Pramuka memiliki akar sejarah, nilai kebangsaan, dan relevansi yang kuat dengan pembentukan karakter santri.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, pesan yang disampaikan dalam upacara tersebut menjadi penting: generasi muda tidak cukup hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi harus menjadi pencipta sejarah melalui karya.

Dengan semangat Praja Muda Karana, para santri Daarul ‘Uluum Lido diharapkan mampu tumbuh sebagai generasi yang mengenal jati dirinya, mencintai bangsa, berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Jaya selalu, sukses selalu Gerakan Pramuka Indonesia. Jaya selalu, sukses selalu Gerakan Pramuka Pesantren Daarul ‘Uluum Lido. Selamat Hari Pramuka ke-65.”